Showing posts with label Riya. Show all posts
Showing posts with label Riya. Show all posts

Feb 22, 2015

Nafsu Tersembunyi

Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik. 
Kisah  Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 Hijriyah dari kota Basrah, Irak. 

Menuturkan lembaran episode hidupnya, Ahmad bin Miskin bercerita :
Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah. Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apapun, sementara aku harus menafkahi seorang istri dan seorang anak. Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami. Maka aku berazam untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun berjalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku. 

Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan kondisiku. Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata: "berikan makanan ini kepada keluargamu." 

Di tengah perjalanan pulang, aku berpapasan dengan seorang wanita fakir bersama anaknya, tatapannya jatuh pada kedua lembar rotiku. Dengan memelas dia memohon: "Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa menahan siksa lapar. Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan, semoga Allah merahmati Tuan." Sementara itu, si anak menatapku polos dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan akalku dalam khayalan ukhrowi, seolah-olah surga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini. Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku. "Ambillah, beri dia makan", kataku pada si ibu. Demi Allah, padahal waktu itu tak sepeserpun dinar atau dirham kumiliki. Sementara di rumah, keluargaku sangat membutuhkan makanan itu. Spontan, si ibu tak kuasa membendung air mata dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama. 

Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah gontaiku, sementara beban hidup terus bergelayutan dipikiranku. Sejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah. Dalam posisi seperti itu, tiba tiba Abu Nashr terbang kegirangan mendatangiku. 
"Hei, Abu Muhammad! Kenapa kau duduk-duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?", tanyanya. 
"Subhanallah....!", jawabku kaget. "Dari mana datangnya?"
"Tadi ada pria datang dari Khurasan. Dia bertanya tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya. Dia membawa berduyun-duyun angkutan barang penuh berisi harta", ujarnya.
"Terus?", tanyaku keheranan.
"Dia itu dahulu saudagar kaya di Bashroh ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu pernah menitipkan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun. Lantas dia rugi besar dan bangkrut. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu. Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan. Di sana, kondisi ekonominya berangsur-angsur membaik. Bisnisnya melejit sukses. Kesulitan hidupnya perlahan lahan pergi, berganti dengan limpahan kekayaan. Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu. Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berbisnis. Dia ingin berikan semuanya kepadamu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya." 


Mengisahkan awal episode baru hidupnya, Ahmad bin Miskin berujar :
"Kalimat puji dan syukur kepada-Nya berdesakan meluncur dari lisanku. Sebagai bentuk syukurku, segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi. Aku menyantuni dan menanggung biaya hidup mereka seumur hidup. Aku pun terjun di dunia bisnis seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, santunan dan berbagai bentuk amal shalih. Adapun hartaku, dia terus bertambah ruah tanpa berkurang. Tanpa sadar, aku merasa takjub dengan amal shalihku. Aku merasa, telah mengukir lembaran catatan malaikat dengan hiasan amal kebaikan. Ada semacam harapan pasti dalam diri, bahwa namaku mungkin telah tertulis di sisi Allah dalam daftar orang orang shalih. 

Suatu malam, aku tidur dan bermimpi. 
Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat. Aku juga lihat, manusia bagaikan ombak, bertumpuk dan berbenturan satu sama lain. Aku juga lihat, badan mereka membesar. Dosa dosa pada hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memanggul dosa dosa itu masing-masing di punggungnya. Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memanggul di punggungnya beban besar seukuran KOTA (kota tempat tinggal, pent), isinya hanyalah dosa-dosa dan hal hal yang menghinakan. 

Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk perhitungan amal. Seluruh amal burukku ditaruh di salah satu daun timbangan, sedangkan amal baikku di daun timbangan yang lain. Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku. Tapi ternyata, perhitungan belum selesai. Mereka mulai menaruh satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan. Namun alangkah ruginya, ternyata dibalik semua amal itu terdapat NAFSU TERSEMBUNYI. Nafsu tersembunyi itu adalah riya, ingin dipuji, merasa bangga dengan amal shalih. Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satupun amalku yang lepas dari nafsu-nafsu itu. Aku putus asa. Aku yakin aku akan binasa. Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari siksa neraka. 

Tiba-tiba, aku mendengar suara, "masihkah orang ini punya amal baik?"
"Masih", jawab seseorang. "Masih tersisa ini."

Aku pun penasaran, amal baik apa gerangan yang masih tersisa? Aku berusaha melihatnya. Ternyata, itu HANYALAH dua lembar roti isi manisan yang pernah kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya. Habis sudah harapanku. Sekarang aku benar-benar yakin akan binasa sejadi jadinya. Bagaimana mungkin dua lembar roti ini menyelamatkanku, sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah (100 dinar = +/- 425 gram emas), dan itu tidak berguna sedikit pun. Aku merasa benar benar tertipu habis habisan.

Segera 2 lembar roti itu ditaruh di timbanganku. Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun sampai-sampai lebih berat sedikit dibandingkan timbangan kejelekan. Tak sampai disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku. Yaitu berupa air mata wanita faqir itu yang mengalir saat aku berikan sedekah. Air mata tak terbendung yang mengalir kala terenyuh akan kebaikanku. Aku, yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku. Sungguh tak terbayang, saat air mata itu ditaruh, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus turun. Hingga akhirnya aku mendengar seseorang berkata, "Orang ini telah selamat."


Adakah terselip dlm hati kita hawa nafsu ingin dilihat hebat oleh orang lain pada amal-amal perbuatan kita?
Buang sekarang keinginan itu. Biarkan hanya untuk Allah saja. Karena segala sesuatu yang selain karena-Nya hanya tipuan kosong belaka.  Astaghfirullah.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Feb 21, 2015

Bentuk Riyaa’ Terselubung

Syaitan tidak berhenti berusaha menjadikan amalan anak Adam tidak bernilai di sisi Allah. Diantara cara jitu syaitan adalah menjerumuskan anak Adam dalam berbagai model riyaa’. Sehingga sebagian orang “kreatif” dalam melakukan riyaa’, yaitu riyaa’ yang sangat halus dan terselubung. 

Diantara contoh kreatif riyaa’ tersebut adalah :
  • Seseorang menceritakan keburukan orang lain, seperti pelitnya orang lain, atau malas sholat malamnya, tidak rajin menuntut ilmu, dengan maksud agar para pendengar paham bahwasanya ia tidaklah demikian. Ia adalah seorang yang dermawan, rajin sholat malam, dan rajin menuntut ilmu. Secara tersirat ia ingin para pendengar mengetahui akan amal ibadahnya. Model yang pertama ini adalah model riya’ terselubung yang terburuk, dimana ia telah terjerumus dalam dua dosa, yaitu mengghibahi saudaranya dan riyaa’, dan keduanya merupakan dosa besar. Selain itu ia telah menjadikan saudaranya yang ia ghibahi menjadi korban demi memamerkan amalan sholehnya

  • Seseorang menceritakan nikmat dan karunia yang banyak yang telah Allah berikan kepadanya, akan tetapi dengan maksud agar para pendengar paham bahwa ia adalah seorang yang sholeh, karenanya ia berhak untuk dimuliakan oleh Allah dengan memberikan banyak karunia kepadanya.

  • Memuji gurunya dengan pujian setinggi langit agar ia juga terkena imbas pujian tersebut, karena ia adalah murid sang guru yang ia puji setinggi langit tersebut. Pada hakikatnya ia sedang berusaha untuk memuji dirinya sendiri, bahkan terkadang ia memuji secara langsung tanpa ia sadari. Seperti ia mengatakan, “Syaikh Fulan / Ustadz Fulan luar biasa ilmunya, sangat tinggi ilmunya mengalahkan syaikh-syaikh/ustadz-ustadz yang lain. Alhamdulillah saya telah menimba ilmunya tersebut selama sekian tahun.”

  • Merendahkan diri tapi dalam rangka untuk riyaa’, agar dipuji bahwasanya ia adalah seorang yang low profile. Inilah yang disebut dengan “Merendahkan diri demi meninggikan mutu”.

  • Menyatakan kegembiraan akan keberhasilan dakwah, seperti banyaknya orang yang menghadiri pengajian, atau banyaknya orang yang mendapatkan hidayah dan sadar, akan tetapi dengan niat untuk menunjukkan bahwasanya keberhasilan tersebut karena kepintaran dia dalam berdakwah
  • Ia menyebutkan bahwasanya orang-orang yang menyelisihinya mendapatkan musibah. Ia ingin menjelaskan bahwasanya ia adalah seorang wali Allah yang barang siapa yang mengganggunya akan disiksa atau diadzab oleh Allah. Ini adalah bentuk tazkiyah (merekomendasi) diri sendiri yang terselubung.

  • Ia menunjukkan dan memamerkan kedekatannya terhadap para dai/ustadz, seakan-akan bahwa dengan dekatnya dia dengan para ustadz menunjukkan ia adalah orang yang sholeh dan disenangi para ustadz. Padahal kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari dekatnya seseorang terhadap ustadz atau syaikh, akan tetapi dari ketakwaan. Ternyata kedekatan terhadap ustadz juga bisa menjadi ajang pamer dan persaingan.

  • Seseorang yang berpoligami lalu ia memamerkan poligaminya tersebut. Jika ia berkenalan dengan orang lain, serta merta ia sebutkan bahwasanya istrinya ada 2 atau 3 atau 4. Ia berdalih ingin menyiarkan sunnah, akan tetapi ternyata dalam hatinya ingin pamer. Poligami merupakan ibadah, maka memamerkan ibadah juga termasuk dalam riyaa’.

Inilah sebagian bentuk riyaa’ terselubung, semoga Allah melindungi kita dari terjerumus dalam bentuk-bentuk riyaa’ terselubung tersebut. Tidak perlu kita menuduh orang terjerumus dalam riyaa’ akan tetapi tujuan kita adalah untuk mengoreksi diri sendiri.

Hanya kepada Allah-lah tempat meminta hidayah dan taufiiq.
قال الحسن البصري رحمه الله : فساد القلوب متولد من ستة أشياء، أولها: يذنبون برجاء التوبة، ويتعلمون العلم ولا يعملون به، وإذا عملوا لا يخلصون، ويأكلون رزق الله ولا يشكرون، ولا يرضون بقسمة الله، ويدفنون موتاهم ولا يعتبرون.

Hasan Al Bashri berkata : Rusaknya Hati disebabkan karena 6 hal:
  1. Selalu berbuat dosa dengan mengharapkan ampunan
  2. Mempelajari suatu ilmu tanpa diamalkan
  3. Ketika beramal tidak ikhlas
  4. Makan rezeki Allah tapi tidak bersyukur
  5. Tidak ridha dengan pemberian Allah
  6. Mengubur jenazah namun tidak menjadikannya sebagai ibrah

Mu'adz bin Jabal ra. menuturkan:
كنت ريف النبي عل حمار، فقال لي: يا معاذ، اتدري ماحق الله عل العبادوماحق العباد عل الله؟ قلت: الله ورسوله اعلم. قال: حق الله العبد ان يعبدوه ولا يسركوابه شيىا، وحق العبد عل الله ان لا يعذب من لا يسرك به سيعا، قلت: يا رسول الله افلا ابشر الناس؟ لا تبشر هم فيتكلوا.
"Aku pernah dibonceng Nabi saw. diatas seekor keledai. Lalu beliau berkata kepadaku, 'Hai Mu'adz, tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah? 'Aku menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.' Beliau pun berkata: 'Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah supaya mereka beribadah kepadaNya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya; sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya.' Aku bertanya, 'Yaa Rasulullah, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?' Beliau menjawab: 'Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka tadi akan bersikap menyandarkan diri." 
(HR. al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka)

Tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat, karena Rasulullah menyuruh Mu'adz agar tidak memberitahukan kepada mereka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah sehingga tidak mau berlomba-lomba dalam mengerjakan amal sholeh. Maka Mu'adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut kecuali diakhir hayatnya dengan rasa berdosa (kalau beliau wafat sebelum menyampaikannya). Oleh sebab itu, di masa hidup Mu'adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat.
~Ustadz Firanda Andirja, MA~ 




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Feb 20, 2015

Istiqomahan dalam keikhlasan

Pesan yang ada di dalam surah An-Naas dan Al-Falaq
  1. Surah An-Naas : Kita berlindung kepada Allah dengan menyebut tiga sifat-Nya (Rabb/ pengatur/pembimbing, Malik/raja, ilaah/sesembahan) untuk satu faktor internal yang ada di dalam diri kita, yaitu hati.
  2. Surah Al-Falaq : Kita berlindung kepada Allah dengan satu nama-Nya (Rabb Yang Menguasai Shubuh),  dari tiga faktor luar di dalam diri kita yang Dia ciptakan,  (dari malam yang mencekam, dari penyihir, dan dari kejahatan pendengki)

Artinya tantangan yang ada di dalam diri kita, sebetulnya jauh lebih besar dari tantangan yang ada di luar. Itu sebabnya untuk apa yang ada di dalam diri, yakni hati, kita berlindung dengan tiga nama-Nya, yakni sebagai Rabb, Malik, dan Ilaah. Padahal untuk sejumlah tantangan di luar diri kita, kita cukup berlindung dengan satu nama-Nya yakni Dzat Yang Menguasai Shubuh. Oleh karena itulah ia menjadi sangat penting. Karena ia adalah panglima bagi diri kita.
Idza shalahat shalahal jasadu kulluh
Wa idza fasadat fasadal jasadu kulluh
 Apabila ia baik, maka baik seluruhnya
Apabila ia buruk, buruk seluruhnya
Kebahagiaan letaknya ada di sana. Ada di hati. Ada pada hati yang teguh mengimani qadha dan qadar. Ada pada hati yang qanaah atas rezeki yang ia terima. Ada pada hati yang syukur dan sabar. Ada pada hati yang lapang. 

Ada satu nasihat dari seorang ulama, pimpinan pondok pesantren yang selalu saya ingat:
"Lapangkanlah hatimu, Lapang, selapang sabana (padang rumput nan luas). Sekalipun disana ada gajah, jerapah, macan, dsb. Niscaya sabana itu akan tetap luas. Tetapi jika hati kita sempit. Sempit, sesempit kamar-kamar tidur kita. Jangankan seekor jerapah. Seekor ayam sudah bisa membuatnya menjadi sempit. Luaskanlah hatimu. Luas, seluas samudera. Walaupun sampah-sampah itu masuk melalui muara, niscaya air samudera itu tetap bening. Tetapi jika hati kita sempit. Sempit, sesempit air di dalam gelas. Jangankan sampah dari sungai, setetes tinta sudah bisa membuatnya keruh. Dan hati yang lapang itu, bisa kita dapat dengan berdzikir. Alaa bi dzikrillahi Tathma'innu al-qulub (Hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang.)"
Ketenangan yang dimaksud adalah ketenangan hakiki. Ketentraman ketika kita "dipeluk" oleh barakah Allah SWT. Diterangi oleh cahaya Dia yang tidak pernah redup tersebab kita senantiasa berdekat-dengan dengan-Nya. Ada satu kisah menarik mengenai cara mendekat kepada-Nya, yakni dengan memiliki amal-amal rahasia.

Seperti yang dicontohkan oleh Ali bin Hussein yang memanggul karung berisi gandum di atas pundaknya setiap malam. Gandum-gandum itu ia bagi-bagikan kepada fakir miskin di kegelapan tak bercahaya karena ingin hanya dia dan Allah yang tahu. Orang-orang miskin pada masa itu tidak ada yang tahu, siapa yang selama ini senantiasa membagi-bagikan gandum kepada penduduk di tengah gelap. Maka ketika Ali bin Hussein meninggal, bantuan itu terhenti. Barulah penduduk madinah tahu bahwa selama ini yang membagi-bagikan gandum adalah ia. Bahkan, diceritakan ketika Ali bin Hussein meninggal, terlihatlah di punggungnya bekas-bekas guratan karena memikul karungan gandum ke rumah orang-orang miskin.

Demikianlah menjaga hati. Sedemikian sulitnya hingga kita perlu punya amal-amal rahasia. Biarkan "hanya aku dan Allah" yang tahu. Sebagai bekal di akhirat kelak. Karena siapa yang tahu, khawatir amal-amal yang lain ternoda oleh ketidakikhlasan. Ikhlashul ubbad, ikhalsul muhibbin fan ikhlasul  muqarabin adalah kombinasi perspektif ikhlash menurut syaikh ibn Ata'illah Assakandary dengan Syaikh Abdurrahman shiddiq al-banjari.

Ikhlashul ubbad adalah seseorang beribadah kepada Allah dengan mengharapkan pahala, surga, ampunan, dan balasan-balasan lainnya.
Ini adalah ikhlasul ubbad atau ikhlashnya para hamba. Allah tahu bahwa manusia bersifat pamrih, maka ketika mereka berbuat kebaikan atau beribadah, Allah berikan pada mereka apa-apa yang mereka ingini sekalipun Allah tak butuh itu. Seperti sesiapa membangun masjid di bumi maka Allah  akan bangunkan baginya istana di surga. Barang siapa membaca Al-Quran maka pada tiap hurufnya 1 kebaikan bermisal 10 kebaikan, dst. Sesiapa berinfaq maka Allah akan balas 700x lipat. Sesiapa beribadah kepada Allah dengan motivasi-motivasi tersebut, maka ia termasuk ikhlash, yakni ikhlashnya para hamba.

Ikhlashul muhibbin yaitu ikhlashnya para pecinta Allah. 
Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah, tetapi semuanya hanya karena Allah. Bukan karena yang lain. Mereka beribadah sudah tak lagi pikirkan surga atau pahala-pahala, tapi semata-mata karena sifat kehambaan dan cinta mereka kepada Allah. Semua mereka lakukan hanya karena Allah. Karena jika mereka sudah mendapatkan Allah, semua kenikmatan tak lagi ada artinya. Jika Allah sudah cinta dan ridha, tentulah surga, pahala, dsb tinggal mengikuti. Bukankah pada kenikmatan perjumpaan dengan Allah kelak, nikmatnya surga seakan tak pernah dirasa?

Ikhlasul muqarrabin yaitu ikhlashnya orang-orang yang dekat dengan Allah. 
Mereka beribadah, tetapi menyadari bahwa ibadah mereka bukan karena dirinya. Tapi semata karena kasih sayang Allah kepadanya. Ketika ia shalat tahajjud ia sadari itu karena rahmat Allah. Karena sekiranya Allah tak memudahkan tentu terasa berat ia melangkah tahajjud. Ketika ia berinfaq ia sadari itu hanya karena Allah, karena jika Allah tak memudahkan tentu berat baginya berinfaq. Ketika ia berdzikir ia sadari itu semata hanya karena Allah, karena jika Allah tak rahmati tentu berat terasa lisan akan berdzikir.
Itulah ikhlashul muqarrabin, menyadari kelemahan diri dalam beribadah. Menyadari kehambaan. Menyadari bahwa semua ibadahnya tak berarti. Sebab semua itu sungguh hanya karena rahmat Allah. Sedang dirinya hanyalah hamba yang lemah. Ikhlash inilah yang akan membawa nikmat pada keistiqamahan. Mengajak pada kesadaran bahwa segala amal tak berarti di hadapan-Nya. Ikhlash ini akan jauhi kita dari penyakit-penyakit hati. Sebagaimana dibahas oleh syaikh Abdurrahman Shidiq Albanjari. Seperti riya.

Riya itu ada dua macamnya : 
Riya jaali yakni riya yang terang-terangan
Seseorang melakukan ibadah karena ada orang lain yang melihatnya. Tetapi saat tidak ada orang lain yang melihatnya maka ia tak lakukan amal itu. Ia shalat di masjid ketika ada tamu, padahal ketika tidak ada tamu ia shalat di rumah. Patutlah ia bercermin jangan-jangan ia ke masjid bukan karena Allah, tapi karena ada tamunya.

Riya khaafii adalah riya yang tersembunyi
Yakni seseorang beribadah kepada Allah, baik ketika ada orang yang melihatnya, maupun tak ada orang lain yang melihatnya. Akan tetapi di dalam hatinya ada kecenderungan, ia merasa senang sekiranya ibadahnya itu diketahui oleh org lain. Ia tahajjud, baik ketika ada tamu, ada acara mabit, atau sendiri di rumah. Ia berinfaq, baik ada orang maupun ketika tak ada orang. Ia puasa sunnah, baik orang tahu ataupun tidak. Tapi di harinya ada kecenderungan merasa senang, seandainya orang lain tahu ibadah-ibadah dia itu. Itulah riya khaafii, riya yang samar. Yakni keinginan agar orang lain tahu betapa ia telah beramal sembunyi-sembunyi. 

Selain riya adalah sum'ah
Yaitu seseorang melakukan amal ibadah, kemudian menceritakan amalan itu kepada orang lain agar mendapatkan kebesaran diri. Seperti seseorang yang hendak tidur, ia digoda syetan agar tak wudhu dulu. Maka ia lawan. Ia ambil widhu sebelum tidur. Lalu ia digoda syetan agar tak shalat sunnah, maka ia lawan syetan tersebut dan dirikan shalat sunnah. Lalu ia digoda syetan agar tak membaca doa, maka ia lawan dan ia doa dulu sebelum tidur. Lalu ia bangun jam 2.30 untuk shalat tahajjud, Ia digoda syetan agar tak bangun. Ia lawan dan ia bangun. Ia digoda syetan agar wudhu tak sempurna, ia lawan. Ia digoda syetan agar tahajjud tak khusyu'. Ia lawan. Lalu ia berdzikir menanti shubuh. Ia pun mendapatkan ketenangan karena telah berkali-kali lawan syetan.
Pagi harinya ia ke kantor atau kampus, tadinya ia tak ingin cerita. Tapi syetan menelusup halus. Ia ceritakan betapa nikmat tadi malam saya tahajjud, hati ini terasa damai, teduh. Lalu muncullah bersamaan dengan cerita itu keinginan untuk mdapatkan kebesaran diri, maka itulah sum'ah. Hilanglah pahala tahajjudnya. Padahal ia telah melawan syetan berkali-kali sejak sebelum tidur, tapi ia kalah di garis finish. Demikianlah syetan menelusup halus bekerja dalam senyap. 

Dan terakhir setelah sum'ah, adalah ujub.
Yaitu seorang ahli ibadah, merasa bangga dengan ibadahnya. Seakan ia sudah dekat dengan Allah. 
Padahal seseorang yang dekat dengan Allah justru selalu merasa bahwa dirinya masihlah kotor. Penuh kehinaan di hadapan Allah. Ibadahnya belumlah sempurna. Atau termasuk ujub yaitu seorang 'alim merasa bangga dengan ilmunya. Padahal semakin berilmu semestinya semakin tawadhu', karena semakin banyak yang ia tahu, ia akan sadar bahwa banyak sekali yang ia belum tahu. Ujub adalah penyakit hati. Ia bisa dikikis dengan menjaga keikhlashan.
~Ustad Sigit kamseno~




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Nov 26, 2014

Keikhlasan

Saudariku sayang...
Ibnu Qayyim pernah berkata,
"Jika kamu melihat keikhlasan dalam perbuatan ikhlasmu, maka keikhlasanmu harus di ikhlaskan lagi." 
Masya Allah, itu sebagai isyarat bahwa ikhlas itu bukan perkara mudah dan dia ada dalam wilayah hati. Jika bicara hati, maka hati itu ada dalam kendali Rabb. Bahkan kita pun tidak akan pernah bisa mengetahui atau mengendalikan hati kita. Itu sebabnya doa yang diajarkan Rasul adalah, "yaa muqollibal qulub, tsabbit qolbi 'ala diinika, tsabbit qolbi 'ala tho'atika." (Wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku dalam agamaMu, teguhkan hatiku dalam taat padaMU)

Saudariku sayang...
Ikhlas itu bab kita untuk berupaya melakukannya tapi bab Allah untuk menilainya. Kita takkan pernah bisa tahu apakah kita ikhlas atau tidak. Bahkan ibnu qayyim menegaskan dalam perkataannya tadi, saat kita mengetahui bahwa kita sudah ikhlas, justru pada saat itulah kita belum ikhlas. Jadi urusan kita adalah terus beramal.

Jika ada bisikan setan yang mengganggu dan membuat kita riya atau seakan-akan riya, maka jangan berhenti dari kebaikan itu, tapi iringi dengan istighfar. Itu sebabnya Islam mengajarkan kita untuk beristighfar setiap selesai melakukan kebaikan, bahkan selesai shalat, setelah salam yang pertama kali disunnahkan untuk diucapkan adalah "astaghfirullaha 'adzim". Karena boleh jadi dalam kebaikan itu ada saja kotoran-kotoran yang bisa merusaknya. Maka hapus kotoran itu dengan istighfar.

Jika kita tidak jadi beramal soleh karena takut riya, itu juga riya. Umar RA pernah menyampaikan jikalau kita dalam kondisi takut riya dalam beramal, tetaplah beramal disertai istighfar. Fudhail Bin Iyadh rahimahullah berkata:
“Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’ dan ikhlas adalah Allah menyelamatkanmu dari keduanya”
Implementasinya yang pasti tetap beribadah, disertai istighfar dan terus luruskan niat karena Allah. Sering orang merasa dalam dirinya, "saya ikhlas", "insya Allah ikhlas". Justru ketika itu terjadi tandanya kita belum ikhlas. Itu sudah masuk ke dalam wilayah Allah. Wilayah kita beramal sambil berupaya mengikhlaskan diri.

Tapi apakah benar ikhlas/tidak, hanya Allah yang tahu, dan jangan berupaya mencari tahu. Banyak istighfar dan berdoa pada Allah agar semua amalan kita bernilai pahala dan jadi pengundang rahmat Allah. Karena Rahmat Allah itulah yang menyebabkan kita masuk surga. Itu sebabnya ada doa "Allahumma taqobbal minna, sholatana, wa shiyamana, wa qiyamana, wa ruku' ana, wa sujudana, ........". Setelah itu, kita serahkan semuanya pada Allah.

Dan Katakanlah: "
Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
(At Taubah: 105) 

Saudariku sayang...
Kita menyulam ukhuwah bersama, ada bagian hati yang hilang saat dirimu tak berkabar. Bagaimana keadaanmu? Sehatkah? Sedang tersenyum atau menangiskah? Sedang lapangkah atau tengah berat bahumu? Bukankah kita sebagai saudari saling membangun dan saling mengingatkan. Kami mencintaimu karena Allah sayang.

Apa yg lebih indah selain kita dapat memandang Wajah Rabb bersama-sama. Apa yang lebih indah dari mencintai dan menyayangi karena Allah. Bahkan Rabb menjanjikan sebuah naungan arsy. Dipadang mahsyar nanti bagi yg saling mencintai karena Allah.

Saudarimu yang sangat menyayangimu karena Allah.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee