Showing posts with label Sahabat Rasulullah. Show all posts
Showing posts with label Sahabat Rasulullah. Show all posts

Jan 11, 2015

Inilah Sedekahnya Para Sahabat Nabi

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang mulia yang Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya. Mereka adalah orang-orang yang menggabungkan ilmu dan amal dalam kehidupannya, mereka mengorbankan harta dan jiwa untuk Islam dan kaum muslimin. Oleh karena itu, merekalah tauladan kita setelah para Nabi dan Rasul. Di antara teladan yang mereka berikan kepada kita adalah keteladanan dalam bersedekah. Demi Islam dan kaum muslimin, harta yang mereka yang mereka miliki seolah-olah tak berarti. 

Sebanyak apapun yang dibutuhkan untuk Islam dan kaum muslimin akan mereka berikan sesuai dengan apa yang mereka miliki. Bersamaan dengan itu, sedekah tersebut memiliki kualitas keikhlasan yang tak tertandingi. Semoga Allah meridhai mereka. Berikut ini di antara sedikit dari amalan sahabat Nabi dengan keadaan zaman mereka yang sulit dan kemampuan finansial mereka yang masih terbatas.

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu
Ketika Abu Bakar radhiallah ‘anhu berkeinginan membebaskan Bilal radhiallah ‘anhu dari perbudakan, Umaiyah bin Khalaf mematok harga 9 uqiyah emas. Dan dengan segera Abu Bakar radhiallah ‘anhu langsung menebusnya.
1 uqiyah emas = 31,7475 gr emas
285,73 gr x Rp 400.000,00 = Rp 114.291.000,00

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu
Di dalam Kitab Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih, karangan Ibnu Abdil Barr, menerangkan bahwa Umar radhiallah ‘anhu telah mewasiatkan 1/3 hartanya (untuk kepentingan Islam) yang nilainya melebihi nilai 40.000 (dinar atau dirham), atau totalnya melebihi nilai 120.000 (dinar atau dirham). 
Jika dengan nilai sekarang, setara dengan) 510.000 gr emas = Rp 204.000.000.000,00

Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu
Saat Perang Tabuk, beliau menyumbang 300 ekor unta,
300 ekor unta x Rp 12.000.000,00 = Rp 3.600.000.000,00
serta dana sebesar 1.000 Dinar Emas
1000 dinar x 4,25 gr = 4250 gr x Rp 400.000,00 = Rp 1.700.000.000,00
Ubaidullah bin Utbah memberitakan, ketika terbunuh, Utsman radhiallah ‘anhu masih mempunyai harta yang disimpan penjaga gudangnya, yaitu: 30.500.000 dirham dan 100.000 dinar

Di zaman Rasul perak memiliki kekuatan beli yang sangat tinggi
595 gram perak = 85 gram emas
100.000 dinar x 4,25 gr = 425.000 gr emas x Rp 400.000,00 = Rp 170.000.000.000,00
30.500.000 dirham x 85/595 = 4.357.143 dinar x 4,25 gr = Rp 18.517.857,8 x Rp 400.000,00
Rp 18.000.000 x Rp 400.000 = Rp 7.200.000.000.000,00 (Rp 7,2 Triliun)

Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu
Ketika menjelang Perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf mempelopori dengan menyumbang dana sebesar 200 Uqiyah Emas.
1 uqiyah emas = 31,7475 gr emas
200 uqiyah x 31,7475 gr emas = 6.349,5 gr x Rp 400.000,00 = Rp 2.539.800.000,00

Menjelang wafatnya, beliau mewasiatkan 50.000 dinar untuk infaq fi Sabilillah
100.000 dinar x 4,25 gr = 425.000 gr emas x Rp 400.000,00 = Rp 170.000.000.000,00
50.000 dinar = 85.000.000.000,00

Ini baru satu amalan dari sekian banyak sedekah lainnya yang mereka lakukan, belum lagi amalan selain sedekah. Inilah upaya mereka berniaga dengan Allah Ta’ala, membeli surga-Nya yang mahal harganya. Bagaimana dengan kita? Semoga kita memiliki semangat berniaga yang tinggi kepada Allah SWT.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Jan 9, 2015

Apa Kiranya Perasaan?

Apa kiranya perasaan Ash Shiddiq saat Nabi Muhammad SAW bersabda, "Andai kuambil kekasih di antara insan ; pasti kujadikan Abu Bakr sebagai Khalilku"?

Apa kiranya perasaan Umar, saat dia berpamit 'umrah dan Nabi Muhammad SAW bersabda padanya, "Jangan lupakan kami dalam doamu duhai saudara tersayang"?

Apa kiranya perasaan Utsman saat membekali pasukan Tabuk dan Nabi Muhammad SAW bersabda, "Tiada bahayakan 'Utsman apapun yang ia lakukan setelah ini"?

Apa kiranya perasaan Ali kala Nabi Muhammad SAW bersabda, "Hanyasanya kedudukanmu di sisiku laksana Harun di sisi Musa, tapi tiada Nabi sesudahku"?

Apa kiranya perasaan Thalhah saat Nabi Muhammad SAW bersabda, "Siapa yang ingin melihat syahid yang masih berjalan di atas bumi, lihatlah Thalhah"?

Apa kiranya perasaan Az Zubair saat Rasulullah bersabda, "Setiap Nabi memiliki Hawari, dan Hawariku adalah Zubair ibn Al 'Awwam"?

Apa kiranya perasaan Abu 'Ubaidah saat Nabi Muhammad SAW bersabda, "Setiap ummat memiliki Amin, dan orang kepercayaan ummat ini adalah Abu 'Ubaidah"?

Apa kiranya perasaan Abdurrahman ibn 'Auf saat dirinyalah dimaksud oleh sabda Nabi Muhammad SAW kepada Khalid ibn Al Walid, "Jangan cela sahabatku.. ..Demi Allah andai kalian berinfak emas seberat gunung Uhud; hal itu takkan menyamai shadaqah segenggam atau setengah genggam tepungnya."

Apa kiranya perasaan Sa'd ibn Abi Waqqash saat Nabi Muhammad SAW bersabda, "Panahlah duhai Sa'd, panahlah! Ayah dan Bundaku sebagai tebusan bagimu"?

Apa kiranya perasaan Mu'adz ibn Jabal, di saat Rasulullah bersabda padanya, "Wahai Mu'adz, demi Allah, aku benar-benar mencintaimu"? 

Apa kiranya perasaan Ibn 'Abbas, saat Nabi Muhammad SAW merengkuh dan mencium kepalanya lalu berdoa, "Ya Allah faqihkan dia dan ajarkan tafsir padanya"?

Apa kiranya perasaan Ubay ibn Ka'b, saat Nabi Muhammad SAW berkata padanya, "Allah memerintahkanku tuk membacakan Surat Al Bayyinah ini kepadamu" hingga dengan wajah berseri-seri dia bertanya, "Ya Rasulallah; benarkah Allah menyebut namaku kepadamu?" dan Nabi Muhammad SAW menjawab, "Benar!"?

Apa kiranya perasaan Abu Musa Al Asy'ari, di saat Nabi Muhammad SAW bersabda, "Esok datanglah menjumpaiku, aku ingin mendengarkan bacaan Qur'an-mu"?

Apa kiranya perasaan Aisyah, saat Nabi Muhammad SAW menyebut namanya tanpa ragu di urutan pertama, kala ditanya 'Amr siapakah yang paling dicintai?

Apa kiranya perasaan Ibn Mas'ud, kala betis kecilnya ditertawakan; maka Nabi Muhammad SAW bersabda, "Betis itu di sisi Allah lebih berat dari Uhud"?

Apa kiranya perasaan Ukasyah, saat disebut 70.000 orang masuk ke surga tanpa hisab dan Nabi Muhammad SAW berkata, "Engkau termasuk di antara mereka"?

Apa kiranya perasaan Bilal ibn Rabah, saat Nabi Muhammad SAW bersabda, "Ceritakan padaku hai Bilal, 'amal apakah yang paling kau jaga dalam Islam sebab sungguh aku mendengar bunyi terompahmu di surga?", lalu dia menjawab tersipu, "Menjaga wudhu' dan dua raka'at syukur atas wudhu'"?

Apa kiranya perasaan orang-orang Anshar, di kala Nabi Muhammad SAW bersabda, "Jika manusia memilih jalan melalui sebuah lembah, sedang kaum Anshar mengambil suatu celah, niscaya aku turut serta di celah yang dilalui para Anshar. Ya Allah rahmatilah Anshar dan anak-cucu kaum Anshar"?

Apa kiranya perasaan para sahabat semuanya, yang mereka berjumpa Nabi Muhammad SAW pada petang dan pagi, berjalan mengiringi, beroleh senyum dan doanya? Yang lebih penting dan jelita dari itu semua; bagaimana dengan kita? Apa kiranya perasaan kita saat kelak bertemu Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya? Adakah Nabi Muhammad SAW kan bersabda, "Kaliankah orangnya, yang telah membuatku menangis karena rindu, yang telah membuat para sahabatku cemburu"? "Kaliankah orangnya; yang beriman kepada apa yang kubawa meski kita tak berjumpa; yang mengucap shalawat atas namaku meski tak bertemu?" Ini kami Ya RasulaLlah; yang rindu tapi malu, membaca shalawat dengan lidah kelu; adakah kami layak jadi ummatmu, dan beroleh syafaa'atmu?

Ya Allah, limpahkan shalawat pada Muhammad SAW, sampaikan salam kami padanya. Pula ridha-Mu atas semua sahabat; jadikan kami bersama mereka. Bagian dari mereka. Aamiin.

Teduh hati membaca sirohmu selepas berpanas-panas ria. Ayo semangat beraktifitas sholehah. Rindu Muhammadqu. Semoga bermanfaat




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Jan 6, 2015

Bedanya Galau Kita dan Galaunya Sahabat Nabi

Tsa’labah bin Abdurrahman RA pernah secara tidak sengaja melihat wanita Anshar yang mandi. Ia merasa sangat berdosa, malu kepada Nabi dan mengasingkan diri ke gunung selama 40 hari. Ia terus menerus minta ampun kepada Allah. Sedangkan kita? Setiap hari, wanita di sekeliling kita mengumbar aurat ada di mana-mana. Di kantor, di Mall, di televisi, di mana-mana. Apakah kita meminta ampun kepada Allah? Nabi Muhammad merasa kehilangan dia. Sampai Allah menunjukkan gunung tempat bersembunyinya. Nabi meminta Umar RA dan Salman RA untuk menjemputnya.

Tsa’labah masih malu, dia mau ke Madinah kalau Nabi sedang sholat sehingga dianggap tidak menyadari kedatangannya. Iapun sampai sakit keras karena galau takut akan dosanya melihat wanita mandi, walupun tak sengaja.

Sebelum sakit Nabi SAW memberikan amalan buatnya supaya dosanya diampuni berupa bacaan Al Qur’an “...Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka”. (QS. Al-Baqarah : 201). Sebuah do’a yang mudah dan sering kita ulang-ulang yaitu Robbana Atina Fid Dunya Hasanah wa fil akhiroti hasanah. Waqina adzaabannaar.”

Tsa’labah sakit keras selama 8 hari, karena khawatir akan dosanya. Bagaimana dengan kita? tiap hari berbuat dosa apakah kita merasa bersalah. Kebanyakan tidak. Nabi Muhammad SAW saja yang dijamin masuk surga istighfar 70 kali sehari dalam riwayat lain dikatakan 100 kali sehari. Kita berapa kali? Begitulah seharusnya. Mestinya kita galau bukannya urusan duit, urusan lawan jenis, urusan dunia lainnya. Mestinya kita galau urusan dosa, urusan ibadah, urusan akherat, begitulah muslim yang baik.

Rasulullah pun menjenguknya. Rasulullah memangku Tsa’labah di pangkuannya. Tapi ia menggeser kepalanya, 
“Kepalaku penuh dosa wahai Rasulullah. Aku tidak pantas!”
“Apa yang kamu senangi?”
“Ampunan Allah.”
Jabir bin Abdullah RA meriwayatkan sebuah hadits tentang sahabat ini,
“Ketika itu turunlah Jibril Alaihisallam, mengatakan, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu mengirimkan salam padamu, dan berfirman, ‘JIka hamba-Ku ini menemui-Ku dengan dosa sejengkal tanah, maka Aku akan menemui dengan sejengkal ampunan’.”
Tsa’labah langsung berteriak kegirangan karena mendapat ampunan Allah, tidak lama kemudian ia meninggal. Ketika Rasulullah SAW ke rumah Tsa’labah, Rasulullah merangkak. Para sahabat keheranan. 
“Mengapa Engkau merangkak wahai Rasulullah?” 
Rasulullah SAW menjawab, 
“Aku tidak bisa berdiri saking banyaknya malaikat yang turun, ta’ziyah kepada Tsa’labah.”




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

May 31, 2014

Memilih Teman Hidup

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ.

Sayyidina Umar bin Khaththab R.A berkata,

"Tak ada kenikmatan setelah kenikmatan Islam yang lebih besar dari pada berteman dengan orang shalih, jika kau mendapatkannya maka jagalah pertemananmu dengannya."
           
Asy-Syafi'i berkata,
"Jika kau mempunyai teman yang setia padamu, membantumu dalam ketaatan maka jangan pernah kau putuskan dia! Menjadi teman yangg baik itu susah dan memutuskannya gampang sekali."
           
Imam Hasan al-Bashri berkata,
"Kami lebih mencintai teman yang shalih dari pada keluarga dan anak, karena keluarga dan anak lebih sering mengingatkan kita pada dunia,  tapi teman yang baik akan selalu mengingatkan kita pada akhirat, dan ciri mereka adalah siap berkorban untuk kita"
           
Lukman alhakim menasihati anaknya,
"Wahai anakku setelah kau mendapatkan keimanan pada Allah, maka carilah teman yang baik dan tulus." Perumpamaan teman yang baik seperti 'pohon' jika kau duduk di bawahnya dia dapat menaungimu, jika kau mengambil buahnya dapat kau makan. Jika ia tak bermanfaat untukmu ia juga tak akan membahayakanmu."

Ya Allah bimbing kami untuk selalu mendapat teman yang baik hingga selalu bersama di dunia dan akhirat di bawah panji Rasulullah Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
                                
Selamat Pagi, Selamat beraktifitas & Tetap semangat!!!




shared at Whatsapp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee