Showing posts with label Idul Adha. Show all posts
Showing posts with label Idul Adha. Show all posts

Dec 16, 2014

Bolehkah Mengucapkan "Selamat Natal"?

Di bulan Desember ini seperti tahun-tahun sebelumnya dan sepanjang tahun, selalu muncul pertanyaan yang ditujukan kepada saya, tentang boleh tidaknya mengucapkan 'Selamat Natal'. Jawaban saya cukup singkat: TIDAK!

Sebagian memberikan alasan bahwa mereka masih terikat pada pekerjaan yang dalam posisi sulit mengelak untuk mengucap 'Selamat Natal' pada relasi, customer, bos, atau atasan. Sebagian yang lain beralasan karena untuk menjaga hubungan baik, kekerabatan, kekeluargaan dengan saudara, ipar, orang tua, mertua ataupun tetangga. Bahkan ada yang berdalih, rekan kerja suaminya, tetangga atau kerabatnya yang beragama Kristen, selalu hadir saat Idul Fitri, memberikan selamat dan bahkan ikut meramaikan perayaan Idhul Fitri di rumah. Maka, 'tidak enak' rasanya kalau harus cuek kala mereka sedang merayakan Natal. Dan seringkali 'toleransi' dijadikan dalih untuk menempatkan Muslim pada posisi sulit sehingga terjebak untuk berpartisipasi dalam kegiatan Natal. Dan jawaban saya tetap tidak pernah berubah, cukup singkat, TIDAK BOLEH!. Apapun alasan, kita tidak boleh mengucapkan 'Selamat Natal' dalam apapun kondisinya.

Kali ini kita tidak membahas tentang Natal dari sudut sejarah. Karena in sya Allah kita sudah mengetahui semua, bagaimana sejarah Natal dan pengaruh budaya pagan Romawi yang kental mewarnai ritual 25 Desember ini. Namun kita akan membahas Natal dari sisi ibadah dan dampaknya pada aqidah. 

Oct 8, 2014

Menapaktilasi jejak Nabi Ibrahim Dan Keluarganya

Peristiwa besar yang pernah luntur dimakan waktu. 
Bukan sekedar peristiwa monumental yakni pengorbanan Ibrahim atas anak yang disayangi yakni Ismail, namun banyak pelajaran yang kita bisa berhikmah. 

Ada hikmah yang luar biasa dari kisah tersebut salah satunya masalah pendidikan anak yang diajarkan oleh Ibrahim. Sebagai orang tua yang berhati mulia mendidik anak bagian dari ibadah sehingga lahirlah pribadi mulia yakni Ismail. Ibundanya pun seorang wanita shalihah yang penuh ketaatan pada suami dan Rabbnya. 

Terbersit tanya dalam hati kita, seperti apa Ibrahim mendidik Ismail sehingga di usia belia Ismail sudah memiliki ketaatan yang tak dipertanyakan lagi. Perintah Allah untuk menyembelihnya diiyakan begitu saja. Padahal kala itu usia Ismail masih sangat belia, bahkan anak-anak seusianya masih banyak yang memilih untuk bermain bersuka ria. Tapi Ismail sangatlah berbeda. 

Bukan sekedar garis kenabian Ismail menjadi pribadi agung nan menawan namun sang ayah mendidik penuh keteladanan dan keshalihan. Tergambar dari doa yang terpanjat, yang tercantum dalam Al Quran surat Ibrahim 37-41 yang artinya 
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab."
Dari doanya kita bisa melihat bagaimana cara Nabi Ibrahim mendidik anak, keluarga dan keturunannya yang kita umat selanjutnya bisa mengambil pelajaran sehingga akan lahir generasi-generasi yang penuh ketaatan serta rela berkorban. 

Semoga kita menjadi hamba-hamba yang bisa mengambil ibrah dari kisah-kisah orang-orang terdahulu. Aamiin
-Rochma Yulika-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee