Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Mar 27, 2015

Renungan : Rezeki

Syaikh Ali Mustafa Thanthawi -rahimahullah-mengatakan:

Falsafah rezeki itu sangat sulit untuk dimengerti, juga terlalu jauh untuk bisa diraih.
Tengoklah kehidupan manusia. Diantara mereka ada para penyelam yang Allah jadikan roti (kehidupan) mereka dan segenap keluarga tersimpan jauh di dasar lautan. Mereka takkan bisa menggapainya hingga mereka menyelam ke dasar lautan yang dalam.

Ada juga para pilot yang Allah jadikan roti (kehidupan) mereka berada di atas awan, sehingga mereka tidak mungkin mendapatkannya sampai mereka terbang tinggi ke angkasa.

Ada juga yang roti (kehidupannya) tersembunyi di dalam bebatuan yang sangat keras, sehingga mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan memecah batu-batu itu.

Ada pula orang-orang yang rezeki mereka berada di bawah gorong-gorong air yang kotor, atau di tempat-tempat penambangan yang dalam, dimana wajah mentari dan cahaya siang tak dapat dilihat.

Ada orang yang mendapatkan bagian rezekinya dengan tangan, kaki, lisan dan otaknya. Ada juga yang tidak bisa meraihnya kecuali dengan mempertaruhkan nyawa dan menghadapkan diri kepada kematian, seperti halnya para pemain sirkus yang selalu saja diburu kematian. Kalau ia tidak mendapati rezekinya dengan cara jatuh bertumpuh di atas kepala, ia mendapatinya ketika berada di antara taring-taring singa atau di bawah kaki-kaki gajah.

Maka bersyukurlah kepada Allah, karena Dia telah menjadikan rezekimu berada di atas meja kerjamu. Kau bisa meraihnya sambil duduk di atas kursi. Dia tidak menjadikannya berada di puncak-puncak gunung yang tinggi, atau di dasar lautan yang dalam, juga tidak harus berhadapan dengan singa ataupun macan.
-Syekh Ali Musthafa Thanthawi dalam risalah Ma'a An-Naas-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 15, 2015

Renungan : Tidakkah Kamu Malu?

Jangan pernah berhenti untuk merayu diri agar segera bangkit. 
Tanyakanlah pada diri kita:
  1. Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang membaca suratnya bahkan berulang-ulang?  Mengapa kamu begitu berat dan enggan untuk hidup dengan wahyu Allah Swt? Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al Qur’an, dengan apa lagi?
  2. Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah Saw menjamin bahwa Allah Swt akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al Qur’an, mulai dari sakaratul maut hingga saat melewati shirat.
  3. Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Dengan nikmat-Nya yang demikian banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah kamu bersyukur kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak membaca Al Qur’an?
  4. Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah Swt dan Rasulnya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak membaca Al Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak. Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.
  5. Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa Al Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al Qur’an selalu menjauh dari dirimu.
  6. Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang tentang dirimu? 


Ungkapan di atas adalah perenungan terhadap diri sendiri dalam urusan dunia dan akhirat, hal yang dianjurkan oleh Allah Swt agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna. 
Semoga kita selalu bersemangat untuk berinteraksi dengan Al Qur'an satu juz per hari. Moga Allah mudahkan urusan kita semua. Aamiin.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Renungan : Nafkah Suami Untuk Istri

Harta istri adalah harta milik istri, baik yang dimiliki sejak sebelum menikah, atau pun setelah menikah. Harta istri setelah menikah yang terutama adalah dari suami dalam bentuk nafaqah (nafkah), selain juga mungkin bila istri itu bekerja atau melakukan usaha yang bersifat bisnis.

Khusus masalah nafkah, sebenarnya nafkah sendiri merupakan kewajiban suami dalam bentuk harta benda untuk diberikan kepada istri. Segala kebutuhan hidup istri mulai dari makanan, pakaian dan tempat tinggal, menjadi tanggungan suami. Dengan adanya nafkah inilah kemudian seorang suami memiliki posisi qawam (pemimpin) bagi istrinya, sebagaimana firman Allah SWT:
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka."
(QS. An-Nisa': 34)
Namun yang seringkali terjadi, sebagian kalangan beranggapan bahwa nafkah suami kepada istri adalah biaya kehidupan rumah tangga atau uang belanja saja. Pemandangan sehari-harinya adalah suami pulang membawa amplop gaji, lalu semua diserahkan kepada istrinya.

Cukup atau tidak cukup, pokoknya ya harus cukup. TInggallah si istri pusing tujuh keliling, bagaimana mengatur dan menyusun anggaran belanja rumah tangga. Kalau istri adalah orang yang hemat dan pandai mengatur pemasukan dan pengeluaran, suami tentu senang.

Yang celaka, kalau istri justru kacau balau dalam mengatur keuangan. Alih-alih mengatur keuangan, yang terjadi justru besar pasak dari pada tiang. Ujung-ujungnya, suami yang pusing tujuh keliling mendapati istrinya pandai membelanjakan uang, plus hobi mengambil kredit, aktif di arisan dan berbagai pemborosan lainnnya.

Padahal kalau kita kembalikan kepada aturan asalnya, yang namanya nafkah itu lebih merupakan ‘gaji’ atau honor dari seorang suami kepada istrinya. Sebagaimana ‘uang jajan’ yang diberikan oleh seorang ayah kepada anaknya.

Adapun kebutuhan rumah tangga, baik untuk makan, pakaian, rumah, listrik, air, sampah dan semuanya, sebenarnya di luar dari nafkah suami kepada istri. Kewajiban mengeluarkan semua biaya itu bukan kewajiban istri, melainkan kewajiban suami.

Kalau suami menitipkan amanah kepada istrinya untuk membayarkan semua biaya itu, boleh-boleh saja. Tetapi tetap saja semua biaya itu belum bisa dikatakan sebagai nafkah buat istri. Sebab yang namanya nafkah buat istri adalah harta yang sepenuhnya menjadi milik istri.

Kira-kira persis dengan nafkah di awal sebelum terjadinya akad nikah, yaitu mahar atau maskawin. Kita tahu bahwa sebuah pernikahan diawali dengan pemberian mahar atau maskawin. Dan kita tahu bahwa mahar itu setelah diserahkan akan menjadi sepenuhnya milik istri.

Suami sudah tidak boleh lagi meminta mahar itu, karena mahar itu statusnya sudah jadi milik istri. Kalau seandainya istri dengan murah hati lalu memberi sebagian atau seluruhnya harta mahar yang sudah 100% menjadi miliknya kepada suaminya, itu terserah kepada dirinya. Tapi yang harus dipastikan adalah bahwa mahar itu milik istri.

Sekarang bagaimana dengan nafkah buat istri?
Kalau kita mau sedikit cermat, sebenarnya dan pada hakikatnya, yang disebut dengan nafkah buat istri adalah harta yang sepenuhnya diberikan buat istri. Dan kalau sudah menjadi harta milik istri, maka istri tidak punya kewajiban untuk membiayai penyelenggaraan rumah tangga. Nafkah itu ‘bersih’ menjadi hak istri, di luar biaya makan, pakaian, bayar kontrakan rumah dan semua kebutuhan sebuah rumah tangga.

Mungkin Anda heran, kok segitunya ya? Kok matre’ banget sih konsep seorang istri dalam Islam?
Jangan heran dulu, kalau kita selama ini melihat para istri tidak menuntut nafkah ‘eksklusif’ yang menjadi haknya, jawabnya adalah karena para istri di negeri kita ini umumnya telah dididik secara baik dan ditekankan untuk punya sifat qana’ah. Saking mantabnya penanaman sifat qana’ah itu dalam pola pendidikan rumah tangga kita, sampai-sampai mereka, para istri itu, justru tidak tahu hak-haknya. Sehingga mereka sama sekali tidak mengotak-atik hak-haknya.

Memandang fenomena ini, salah seorang murid di pengajian nyeletuk, “Wah, ustadz, kalau begitu hal ini perlu tetap kita rahasiakan. Jangan sampai istri-istri kita sampai tahu kalau mereka punya hak nafkah seperti itu.”

Yang lain menimpali, “Setuju ustadz, kalau sampai istri-istri kita tahu bahwa mereka punya hak seperti itu, kita juga ntar yang repot nih ustadz. Jangan-jangan nanti mereka tidak mau masak, ngepel, nyapu, ngurus rumah dan lainnya, sebab mereka bilang bahwa itu kan tugas dan kewajiban suami. Wah bisa rusak nih kita-kita, ustadz.”

Yang lain lagi menambahi, “Benar ustadz, bini ane malahan sudah tahu tuh masalah ini. Itu semua kesalahan ane juga sih awalnya. Sebab bini ane tuh, ane suruh kuliah di Ma’had A-Hikmah di Jalan Bangka. Rupanya materi pelajarannya memang sama ame nyang ustadz bilang sekarang ini. Cuman bini ane emang nggak tiap hari sih begitu, kalo lagi angot doang.”

“Tapi kalo lagi angot, ustadz, bah, ane jadi repot sendiri. Tuh bini kagak mao masak, ane juga nyang musti masak. Juga kagak mau nyuci baju, ya udah terpaksa ane yang nyuciin baju semua anggota keluarga. Wii, pokoknya ane jadi pusing sendiri karena punya bini ngarti syariah.”

Menjawab ‘keluhan’ para suami yang selama ini sudah terlanjur menikmati ketidak-tahuan para istri atas hak-haknya, kami hanya mengatakan bahwa sebenarnya kita sebagai suami tidak perlu takut. Sebab aturan ini datangnya dari Allah juga. Tidak mungkin Allah berlaku berat sebelah. Sebab Allah SWT selain menyebutkan tentang hak-hak seorang istri atas nafkah ‘eksklusif’, juga menyebutkan tentang kewajiban seorang istri kepada suami. Kewajiban untuk mentaati suami yang boleh dibilang bisa melebihi kewajibannya kepada orang tuanya sendiri.

Padahal kalau dipikir-pikir, seorang anak perempuan yang kita nikahi itu sejak kecil telah dibiayai oleh kedua orang tuanya. Pastilah orang tua itu sudah keluar biaya besar sampai anak perawannya siap dinikahi. Lalu tiba-tiba kita datang melamar si anak perawan itu begitu saja, bahkan kadang maskawinnya cuma seperangkat alat sholat tidak lebih dari nilai seratus ribu perak.

Sudah begitu, dia diwajibkan mengerjakan semua pekerjaan kasar layaknya seorang pembantu rumah tangga, mulai dari subuh sudah bangun dan memulai semua kegiatan, urusan anak-anak kita serahkan kepada mereka semua, sampai urusan genteng bocor. Sudah capek kerja seharian, eh malamnya masih pula ‘dipakai’ oleh para suaminya.

Jadi sebenarnya wajar dan masuk akal kalau untuk para istri ada nafkah ‘eksklusif’ di mana mereka dapat hak atas ‘honor’ atau gaji dari semua jasa yang sudah mereka lakukan sehari-hari, di mana uang itu memang sepenuhnya milik istri. Suami tidak bisa meminta dari uang itu untuk bayar listrik, kontrakan, uang sekolah anak, atau keperluan lainnya.

Dan kalau istri itu pandai menabung, anggaplah tiap bulan istri menerima ‘gaji’ sebesar Rp 1 juta yang utuh tidak diotak-atik, maka pada usia 20 tahun perkawinan, istri sudah punya harta yang lumayan 20 x 12 = 240 juta rupiah. Lumayan kan?

Nah harta itu milik istri 100%, karena itu adalah nafkah dari suami. Kalau suami meninggal dunia dan ada pembagian harta warisan, harta itu tidak boleh ikut dibagi waris. Karena harta itu bukan harta milik suami, tapi harta milik istri sepenuhnya. Bahkan istri malah mendapat bagian harta dari milik almarhum suaminya lewat pembagian waris.

Semoga Bermanfaat.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 8, 2015

Di Bagian Manakah Kita?

Hidup adalah anugerah, Allah telah memberikan modal waktu yang sama kepada setiap hambanya untuk menjalani kehidupan dunia. Sehari selama 24 jam waktu yang disediakan Allah untuk kita semua. Modal yang sama tetapi menghasilkan sesuatu yang berbeda setiap harinya. Ada yang hari-harinya selalu dipenuhi dengan kebaikan, ada juga yang dijalaninya dengan penuh kemaksiatan. Modalnya sama hasil berbeda.

Bagaimana dengan kita?
Cenderung kemanakah waktu yang dimodalkan Allah untuk kita. Lebih banyak peruntukkannya demi kebaikan atau justru lebih banyak jalan menuju kemaksiatan. 
Jika modal yang diberikan untuk kita lebih banyak membawa kita menuju jalan-jalan kemaksiatan maka bersegeralah untuk memohon ampunan kepada Dzat yang Maha Memberi ampunan,  tetapi jika yang terjadi sebaliknya, modal yang diberikan Allah lebih banyak membawa dan membimbing kita menuju kebaikan maka sudah sepantasnya bagi kita untuk bersyukur dan beristiqomah didalamnya.
Perjalanan kita bersama ODOJ sudah lebih dari 1 tahun. Sebuah perjalanan yang tentunya dipenuhi dengan banyaknya cobaan, halangan, rintangan, dan beraneka kejadian yang tidak meng-enakan lainnya, tetapi disisi lain banyak juga keajaiban-keajaiban yang diberikan oleh Allah dan dialami para anggotanya. Keajaiban-keajaiban yang tidak pernah terbayangkan oleh fikiran kita sebelumnya. Keajaiban-keajaiban yang menunjukkan dan menandakan betapa Kuasanya Allah atas diri setiap hamba.

Pertanyaannya, Dibagian manakah diri kita berada ?
Dibagian yang menerima Keajaiban atau justru dibagian yang selalu menerima cobaan, halangan, rintangan, dan hal-hal yang tidak mengenakkan lainnya. Yakin dan Percayalah, dibagian manapun Diri kita berada Allah telah menyiapkan Grand Design besar untuk diri kita. Allah telah menyiapkan rencana terbaiknya untuk kita. Allah telah menyiapkan suatu tempat sebaik baik tempat untuk diri kita. 
Yakin dan Percayalah, Allah telah menyiapkan tempat terindahnya untuk kita. Tempat yang tidak akan pernah terbayangkan oleh fikiran kita sebelumnya. Suatu tempat yang selalu diimpikan dan didambakan oleh setiap insan yang bernama manusia. Suatu tempat yang dinamakan SURGA oleh Allah SWT. sang penciptanya .

Tetaplah berjalan di jalan Allah SWT, pertahankan dan perjuangkan, lalu beristiqomahlah, karena dengan itu Janji-janji Allah yang diperuntukkan bagi kita PASTI akan diwujudkannya.
Salam FULL Semangat!!!




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 1, 2015

Balon

Pada suatu acara seminar yang dihadiri oleh sekitar 50 peserta. Tiba-tiba sang Motivator berhenti berkata-kata dan mulai memberikan balon kepada masing-masing peserta. Dan kepada mereka masing-masing diminta untuk menulis namanya di balon-balon tersebut dengan menggunakan spidol. Kemudian semua balon dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam ruangan lain.

Sekarang semua peserta disuruh masuk ke ruangan itu dan diminta untuk menemukan balon yang telah tertulis nama mereka dengan diberi waktu hanya 5 menit. 

Semua orang panik mencari nama mereka, bertabrakan satu sama lain, mendorong dan berebut dengan orang lain di sekitarnya sehingga terjadi kekacauan. Waktu 5 menit sudah usai, tidak ada seorangpun yang bisa menemukan balon mereka sendiri. 

Lalu di waktu berikutnya Sang Motivator meminta kepada Peserta untuk secara acak mengambil
sembarang balon dan memberikannya kepada orang yang namanya tertulis di atasnya. Dalam beberapa menit semua orang punya balon dengan nama mereka sendiri.

Akhirnya sang Motivator berkata :
"Kejadian yang baru terjadi ini mirip dan sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua orang sibuk mencari kebahagiaan untuk diri sendiri, mirip dengan mencari balon mereka sendiri, dan banyak yang gagal. Mereka baru berhasil mendapatkannya ketika mereka memberikan kebahagiaan kepada orang lain, mirip dengan memberikan balon tadi kepada pemiliknya."

Kebahagiaan kita terletak pada kebahagiaan orang lain. Beri kebahagiaan kepada orang lain, maka anda akan mendapatkan kebahagiaan anda sendiri. 

Penutup
Manusia terbaik pernah memberikan nasehat,
"Barangsiapa yang membantu seorang mu'min terlepas dari kesusahan didunia, niscaya Allah akan membantunya terlepas dari kesusahan dunia dan akhirat"
(HR.Muslim)




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Feb 26, 2015

Di Situ, Sering Saya Merasa Sedih

Ketika teringat sabda, “Setiap anak Adam pasti akan mengalami zina; mata, telinga, tangan, kaki, dan hati.” Di situ, sering saya merasa sedih.

Ketika mata ini lebih sering tergunakan untuk melihat yang haram dari pada merenung-mentafakkuri kebesaran-Nya. Di situ, sering saya merasa sedih.

Ketika telinga ini lebih banyak mendengar musik daripada lantunan ayat Al-Qur'an, ghibah dari pada sirah, dan curhatan gadis daripada hadits. Di situ, sering saya merasa sedih.

Ketika mulut ini lebih banyak berkata tak baik daripada yang baik, lebih sering memvonis-fitnah dari pada ceramah-dakwah. Di situ, sering saya merasa sedih.

Ketika tangan ini lebih lincah melakukan maksiat, tetapi teramat kaku dalam memerangi kezhaliman. Di situ, sering saya merasa sedih.

Ketika kaki ini lebih cepat melangkah saat menuju tempat hiburan, tetapi lambat bahkan berat saat dilangkahkan menuju Masjid untuk shalat. Di situ, sering saya merasa sedih.

Ketika hati ini lebih sering berangan-angan tentang kemegahan dunia, dari pada bersyukur atas apa yang telah ada. Di situ, sering saya merasa sedih.

Ketika persangkaan orang lain terhadap diri ini terlampau baik dari pada siapa diri ini sebenarnya. Di situ, sering saya merasa sedih.

Ketika hati ini merasa besar saat dipuji orang lain, ujub dan berbangga diri; terlupa bahwasanya semua adalah kehendak Allah. Di situ, sering saya merasa sedih.

Ketika mengaku ummat Nabi, mengaku cinta Nabi, tetapi diri ini kepayahan dalam melaksanakan sunnahnya. Di situ, sering saya merasa sedih.

Ketika berkata, “Aku selalu berbaik sangka kepada Allah” tetapi sering merasa tak terima saat kehendak-Nya tak sesuai rencana. Di situ, sering saya merasa sedih.

Ketika suatu waktu, harta lebih kupentingkan dari pada Allah dan Rasul-Nya. Di situ, sering saya merasa sedih.

Ketika teringat, bahwa banyak nikmat-Nya kudustakan, dari pada aku syukuri. Di situ, sering saya merasa sedih.
_islampos_




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Black Box Ciptaan Allah

Black Box atau Kotak Hitam adalah sekumpulan perangkat yang digunakan dalam bidang transportasi, umumnya merujuk kepada perekam data penerbangan (Flight Data Recorder; FDR) dan perekam suara kokpit (Cockpit Voice Recorder; CVR) dalam pesawat terbang.

Fungsi dari kotak hitam sendiri adalah untuk merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau Air Traffic Control (ATC) serta untuk mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan. Apabila pesawat mengalami kecelakan, jatuh dan hancur atau lainnya, maka Black Box sangat diperlukan untuk mengetahui hasil rekaman data yang akan membantu memberikan informasi mengenai kondisi sebelum terjadinya kecelakaan pada pesawat terbang.

Sahabat...
Mari sama-sama kita renungkan, jika manusia saja mampu membuat teknologi perekam seperti Black Box, maka bagaimana dengan Allah Yang Maha Pencipta, Yang Menciptakan manusia?! Black Box ciptaan Allah tentu jauh lebih canggih, bahkan dapat merekam semua aktifitas yang kita lakukan.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman : 
"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan tangan-tangan mereka berkata kepada Kami dan kaki-kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang telah mereka usahakan."
(QS. Yasin : 65)
Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini : “Ini adalah kondisi orang-orang kafir dan orang-orang munafik pada hari kiamat ketika mereka mengingkari perilaku buruk yang mereka lakukan di dunia serta bersumpah dengan apa yang telah mereka lakukan. Lalu Allah menutup lisan-lisan mereka, sedangkan anggota tubuh mereka  berbicara tentang apa yang sudah mereka perbuat.”

Sahabat...
Lantas bagaimana dengan perbuatan kita hingga detik ini?
Merasa amankah kita dengan melalaikan tugas sebagai hamba Allah?
Merasa amankah kita dengan bermalas-malasan terhadap perintah-Nya? 
Semua aktifitas kita akan direkam dan bila saatnya nanti, semua rekaman aktifitas kita akan diperlihatkan dan kita tak dapat mengelak, semua tentang kebaikan maupun keburukan yang kita perbuat, bahkan tentang isi hati kita, Allah Maha Tahu.
Siapkah kita dengan hal ini?!

Sahabat...
Mari kita perbanyak beristighfar, memohon ampunan kepada Allah kemudian sama-sama berbenah diri, berubah dari kondisi buruk menjadi baik, dari kondisi malas ibadah menjadi rajin ibadah, dari kondisi hati yang lalai menjadi hati yang senantiasa terpaut pada-Nya.
In sya Allah, semoga iman kita senantiasa dikuatkan dan dijaga keistiqamahan dalam Islam.
Aamiin yaa Rabb...
~Erik Mardiansyah~




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Feb 25, 2015

Apakah Kita Lebih Sibuk Dari Umar?

Apakah kita lebih sibuk dari Umar bin Abd Aziz ,sampai tak ada waktu membaca firman-Nya? 
Sungguh Umar bin Abd Aziz , jika ia sangat sibuk ,maka ia tetap mengambil mushaf ,walau hanya beberapa ayat ia baca.

Adakah kesibukan kita mengungguli kesibukan Ustman bin Affan , dimana ia berkata : jika hati ini bersih ,maka lisan ini tak mau berkesudahan mendengungkan kalam-Nya.

Ibnu Taimiah berkata : siapa yang tidak membaca Al-Qur'an maka ia telah meninggalkannya satu hari tidak membaca Al-Qur'an, maka sehari kita meninggalkannya, sebulan mata ini acuh akan firman-Nya , maka sebulan juga kita meninggalkannya dalam lemari-lemari kita, maka saat itu Al-Qur'an hanya menjadi hiasan di almari dan dinding kita.

Ketahuilah, bukan untuk itu Al-Qur'an diturunkan, ia adalah bacaan yang sempurna, bukan pajangan yang sempurna. Janganlah sampai nama kita masuk daftar mereka yang diadukan Nabi Saw kepada Allah, karena cuek dengan A-Qur'an. 

Al-Qur'an itu untuk mereka yang hidup, kenapa baru engkau buka lembar-lembarnya saat ada diantara kita yang wafat? 
Al-Qur'an itu bukan hanya menjadi alat pengusir jin, kenapa engkau baru sibuk membacanya saat ada yang kerasukan? 

Kau jadikan Al-Qur'an sebagai mahar akad sucimu, tetapi rumah tanggamu hening dari alunannya. Sesungguhnya hati yang tidak terpaut dengan Al-Qur'an, ia akan berkarat. Sesunguhnya mulut yang tidak terhiasi olehnya, seperti rumah rusak. Sesungguhnya malaikat akan menjadi penduduk rumah kita jika Al-Qur'an menjadi sesuatu yang membasahi lisan penduduknya.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Feb 24, 2015

Renungan

Jika semua yang kita kehendaki terus kita miliki, darimana kita belajar ikhlas
Jika semua yang kita impikan segera terwujud, darimana kita belajar sabar
Jika setiap do’a kita terus dikabulkan, bagaimana kita dapat belajar ikhtiar

Seorang yang dekat dengan Allah, bukan berarti tidak ada air mata
Seorang yang taat pada Allah, bukan berarti tidak ada kekurangan
Seorang yang tekun berdo’a, bukan berarti tidak ada masa-masa sulit
Biarlah Allah yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Allah tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang keikhlasan
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar  kesabaran 
Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar tentang memaafkan
Ketika kamu lelah dan merasa kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan
Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketangguhan
Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kemurah-hatian

Tetap semangat, jaga keikhlasan
Tetap sabar, tetap tersenyum
Karena kamu sedang menimba ilmu di universitas kehidupan

Allah Swt menaruhmu di “tempatmu” yang sekarang, bukan karena “kebetulan"
Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan
Mereka di bentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata

Ya Allah, kuatkan kami yang lemah ini untuk Istiqomah di jalan-Mu hingga maut menjemput
Aamiin ya rabbal 'alamiin




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Feb 18, 2015

Tidak Lari Mengapa Dikejar & Tidak Hilang Mengapa Khawatir

Biasanya anda berlari karena mengejar sesuatu agar tidak menjauh. Sebagaimana biasanya sesuatu bila ditinggal atau diabaikan akan hilang, sehingga anda khawatir setiap kali ketinggalan sesuatu. Namun anehnya selama ini anda berlari mengejar rezeki, padahal untuk urusan rezeki, ia tidak pernah lari. Sebaliknya, anda menjadi gundah, lagi panik bila menyadari ada dari sebagian harta anda yang ketinggalan di suatu tempat karena anda khawatir kehilangan.

Sobat! Ketahuilah sikap semacam ini sejatinya adalah kesalahan besar yang selama ini melilit diri anda. Percayalah bahwa rezeki anda tidak akan pergi menjauh sehingga tidak ada perlu anda berlari tunggang-langgang mengejarnya. Sebaliknya rezeki anda juga tidak akan hilang dipungut orang walaupun telah ketinggalan di suatu tempat. Cukuplah anda berusaha sewajarnya yaitu dengan tetap mengindahkan batasan dan hukum syari'at, niscaya seluruh rezeki anda pasti berhasil anda dapatkan dan nikmati.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إن الروح الأمين نفث فى روعى أنها لا تموت نفس حتى تستوفى رزقها فأجملوا فى الطلب 
"Sejatinya Malaikat Jibril (Ruhul Qudus) membisikkan ke dalam jiwaku bahwa tiada seorang jiwapun yang meninggal dunia hingga ia benar-benar telah mengenyam jatah rezekinya, karena itu tempuh jalan-jalan yang baik dalam mencari rezeki."
(HR. Ibnu Abi Syaibah, Al-Baihaqi, dan lainnya)
Percayalah sobat, niscaya anda bahagia.
~Ust. Dr. M. Arifin Badri, M.A.~




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Jan 13, 2015

Kaca yang Berdebu

Oleh : Madany

Dia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu keras membersihkannya
Nanti ia mudah retak dan pecah

Dia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu lembut membersihkannya
Nanti ia mudah keruh dan ternoda

Dia bagai permata keindahan
Sentuhlah hatinya dengan kelembutan
Dia sehalus sutera di awan
Jagalah hatinya dengan kesabaran

Lemah lembutlah kepadanya
Namun jangan terlalu memanjakannya
Tegurlah bila ia bersalah
Namun janganlah lukai hatinya

Bersabar bila menghadapinya
Terimalah ia dengan keikhlasan
Karena ia kaca yang berdebu
Semoga kau temukan dirinya bercahayakan iman




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Jan 10, 2015

Renungan : Munafikkah aku?

Sering rasa ini hadir membayangi
Setiap saat di kala ku menyendiri
Kala teman-teman sholeh mulai beranjak pergi
Saat majelis ilmu mulai tak terdengar lagi

Ah
Malu rasanya, menghadapkan wajah yang hina
Muka yang terkadang suka mendua
Beda rasa di satu masa ke masa
Wajah yang menunduk lesu di kala berkumpul di taman-Nya
Namun kembali beringas di saat menyendiri dengan alpa

Duhai diri, apakah mungkin engkau memilikinya?
Saat berbicara, dengan mudahnya meluncur dusta
Termasuk kata penghias dan pelengkap canda
Tak lagi bisa dibedakan antara kebohongan dan fakta
Selalu saja engkau melontarkan satu sifat yang sama
Duhai, sulitkah berkata jujur tak disertai dusta?

Ataukah mungkin kita juga senang melakukannya?
Mudah berjanji dan sering diingkari
Terkadang malah lupa dan ditinggal pergi
Janji tak lagi sesuatu yang dianggap penting suci
Sehingga dengan mudahnya kita untuk menodai
Duhai, kapan kah kan kau tepati janji?

Barangkali amanah tak membuatmu takut?
Karena mudahnya menghindar dan berpenyakit akut
Penyakit yang menjadikanmu tak lagi mau menurut
Hukum Allah, dakwah dan amanah-Nya selalu coba kau luput
Bahkan teman sholehmu pun tak jarang selalu kau coba rekrut
Duhai, adakah ketiganya terkumpul disini?
Duhai, akankah ku terbebas dari rasa ini?

"Ash sholatu khaoirum minan naum"
Masih ingatkah kau dengan seruan ini?
Seruan di saat subuh menghampiri
Tatkala cuaca dingin sering pun menyelimuti
Gelap jalan pun masih lagi belum pergi
Saat itu lah kau pun tengah terlelap dibuai mimpi
Tak pedulikan lagi sang penyeru kepada Illahi
Rasa berat itu kan jadikan kau menyesal nanti
Tatkala keluarga dan harta tak lagi berarti
Kerabat dan teman pun kan menjauh pergi

Kawan, munafikkah kita?




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Jan 9, 2015

Renungan : Botol

  1. Kalau diisi air mineral, harganya 3ribu.
  2. Kalau diisi jus buah, harganya 10ribu.
  3. Kalau diisi Madu Yaman, harganya Ratusan ribu.
  4. Kalau diisi minyak wangi channel harganya bisa jutaan.
  5. Kalau diisi air got, hanya akan dibuang dalam tong sampah karena langsung tiada harganya dan tidak ada siapa yang suka.

Botol yang sama tetapi harganya berbeda sebab apa yang terisi di dalamnya adalah berbeda. Begitu juga kita, kita semua sama, kita semua manusia, yang membedakan kita antara satu sama lainnya adalah iman dan amal yang ada dalam diri kita yang akan menyebabkan kita berharga di sisi Allah atau kita dipandang hina oleh Allah lalu dibuang ke dalam neraka.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Jan 3, 2015

Renungan Awal Tahun

Puisi W.S. Rendra menjelang akhir hayatnya :

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya :
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, 
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas, 
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua “derita” adalah hukum bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku. 
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku” dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

*)Puisi ini ditulis waktu dirawat di Rumah Sakit oleh W.S. Rendra menjelang kematiannya.           
Selamat merenungkannya sahabat. Semoga kita selalu menjadi pribadi yang lebih baik.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Dec 5, 2014

Renungan Malam

Saudara syurgaku...
Adakah diri telah merasa cukup dengan apa yang Rabb titipi saat ini. Ruh yang masih diberi kesempatan bersama jasad, nafas yang masih berhembus dengan udara bebas, jantung yang terus berdetak masih memompa darah, mata yang memantulkan cahaya untuk dapat melihat.

Rabbana...
Atas segala nikmat itu, tak banyak diri menyadarinya. Nafas terus bergelayut, otak terus berfikir, jemari terus meraba. Namun tak sadar dengan apa yang diri lakukan, tak sadar dengan apa yang tengah diri jalani. Berapa banyak yang hendak dikejar lagi, tanpa titik fokus pencapaian.

Abu Bakar al-Maraghi pernah berkata,
“Orang yang bijaksana itu mengurus urusan dunianya dengan qanaah, urusan akhiratnya dengan bersegera, ilmu dan bersungguh-sungguh.”
Rasulullah SAW pernah mengatakan pada Hakim bin Hizam,
“Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah” 
[HR. Bukhari no. 1472]
Kecukupan kehidupan bukan hanya tentang seberapa banyak uang dan materi yang dimiliki sebagai bekal saudaraku. Ada banyak waktu kebarokahan dan berbagai kelapangan Rabb limpahkan saat diri-diri kita tetap membersamai-NYA, mendekatkan diri pada-NYA. Ujian kesempitan kehidupan hendaknya menjadikan diri kita semakin rapat kepada-NYA. Kelapangan kehidupan kendaknya menjadikan diri semakin bersyukur, luas qalb atas nikmat dan karunia-NYA. Bukan banyaknya materi yang menjadikan hidup menjadi bahagia, kebarokahan Rabb lah yang membuat hidup menjadi lapang dan indah.

Senyumlah...
Bangunkan diri...
berhamdalah lah...
-ummu adib-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Nov 25, 2014

Renungan Malam

Ada 8 kelelahan yang disukai Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

  1. Lelah dalam berjihad di jalan-Nya (QS. 9 : 111)
  2. Lelah dalam berda'wah / mengajak kepada kebaikan (QS. 41 : 33)
  3. Lelah dalam mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan bersungguh dalam beramal sholeh (QS. 29 : 69)
  4. Lelah mengandung, melahirkan, menyusui, merawat dan mendidik putra / putri amanah Ilahi (QS. 31 : 14)
  5. Lelah dalam mencari nafkah halal (QS. 62:10)
  6. Lelah mengurus keluarga (QS. 66:6)
  7. Lelah dalam belajar /menuntut ilmu (QS. 3:79)
  8. Lelah dalam kesusahan, kekurangan & sakit (QS. 2:155)

Semoga kelelahan dan kesusahan yang kita rasakan hari ini dan esok menjadi bagian itu semua
Semoga kita dapati Allah Subhanahu wa Ta'ala tersenyum menyambut kita di surga nanti.
-Ust. Taufik Zain-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Nov 23, 2014

Renungan Pengantar Sebelum Tidur

Ketahuilah bahwa saat paling berbahaya bagi akal manusia adalah saat dia ada dalam kekosongan, karena kekosongan itu akan merasuki pikirannya dengan hal-hal buruk seperti merencanakan kejahatan dan perbuatan maksiat. Maka benarlah sebuah pepatah arab yang mengatakan "Waktu adalah seperti pedang yang begitu tajam, jika kamu tidak membunuhnya maka ia yang akan membunuh kamu."

Karena sesungguhnya waktu kosong adalah pencuri yang cerdik dan culas. Maka, obatilah ia dengan kerja keras, kerja cepat, dan kerja ikhlas agar waktu kita berlimpah berkah dan rahmat. Maka akankah kita membiarkan diri kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi? Golongan orang- orang yang menyia-nyiakan hidup dan jauh dari amal soleh. Karena sesungguhnya ketika kita menunda satu kebaikan untuk dikerjakan, hal itu akan mematikan satu saraf ketajaman mata hati kita untuk semakin alpa dan lupa.

Soo...
Apa yang membuat kita menunda kebaikan?
Tanyakan pada hati yang tak pernah bohong...




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee