Showing posts with label Soul. Show all posts
Showing posts with label Soul. Show all posts

Dec 21, 2014

Wahai Jiwa-Jiwa Yang Tenang

Wahai saudaraku yang semoga selalu dalam lindungan-Nya, saatnya kita harus tersadar bahwa yang dibutuhkan setiap manusia kelak di akhirat adalah panggilan Allah :
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ # ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً # فَادْخُلِي فِي عِبَادِي # وَادْخُلِي جَنَّتِي
Maka bagaimana jika kita membayangkan dihari itu, Allah memanggil kita dengan panggilan "wahai jiwa yang tenang", kemudian Allah meminta kita untuk kembali kepada-Nya dengan penuh ridho dan bahagia, kemudian Allah kembali menyeru "masuklah engkau ke dalam golongan-Ku dan masuklah engkau ke dalam surga-Ku."

Jika kita teringat ayat ini dan ingin mendapatkan panggilan ini, maka tentunya kita akan senantiasa mendahulukan Allah, karena hanya Allah lah yang kelak akan memanggil hamba-hambanya, Allah diatas segalanya. Dan hal itu akan terwujud dengan mengamalkan salah satu ayat-ayat cintanya,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Maka brg siapa yg mengharap perjumpaan dengan Rabbnya (Allah), hendaklah mereka beramal sholih dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun"
(QS. Al-Kahfi : 110)
Ibnu Abbas menjelaskan makna amal sholih adalah amal ibadah yang sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasalam dengan tanpa menambah atau menguranginya karena ajaran beliau telah disempurnakan oleh Allah (Al Maidah :3). Sedangkan tidak menyekutukan Allah bermakna Ikhlas dalam beribadah hanya tertuju kepada Allah semata. 

Dua hal ini adalah syarat mutlak diterimanya amal ibadah kita. Karena ikhlas saja tidak cukup untuk amal kita diterima Allah selama ibadah kita menyelisihi petunjuk Nabi, begitu juga sebaliknya sesuai petunjuk Nabi-pun tidak akan bisa mengantar amal kita diterima Allah selama tidak ada ikhlas di dalamnya. 

Sudahkah keduanya terkumpul dalam setiap ibadah kita?? Inilah yang harus menjadi sebuah pertanyaan besar jika kita ingin mendapatkan panggilan Allah "Wahai jiwa-jiwa yang tenang."

Wallohu'alam bishowab.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Nov 28, 2014

Syifa' Qolbun

Sahabat fillah,
Kita telah hidup di bawah karunia kenikmatan Al Qur'an yg agung. Bernaung dibawahnya, menempuh jalannya, berjuang istiqomah tilawah bersama ODOJ.
“Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi Obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada. orang-orang yang zalim selain kerugian.” 
(QS. Al Isra : 82)
Sahabat fillah,
Rasa manisnya Al Qur'an tergantung tingkat keimanan kita, ada yang mampu menyelami maknanya hingga bisa kuasai dirinya, ada yang mampu menyampaikan hingga kalimatnya begitu indah, ada yang jadikan sebagai muatan rohani hingga bisa hadapi lika-liku zaman hingga kaya dengan perasaan baik, hatinya pun kaya dengan insting tajam, benaknya penuh makna yang mulia.

Bahkan,
Dr. Al Qadhi dan seorang Penulis melalui penelitiannya di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Al Qur'an, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Al Qur'an berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.

Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al Qur'an terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.

Jika hati mengeras, perlunak dengan  Al Qur'an. Jika tidur sanubari kita, bangunkan dengan Al Qur'an. Obat hati ada lima perkaranya :
Yang pertama baca Al Qur'an dan maknanya
Yang kedua sholat malam dirikanlah
Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh
Yang keempat perbanyaklah berpuasa
Yang kelima dzikir malam perbanyaklah
Yakinlah Kita akan disembuhkan. Yakinlah kita akan selalu sehat. Semoga kita diberikan kesehatan. Baik jasmani maupun rohani.
-Affandy Mohammad-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Nov 15, 2014

Hentakkan Jiwamu

Kadang, ada saatnya dalam hidup ini kita tidak lagi membutuhkan cara-cara gradual untuk meraih kebaikan, atau menghindar dari keburukan. Karena, perbedaan yang tipis antara menempuh cara gradual untuk melakukan perbaikan, dengan tabaathu’ (keengganan), takaasul (kemalasan) dan taswiif (menunda-nunda), sering menjadi celah bagi setan untuk menghalangi seseorang dari langkah-langkah kebaikan dengan alasan bertahap dalam melakukannya.

Ya, ada saatnya kita membutuhkan hentakan jiwa untuk keluar dari perangkap setan yang menghalangi kita untuk mengambil langkah tegas, cepat dan tepat dalam melakukan kebaikan. Karena, sedikit saja kita tunda langkah tersebut dengan berbagai alibi, disanalah setan masuk, mengulur-ngulur waktu lebih lama sambil memberi janji-janji manis penuh pesona, lalu menggiring pada kesesatan yang nyata.

Ketika azan telah berkumandang, sementara kita masih tertidur lelap serasa malam masih panjang, atau tenggelam dalam kesibukan kerja bak pejuang, saat itu kita perlu hentakan untuk menggerakkan jiwa menyambut panggilan Tuhan, menghadap-Nya dengan jiwa yang tenang.

Ketika jadwal mengaji sudah tiba gilirannya, sementara kita sedang asyik bercengkerama dengan keluarga, bercanda dengan kolega, menyalurkan hobi yang disuka, menghadiri undangan tetangga, atau asyik berselancar di dunia maya, saat itu kita perlu hentakan untuk menggerakkan hati, memenuhi agenda jiwa, menunaikan janji membina diri menuju takwa.

Ketika batang demi batang rokok tidak juga dapat kita tinggalkan, janji untuk menghentikannya sudah berkali-kali dinyatakan, berbagai terapi sudah dipraktekkan, saat itu kita butuh hentakan jiwa, tinggalkan total hingga tak tersisa dan hapuskan rokok dari ingatan saat itu juga.

Ketika bayang-bayang ‘si dia’ begitu menggoda, senyumannya selalu terbayang di pelupuk mata, ucapannya indah terdengar bagaikan kata-kata mutiara, bayang-bayangnya selalu hadir saat bekerja, beribadah dan dimana saja, berpindah-pindah antara satu ‘zina’ ke ‘zina’ berikutnya. Saat itu, perlu hentakan jiwa. Hapuskan ‘file’ tentang ‘si dia’ dalam pikiran dan perangkat lainnya, atau segera menikah, agar ekspresi cinta tersalurkan dengan halal dan penuh mesra.

Dahulu, kala perang Mu’tah yang sangat heroik, ketika satu demi satu panglima perang kaum muslimin gugur, timbul sedikit kegentaran pada diri Abdullah bin Rawahah, sahabat mulia yang dikenal ahli sastra. Namun dia tidak ingin terpenjara oleh jebakan setan durjana. Segera dia hentakan jiwanya untuk turun ke arena, seraya bersenandung penuh makna.

Aqsamtu billahi ya nafsu latanzilinnah
Latanzilinnah aw latukrahinnah
Wa qad ajlabannasu wasysyaddu rannah
Maalii araaki takrahiinal jannah

Aku bersumpah! 
Wahai jiwa, engkau harus turun perang
Engkau harus turun, atau kalau tidak, engkau akan dipaksa
Orang-orang sudah turun, perang sengit bergemerincing
Mengapa ku lihat engkau tidak menyukai surga?

Tak lama kemudian, Abdullah bin Rawahah sudah termasuk barisan syuhada. 

Ramadan adalah kesempatan emas untuk melakukan berbagai hentakan jiwa menuju takwa, meraih pahala, menanggalkan dosa, berharap mendapatkan kucuran rahmat, ampunan dan surga. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
-Riyadh, Abdullah Haidir-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee