Aug 27, 2014

Komunikasi Pengasuhan Terhadap Anak

Ada yang bilang, “anak itu adalah ‘produk’ orang tua. Apa dan bagaimana jadinya anak kita nanti, yang harus dipertanyakan adalah bagaimana cara orang tua mengasuh dan mendidiknya.” Hmm, rasanya berat banget ya jadi orang tua itu? Selain bertanggung jawab di duniat dan akhirat atas anak-anak kita, nggak lupa juga sejuta harapan yang kita gantungkan di hari depannya nanti. Itu makanya mengasuh dan mendidik anak bukan perkara gampang dan “ah, liat nanti aja.” 

Perlu diingat nih, apa yang kita ajarkan saat ini, saat dia balita akan berefek hingga mereka dewasa. Contoh ya, kalau si kecil terjatuh dan respon kita, memukul lantai sambil bilang, “duh, sakit ya nak? Pukul nih lantainya, nakal ya dia.” Nantinya jangan heran saat si kecil tengah marah dan kesal, dia akan melampiaskannya dengan memukul. Dan saat dewasa, akan terbiasa menyalahkan jika sesuatu yang buruk menimpanya. Kok segitunya ya? Lho, iya. Kan sering kita dengar, pengaruh terbesar dalam kehidupan anak adalah lingkungan terdekatnya yaitu orang tua.

Sayang ya, nggak ada sekolahnya untuk jadi orang tua yang baik, jadi kan untuk hal-hal kecil tapi penting untuk psikologi anak, kita sebagai orang tua bisa cepat tanggap. Tapi bagaimana pun cara pengasuhan kita terhadap anak, pastinya kita ingin yang terbaik dong? Nah, itu sebabnya kita sebagai orang tua harus benar-benar buka mata, pasang telinga dan selalu waspada. Artinya, perbanyak baca, senantiasa mendengar berbagai pengalaman orang lain dan jangan malas ikut berbagai kelas atau seminar parenting. Banyak lho ilmu yang didapat dan pastinya bisa diterapkan pada gaya pengasuhan kita.

Berikut nih salah satunya yang Bunda kutip dari Mommiesdaily saat mengikuti rangkaian seminar dengan Supermoms-id.
Materinya saat itu adalah Komunikasi Pengasuhan Anak. Mungkin banyak yang mikir ya, “ah masa masalah komunikasi dibikin seminar sendiri. Masih kecil gitu loh, anak gue.” atau “masa ngomong aja mesti diatur sih?” Tapi begitu dijembreng sama ibu Elly masalah komunikasi dengan anak ini, langsung banyak mommies (dan para ayah) peserta seminar yang ‘tertampar’. 
Apa saja sih, ini kita catat poin-poinnya :
  • Berbicara dengan terburu-buru, bahkan melakukan segala sesuatu dengan terburu-buru. Banyak mommies (dan ayah) yang berangkat kerja terburu-buru sehingga kalaupun berkomunikasi dengan anak pasti hanya menyuruh dan menyuruh. Kalau yang saya pelajari di ilmu komunikasi sih, yang namanya komunikasi itu dua arah bukan? *plak, tertampar sendiri*

  • Tidak mengenal diri sendiri. Saya mencoba menjabarkan tentang diri saya sendiri, ternyata lebih mudah untuk mencari kekurangan ya daripada kelebihan (apa karena nggak punya kelebihan, hihihi). Ini karena sedari kecil kita dibiasakan melihat atau mendengar yang jelek-jelek, misalnya “Kamu nakal sekali”, “Aduh, bawel banget”, “Anak perempuan kok males”, dst dsb dkk. Dengan mengenali diri sendiri maka rasa percaya diri akan meningkat,   jangan lupa kenali anak dan pasangan juga, dari situlah komunikasi akan terbuka.

  • Setiap pribadi itu unik dan berbeda. Ini penting banget, kita kalau dibandingkan sama teman kantor atau ipar pasti sebel kan? Nah, begitu juga anak loh! Jangka panjangnya, anak akan menjadi krisis identitas (atau malah over kompetitif) karena dibanding-bandingkan terus yang membuatnya tidak bisa mengenali dirinya sendiri sejak kecil.

  • Bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Yah, yang ini mirip-mirip sama kalau mommies naksir tas atau sepatu kali ya, hihihi. Ini mah kasus saya sendiri deh, setiap malam itu pasti kaya orang berantem kalau nidurin anak. Saya ingin si anak untuk tidur cepat karena besoknya ada acara keluarga, sementara si anak ya butuh main-main dan main karena memang anak-anak butuh main.

  • Baca bahasa tubuh anak. Kalau anak lagi lari-lari terus jatuh, yang umum sih suka kelepasan ya ngomong “tuh kan, ibu bilang apa? Makanya jangan lari-larian!” Padahal bahasa tubuh anak sudah menunjukkan bahwa ia kesakitan, butuh dipeluk ditenangkan ya, bukan dimarahi. Komunikasi Pengasuhan Anak Bahasa tubuh seseorang (bahkan kita juga) nggak akan bisa bohong. Karena bahasa tubuh itu terbentuk dari perasaan seseorang terhadap sesuatu. Kata ibu Elly, baca bahasa tubuh anak dulu, maka kamu bisa memahami/ mendengarkan perasaannya. Ada 12 gaya bahasa popular turun temurun yang kerap dilontarkan orangtua pada anaknya, baik sengaja maupun tidak sengaja. Dibawah ini ceritanya situasi anak lagi lari-larian terus jatuh. Nah, yuk kita contreng mana saja yang mommies lakukan ya, hehehe…

Memerintah, “Jangan lari-larian dong!”
Menyalahkan, “Tuh kan jatuh, lagian nggak bisa diem banget sih.”
Meremehkan, “Masa gitu saja nangis?”
Membandingkan, “Tuh lihat si A nggak nangis loh!”
Mencap/ memberikan label, “Kamu nakal sih.”
Mengancam, “Nangisnya sudah dong, nanti ibu panggilin dokter nih biar disuntik.”
Menasehati, “Makanya omongan orangtua itu didengerin.”
Membohongi, “Dipakein obat ini nggak sakit kok.”
Menghibur, “Nggak apa-apa kok, besok juga sembuh lukanya.”
Mengkritik, “Kamu pake sendalnya yang itu sih, kan licin pantesan saja jatuh.”
Menyindir, “Ini akibatnya kalo nggak dengerin orangtua, kualat kan.”
Menganalisa, “Gimana nanti kalo udah gede coba, pasti susah dibilangin."
  • Bedakan masalah siapa. Misalnya, anak menelpon kerumah karena PR-nya ketinggalan. Apakah mommies mengantarkan PR atau tidak? Pahami ini masalah siapa, kenapa anak bisa ketinggalan buku PR-nya? Jika kita mengantarkan bukunya, sama saja kita tidak mengajarkan tanggung jawab karena PR kan berarti tanggung jawab anak, bukan kita. Bukan berarti jahat loh moms, tapi anak harus belajar mandiri dan bisa mengambil keputusan sendiri, karena kita tidak akan hidup selamanya untuk mendampingi anak.

  • Sampaikan pesan SAYA, bukan KAMU. Misalnya anak nggak mau makan, biasanya yang akan terucap adalah, “kamu makan dong, nanti sakit, laper, blablabla...” kita ubah jadi gini saja moms, “Ibu sedih/kesal/sebel deh, kalau kamu nggak makan”. Dengan perubahan susunan kalimat ini, anak tidak merasa disalahkan atas kelakuannya, tapi akan tau bahwa tindakan nggak mau makannya ini membuat si ibu sedih/kesal/sebal.

  • Dengarkan anak secara aktif. Beruntung saya punya ibu yang mau mendengarkan saya, makanya ibu bagi saya juga sekaligus seorang teman curhat. Mudah-mudahan saya bisa seperti itu sampai nanti anak-anak dewasa. 

Demikian share artikel hari ini semoga bermanfaat.




shared at WhatsApp family 2b WOW chapter 22
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

No comments:

Post a Comment