Jan 3, 2015

Renungan Awal Tahun

Puisi W.S. Rendra menjelang akhir hayatnya :

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya :
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, 
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas, 
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua “derita” adalah hukum bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku. 
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku” dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

*)Puisi ini ditulis waktu dirawat di Rumah Sakit oleh W.S. Rendra menjelang kematiannya.           
Selamat merenungkannya sahabat. Semoga kita selalu menjadi pribadi yang lebih baik.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Biodata Manusia Idola terbaik, Termulia dan Terfaforit Di Dunia dan akhirat

بِسْــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Manusia itu bernama NABI MUHAMMAD SAW.
Berikut biodata beliau :

GELAR
  1. Rasulullah
  2. An-Nabi
  3. Khootamul Anbiyaa’ wal Mursaliin
  4. Al-Mushthofaa
  5. Al-Amiin
  6. Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (Sholawat dari Allah dan salam atas-Nya)

KUN-YAH : Abal Qasim
NAMA : Muhammad Bin Abdulloh

NASAB :
  • Jalur Ayah : Abdulloh bin Abdul Muttholib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushoy bin Kilaab bin Murroh bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghoolib bin Fihr bin Maalik bin An-Nadhr bin Kinaanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyaas bin Mudhor bin Nizar bin Ma’ad bin Adnaan bin Isma’iil bin Ibrohiim
  • Nenek dari jalur ayah : Faathimah binti Amr Al Makhzuumiyyah
  • Jalur Ibu : Aminah binti Wahb bin Abdu Manaaf bin Zuhroh bin Kilaab.
  • Nenek dari jalur ibu: Barroh binti abdil ‘uzza

NISBAH : Al-Makki (Makkah)
LAHIR : Makkah, 12 Robii’ul Awwal 52 S.H (Tahun gajah) / 22 April 571 M)
DIUTUS MENJADI RASUL : saat berumur 40 tahun saat beribadah di gua hiro
HIJRAH KE MADINAH : pada bulan Robii’ul Awwal saat berumur 53 tahun
MENJADI PANGLIMA PERANG SEBANYAK : 27 kali dan mengutus pasukan perang sebanyak ± 56 kali

HAJI : 1 kali
UMROH : 4 kali
WAFAT : Madinah, senin 12 Robii’ul Awwal 11 H/ (632 M) (genap 63 tahun).
DIMAKAMKAN : Di Rumah Sy Aisyah, di kompleks Masjid Nabawi
ETNIS : Arab, suku Quraisy, bani Hasyimiyah

UMMAHATUL MU’MINIIN (Para Istri Nabi) :
  1. Khoodijah binti Khuwailid,
  2. Saudah binti Zum’ah,
  3. Aisyah binti Abu Bakar,
  4. Hafshoh binti Umar,
  5. Zaynab binti Khuzaymah,
  6. Hindun binti Abi Umayyah,
  7. Zaynab binti Jahsy,
  8. Juwayriyah binti Harits,
  9. Romlah binti Abu Sufyan,
  10. Shoofiyah binti Huyay,
  11. Maymuunah binti al-Harits,
  12. Mariah binti Syam’un

ANAK-ANAK NABI :
  1. Al-Qoosim,
  2. Abdulloh,
  3. Zainab,
  4. Ruqoyyah,
  5. Ummu Kultsuum,
  6. Faathimah,
  7. Ibrohim





shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Jan 2, 2015

Belajar Konsep Rezeki Dari Penjual Rujak

Hari ini hujan mulai jam 9 pagi, seorang tukang rujak numpang berteduh di teras ruko. Beliau saya pinjamkan tempat duduk dari dalam toko. Masih penuh gerobaknya dengan buah-buah tertata rapi. Kulihat dari dalam toko beliau membuka buku kecil. Rupanya sebuah Al-Qur'an. Beliau begitu tekun dengan Al-Qurannya. Sampai jam setengah 11 hujan tak kunjung berhenti. Saya mulai risau karena sepi pembeli. Saya keluar sekadar memberikan air minum kemasan dan beberapa butir kurma. Tidak ada sedikitpun raut gelisah terlihat di wajahnya.
“Kalau musim hujan jualannya repot juga ya, Pak. ” Kataku sambil menatap gerobaknya. “Masih banyak banget.”
Beliau tersenyum, “Iya bu. Mudah-mudahan ada rejekinya.” jawabnya.
“Aamiin,” kataku.
“Kalau gak abis gimana, Pak?” tanyaku penuh iba.
“Ya... Kalau gak abis ya risiko, Bu. Kalau yang gak bisa sampai besok kayak semangka, melon yang udah kebuka ya kasih ke tetangga juga seneng dari pada kebuang. Kalau kayak bengkoang, jambu, mangga yang masih bagus bisa disimpan. Mudah-mudahan aja dapet nilai sedekah,” katanya tersenyum.
“Kalau hujan terus sampai sore gimana, Pak?” tanyaku lagi.
“Ya Alhamdulillah bu. Berarti rejeki saya hari ini diizinkan banyak berdoa dan meminta sesuatu sama Allah. Kan kalau hujan waktu mustajab buat berdoa bu.” Katanya sambil tersenyum. “Dikasih kesempatan berdoa juga kan rejeki, Bu.”
“Terus kalau gak dapet uang gimana, Pak?” tanyaku lagi.
“Berarti rejeki saya bersabar, Bu. Allah yang ngatur rejeki, Bu. Saya bergantung sama Allah. Apa aja bentuk rezeki yang Allah kasih ya saya syukuri aja. Tapi Alhamdulillah, bertahun-tahun saya jualan rujak belum pernah sampai kelaparan." “Pernah gak dapat uang sama sekali, tau tau tetangga ngirimin makanan. Kita hidup cari apa Bu, yang penting bisa makan biar ada tenaga buat ibadah dan usaha,” katanya lagi sambil memasukan Al-Qur'annya ke kotak di gerobak.
“Mumpung hujannya rintik, Bu. Saya bisa jalan. Makasih yaa ,Bu.” katanya sambil menutup badannya dengan plastik dan membuka payung yang menempel di gerobaknya.
Saya terpana. Betapa malunya saya, dipenuhi rasa gelisah ketika hujan datang, begitu khawatirnya rezeki materi tak didapat sampai mengabaikan nikmat yang ada di depan mata. Tiba-tiba hati yang tadinya gundah menjadi ceria, mumpung masih hujan. Masih ada kesempatan dapat berdoa di waktu mustajab. 




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Sifat Orang Munafik [Tafsir QS Al-Baqarah : 11 - 14]

Abdullah bin Ubay bin Salul. Sosok pemimpin yang dipandang mulia di mata kaumnya, tetapi tidak demikian di mata Muslimin. Kenapa? Siapa yang tidak kenal dengan sikapnya yang munafik.

Bangga terhadap diri sendiri dan merasa aman untuk melakukan apa yang mereka inginkan. 
Firman Allah pada surat Al Baqarah ayat 11 :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُون 
"Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan"."
Tidak hanya berbuat dusta, akan tetapi membanggakan diri dengan tindakan fasik mereka
"...Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan""
Menurut Ibnu Mas'ud :
Al fasad -kerusakan- di atas muka bumi ialah kekufuran dan melakukan maksiat. Maka barangsiapa bermaksiat kepada Allah maka dia telah melakukan kerusakan di muka bumi. 

قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُون
Menurut Baidhawi :
Kerusakan yang mereka lakukan digambarkan sebagai satu kebaikan. Ini disebabkan karena hati mereka sedang sakit. Sakit dari melihat kebenaran sehingga mereka tidak menyadarinya. Orang-orang yang hatinya tidak ikhlas karena Allah, tidak dapat merasakan adanya kerusakan pada amal perbuatan mereka. Maka firman Allah dalam ayat 12 :
أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ
"Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar."
Di antara sifat mereka lagi adalah : Sombong dan merasa lebih tinggi kedudukannya daripada manusia lain. Ini jelas dinyatakan dalam ayat 13:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ
"Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman". Mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu."
"Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?"
Kenapa mereka mengucapkan perkataan sedemikian? Jelas disini menunjukkan sikap mereka yang sombong. Mereka beranggapan, bahwa Rasulullah khusus untuk orang-orang miskin saja dan tidak layak untuk orang yang terhormat seperti mereka. Allah membalas : "Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu."  Memang, kapankah orang bodoh itu mengerti bahwa dirinya bodoh?

Kemudian, sifat terakhir orang munafik adalah : Melakukan perbuatan tercela, dan persengkokolan. Hal ini dinyatakan pada ayat ke-14:
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُون 
"Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok"."
Orang munafik ini suka bertindak secara sembunyi-sembunyi dan tidak berani berhadapan secara terang-terangan. Mereka berpura-pura beriman dengan orang Mukmin, karena rasa takut mereka, dan apabila mereka bertemu dengan 'setan-setan' mereka, mereka mengatakan hal yang sebaliknya.
"Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok."

Semoga Allah melindungi kita semua agar tidak termasuk ke dalam golongan mereka yang munafik. Wallahu'alam bishshowwab.
Sumber: 
1. Tafsir fi zilal Quran : Said Quthb
2. Sofwatut tafasir : Muhammad Ali As-Sobuni
Penerjemah : Ezzah Syahira




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Cerita Pagiku

Aku tak tahu bagaimana awalnya aku ada di sana, di sebuah acara -semacam syukuran- yang diselenggarakan oleh  salah satu teman laki-lakiku..
Aku dan teman-temanku sedikit menjauh dari para tamu undangan yang lain, kami bercanda, tertawa riang menceritakan cerita hidup masing-masing..
Tiba-tiba ada perasaan yang kurang lengkap hadir dalam benakku, ada seseorang yang seharusnya ada di sana tapi sejauh mata memandang tak kulihat sosok yang aku harapkan..
Ruang hampa pun muncul seketika dalam relung hatiku, aku inginkan kehadirannya di sana..

Kehampaan berlangsung cukup lama..
Kegusaran pun melanda..
Aku ingin ia segera ada di sini, mengobati rasa rinduku dan menghapus kehampaan dalam hatiku..

Di saat diri ini mulai pasrah tidak akan bertemu dengannya..
Sejenak kemudian, kulihat seseorang yang datang dari kejauhan..
Sekian lama ku memandang, harapanku cukup besar bahwa seseorang itu adalah dia yang kunanti..
Semakin lama aku melihat, sosok yang mendekat itu bukanlah sosok yang kuinginkan, tapi perasaanku masih berkata bahwa sosok itu adalah dia..
Sampailah sosok itu ada di depanku, aku pun masih tak percaya jikalau dia bukanlah dia yang kunanti..
Aku masih terlalu berharap bahwa dia yang kunanti masih berjalan, jauh di belakang sosok yang tadi..

Cukup lama ku menanti kehadirannya, tapi tak sedikitpun bayangannya muncul di hadapanku..
Kemudian, kesadaranku memanggil, membangunkanku dari lamunan panjang, mengabarkan kenyataan bahwa dia yang kunanti tak akan pernah datang sampai kapanpun..

Aku bersimpuh, tak percaya akan menelan pahitnya rasa rindu untuk kesekian kalinya..


~in my lovely room~

Jan 1, 2015

Muhasabah di Ujung Penantian

Seiring denyut nadi kehidupan yang terus mengalir,
semua tetap dalam skenario-Nya yang indah.
Hamba yang berselimut malu, berhiaskan noda,
selalu bertanya masih adakah waktu untukku Ya Rabb?

Aku ingin seperti indahnya kupu-kupu yang bermetamorfosis.
Anggun nan menawan.
Tapi mungkinkah?

Tertundukku dalam rasa malu mengibas lembar-lembar perjalanan masa silamku,
serasa kuasa itu hilang di ujung penantian.
Lenyap dalam kesibukan duniawi.
Lepas bersama lantunan syair yang menderu.
Terkubur bersama angan yang menghias awan.
Ya Rabb masih adakah kesempatan itu?

Saudaraku...
Kini Dipenghujung penantian, di pergantian tahun, akankah esok hari kita jelang?
Masihkah kaki ini sanggup menapak jalan kebenaran?
Sanggupkah mata ini menerima kenyataan?
Atau telinga ini mendengar penuh kesabaran?

Ya Rabb semua ada di tangan Mu?
Ijinkan hamba berjuang meraih kesyahidan di ujung penantian.
Ijinkan hamba merenda ikhtiar menata hati mengisi jiwa,
agar hamba teguh menapaki masa depan dalam penuh penghambaan.

Sahabat di ujung penantian
"Hisablah dirimu sebelum kalian dihisab dihadapan Allah kelak" 
(Umar bin Khattab)
-Umar Hidayat dan Affandy Mohammad-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Sholat Dhuha = Hutang Kepada Allah

Ada yang tahu gak kalau dhuha itu hutang kita ke Allah? 
Hutang 2 rakaat sehari. Yang kalau gak dibayar, maka numpuk. 

Loh loh, kan sunnah?
Betul, dhuha emang sunnah. Tapi sunnah muakkadah. Sunnah yang teramat penting. Yang kalau ditinggal, ya ada juga “resiko”nya. Sunnah muakkadah kalau ditinggal dalam waktu yang lama, tidak dijalankan dalam waktu yang lama, sangat negatif ke kualitas kehidupan dan rizki.

Gini ya, kenapa saya sebut sebagai hutang? Dalam 1 hari, sejak awal pagi, sampe pagi lagi, kita itu sesungguhnya kudu sedekah tanpa putus. Tiap sendi kita, dituntut sedekahnya. Kudu bayar. Ya iya lah. Untuk oksigen tambahan aja, kita kudu bayar. Mahal banget. Kalo anfal. Nah, apalagi oksigen yang kita hirup, free 24 jam. Ternyata gak bener kan free itu. Kudu bayar. Dituntut sedekahnya. Belom lagi mata, dll. Pokoknya kudu bayar. Dan gak bakalan kebayar. Siapa juga yang mampu bayar semua rizki dan nikmat Allah? Sistem pernafasan yang komplit, sistem pencernaan, sistem penglihatan, pendengaran, dan semua tubuh kita adalah keajaiban-Nya. 

Ini semua Allah adakan sedekah atas-Nya. Kitanya aja yang merasa free-free aja. Bebas2 aja. Gak ada tanggung jawab, gak ada beban, gak ada kewajiban. Padahal gak gitu. Nyatanya tidak sedikit nikmat yang Allah kurangi, bahkan Allah cabut. Sebab di antaranya kitanya gak atau kurang bersyukur. Terus persoalannya, kalau bayar, dari pagi sampe pagi, atas semua rizki yang Allah kasih, harus bayar berapa? Gak ada yang sanggup bayar. Dan Allah maklum itu. Gak bakalan ada yang bisa bayar atas semua rizki dan nikmat-Nya. Karena itu Allah cukupkan bayarannya dengan dhuha. Allah cukupkan kewajiban kita bayar kepada Allah, dengan dhuha 2 rakaat di pagi hari. Subhaanallaah, baik ya? Tukerannya Maha Ringan. Ya. Harusnya Maha Ringan. Gak ada bandingannya 2 rakaat dengan kewajiban bayar 1 hari POL rizki dan nikmat Allah. 

Mestinya, dan itu sekaligus memberi pemahaman kepada kita, betapa besarnya dhuha itu. Nilainya sebanding dengan seluruh bayaran Allah atas makhluk-Nya. Begitulah. Dhuha 2 rakaat, menjadi bayaran kita kepada Allah. Allah mencukupkan diri-Nya “dibayar” oleh kita, dengan tambahan dhuha 2 rakaat di pagi hari. Luar biasa. Tentunya, itu kalau syarat minimal, dipenuhi dan terpenuhi juga. Yakni soal shalat 5 waktunya tertib, bagus, tepat waktu, jamaah di masjid. Artinya, kalau dhuhanya cakep, trus shalat fardhunya gak cakep, ya tentu “bayaran” itu akan kurang juga dan akan ada yang diambil oleh Allah.
-Ustadz Yusuf Mansur-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee