Showing posts with label Inspiring Story. Show all posts
Showing posts with label Inspiring Story. Show all posts

Mar 27, 2015

Renungan : Rezeki

Syaikh Ali Mustafa Thanthawi -rahimahullah-mengatakan:

Falsafah rezeki itu sangat sulit untuk dimengerti, juga terlalu jauh untuk bisa diraih.
Tengoklah kehidupan manusia. Diantara mereka ada para penyelam yang Allah jadikan roti (kehidupan) mereka dan segenap keluarga tersimpan jauh di dasar lautan. Mereka takkan bisa menggapainya hingga mereka menyelam ke dasar lautan yang dalam.

Ada juga para pilot yang Allah jadikan roti (kehidupan) mereka berada di atas awan, sehingga mereka tidak mungkin mendapatkannya sampai mereka terbang tinggi ke angkasa.

Ada juga yang roti (kehidupannya) tersembunyi di dalam bebatuan yang sangat keras, sehingga mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan memecah batu-batu itu.

Ada pula orang-orang yang rezeki mereka berada di bawah gorong-gorong air yang kotor, atau di tempat-tempat penambangan yang dalam, dimana wajah mentari dan cahaya siang tak dapat dilihat.

Ada orang yang mendapatkan bagian rezekinya dengan tangan, kaki, lisan dan otaknya. Ada juga yang tidak bisa meraihnya kecuali dengan mempertaruhkan nyawa dan menghadapkan diri kepada kematian, seperti halnya para pemain sirkus yang selalu saja diburu kematian. Kalau ia tidak mendapati rezekinya dengan cara jatuh bertumpuh di atas kepala, ia mendapatinya ketika berada di antara taring-taring singa atau di bawah kaki-kaki gajah.

Maka bersyukurlah kepada Allah, karena Dia telah menjadikan rezekimu berada di atas meja kerjamu. Kau bisa meraihnya sambil duduk di atas kursi. Dia tidak menjadikannya berada di puncak-puncak gunung yang tinggi, atau di dasar lautan yang dalam, juga tidak harus berhadapan dengan singa ataupun macan.
-Syekh Ali Musthafa Thanthawi dalam risalah Ma'a An-Naas-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 26, 2015

Walau Kami...

Walau tak dikayakan seberlimpah Sulaiman;
karuniai kami syukur dan tawadhu'nya, yang hormati semut serta burung hud-hud

Walau usia tak sepanjang Nuh;
tegarkan kami dengan kegigihan da'wah dan tekad bajanya untuk terus sampaikan kebenaran

Walau tak setampan Yusuf;
kuatkan diri kami menahan semua goda dan derita

Walau tak perlu ditelan ikan di gelap lautan;
hiasi jiwa kami dengan kepasrahan Yunus yang rintih doanya terdengar

Walau ujian cinta tak seberat Ibrahim, Hajar dan Sarah;
limpahi keluarga kami sakinah, mawaddah, dan rahmah dengan keturunan sholih-sholihah

Walau tak harus lari dan sembunyi sebagaimana Ashabul Kahfi;
beri kami keberanian dan perlindungan saat tegas mengatakan Al Haqq di depan tirani

Walau ilmu tak seutuh Luqman Al Hakim;
tajamkan pikir dan rasa kami 'tuk mengambil ibrah di setiap kejadian.
~Ust. Salim A. Fillah~





shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 16, 2015

Isak Tangis Sang Kakek Dalam Tilawah

Dalam kesehariannya menjual balon mainan anak-anak, ditengah kecepeannya dia berhenti. Usianya yang renta, 85 tahunan bukanlah usia yang lagi pas untuk bekerja. Tetapi dia menjaga kemuliaan dirinya untuk tetap bekerja tanpa berharap uluran belas kasih dari siapapun. Bahkan dari anaknya.

Ditengah dia melepas lelah, kerasnya kehidupan yang tak mengampuni siapapun yang salah, dunia yang semakin hari semakin parah. Sang Kakek mengeluarkan Al Qur'an sakunya dan terdengarlah suaranya yang merintih melafalkan ayat demi ayat Al Qur'an yang mulia ini. Sang Kakek tak perlu kacamata walaupun mungkin dia membutuhkannya karena faktor usia. Dia membaca dengan fasih bahkan sangat fasih.

Sang kakek mengusap matanya, dia menangis, dia menangis bukan karena perihnya hidup. Bukan karena masa muda yang dibuang sia-sia. Tapi sang kakek membaca Al Qur'an sekaligus membaca terjemahannya yang berbunyi
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا} [الكهف : 110
"Katakanlah : Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Rabb kamu itu adalah Tuhan yang esa. "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya."
Bagian ayat inilah yang membuat sang kakek penjual mainan anak ini menangis. Apakah jasad yang hina ini bisa bertemu dengan Allah, berkumpul dengan para Nabi dan Rasul di satu syurga yang sama. Masya Allah.

Wahai Anak Muda...
Tidakkah Kalian Malu pada sang kakek ini?
Tidakkah usia mudamu melakukan sesuatu dengan berharap kehidupan akhirat dan berjumpaan dengan Allah ta'ala semata? 
ALLAHU AKBAR  Walillahilhamd




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 15, 2015

Renungan : Nafkah Suami Untuk Istri

Harta istri adalah harta milik istri, baik yang dimiliki sejak sebelum menikah, atau pun setelah menikah. Harta istri setelah menikah yang terutama adalah dari suami dalam bentuk nafaqah (nafkah), selain juga mungkin bila istri itu bekerja atau melakukan usaha yang bersifat bisnis.

Khusus masalah nafkah, sebenarnya nafkah sendiri merupakan kewajiban suami dalam bentuk harta benda untuk diberikan kepada istri. Segala kebutuhan hidup istri mulai dari makanan, pakaian dan tempat tinggal, menjadi tanggungan suami. Dengan adanya nafkah inilah kemudian seorang suami memiliki posisi qawam (pemimpin) bagi istrinya, sebagaimana firman Allah SWT:
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka."
(QS. An-Nisa': 34)
Namun yang seringkali terjadi, sebagian kalangan beranggapan bahwa nafkah suami kepada istri adalah biaya kehidupan rumah tangga atau uang belanja saja. Pemandangan sehari-harinya adalah suami pulang membawa amplop gaji, lalu semua diserahkan kepada istrinya.

Cukup atau tidak cukup, pokoknya ya harus cukup. TInggallah si istri pusing tujuh keliling, bagaimana mengatur dan menyusun anggaran belanja rumah tangga. Kalau istri adalah orang yang hemat dan pandai mengatur pemasukan dan pengeluaran, suami tentu senang.

Yang celaka, kalau istri justru kacau balau dalam mengatur keuangan. Alih-alih mengatur keuangan, yang terjadi justru besar pasak dari pada tiang. Ujung-ujungnya, suami yang pusing tujuh keliling mendapati istrinya pandai membelanjakan uang, plus hobi mengambil kredit, aktif di arisan dan berbagai pemborosan lainnnya.

Padahal kalau kita kembalikan kepada aturan asalnya, yang namanya nafkah itu lebih merupakan ‘gaji’ atau honor dari seorang suami kepada istrinya. Sebagaimana ‘uang jajan’ yang diberikan oleh seorang ayah kepada anaknya.

Adapun kebutuhan rumah tangga, baik untuk makan, pakaian, rumah, listrik, air, sampah dan semuanya, sebenarnya di luar dari nafkah suami kepada istri. Kewajiban mengeluarkan semua biaya itu bukan kewajiban istri, melainkan kewajiban suami.

Kalau suami menitipkan amanah kepada istrinya untuk membayarkan semua biaya itu, boleh-boleh saja. Tetapi tetap saja semua biaya itu belum bisa dikatakan sebagai nafkah buat istri. Sebab yang namanya nafkah buat istri adalah harta yang sepenuhnya menjadi milik istri.

Kira-kira persis dengan nafkah di awal sebelum terjadinya akad nikah, yaitu mahar atau maskawin. Kita tahu bahwa sebuah pernikahan diawali dengan pemberian mahar atau maskawin. Dan kita tahu bahwa mahar itu setelah diserahkan akan menjadi sepenuhnya milik istri.

Suami sudah tidak boleh lagi meminta mahar itu, karena mahar itu statusnya sudah jadi milik istri. Kalau seandainya istri dengan murah hati lalu memberi sebagian atau seluruhnya harta mahar yang sudah 100% menjadi miliknya kepada suaminya, itu terserah kepada dirinya. Tapi yang harus dipastikan adalah bahwa mahar itu milik istri.

Sekarang bagaimana dengan nafkah buat istri?
Kalau kita mau sedikit cermat, sebenarnya dan pada hakikatnya, yang disebut dengan nafkah buat istri adalah harta yang sepenuhnya diberikan buat istri. Dan kalau sudah menjadi harta milik istri, maka istri tidak punya kewajiban untuk membiayai penyelenggaraan rumah tangga. Nafkah itu ‘bersih’ menjadi hak istri, di luar biaya makan, pakaian, bayar kontrakan rumah dan semua kebutuhan sebuah rumah tangga.

Mungkin Anda heran, kok segitunya ya? Kok matre’ banget sih konsep seorang istri dalam Islam?
Jangan heran dulu, kalau kita selama ini melihat para istri tidak menuntut nafkah ‘eksklusif’ yang menjadi haknya, jawabnya adalah karena para istri di negeri kita ini umumnya telah dididik secara baik dan ditekankan untuk punya sifat qana’ah. Saking mantabnya penanaman sifat qana’ah itu dalam pola pendidikan rumah tangga kita, sampai-sampai mereka, para istri itu, justru tidak tahu hak-haknya. Sehingga mereka sama sekali tidak mengotak-atik hak-haknya.

Memandang fenomena ini, salah seorang murid di pengajian nyeletuk, “Wah, ustadz, kalau begitu hal ini perlu tetap kita rahasiakan. Jangan sampai istri-istri kita sampai tahu kalau mereka punya hak nafkah seperti itu.”

Yang lain menimpali, “Setuju ustadz, kalau sampai istri-istri kita tahu bahwa mereka punya hak seperti itu, kita juga ntar yang repot nih ustadz. Jangan-jangan nanti mereka tidak mau masak, ngepel, nyapu, ngurus rumah dan lainnya, sebab mereka bilang bahwa itu kan tugas dan kewajiban suami. Wah bisa rusak nih kita-kita, ustadz.”

Yang lain lagi menambahi, “Benar ustadz, bini ane malahan sudah tahu tuh masalah ini. Itu semua kesalahan ane juga sih awalnya. Sebab bini ane tuh, ane suruh kuliah di Ma’had A-Hikmah di Jalan Bangka. Rupanya materi pelajarannya memang sama ame nyang ustadz bilang sekarang ini. Cuman bini ane emang nggak tiap hari sih begitu, kalo lagi angot doang.”

“Tapi kalo lagi angot, ustadz, bah, ane jadi repot sendiri. Tuh bini kagak mao masak, ane juga nyang musti masak. Juga kagak mau nyuci baju, ya udah terpaksa ane yang nyuciin baju semua anggota keluarga. Wii, pokoknya ane jadi pusing sendiri karena punya bini ngarti syariah.”

Menjawab ‘keluhan’ para suami yang selama ini sudah terlanjur menikmati ketidak-tahuan para istri atas hak-haknya, kami hanya mengatakan bahwa sebenarnya kita sebagai suami tidak perlu takut. Sebab aturan ini datangnya dari Allah juga. Tidak mungkin Allah berlaku berat sebelah. Sebab Allah SWT selain menyebutkan tentang hak-hak seorang istri atas nafkah ‘eksklusif’, juga menyebutkan tentang kewajiban seorang istri kepada suami. Kewajiban untuk mentaati suami yang boleh dibilang bisa melebihi kewajibannya kepada orang tuanya sendiri.

Padahal kalau dipikir-pikir, seorang anak perempuan yang kita nikahi itu sejak kecil telah dibiayai oleh kedua orang tuanya. Pastilah orang tua itu sudah keluar biaya besar sampai anak perawannya siap dinikahi. Lalu tiba-tiba kita datang melamar si anak perawan itu begitu saja, bahkan kadang maskawinnya cuma seperangkat alat sholat tidak lebih dari nilai seratus ribu perak.

Sudah begitu, dia diwajibkan mengerjakan semua pekerjaan kasar layaknya seorang pembantu rumah tangga, mulai dari subuh sudah bangun dan memulai semua kegiatan, urusan anak-anak kita serahkan kepada mereka semua, sampai urusan genteng bocor. Sudah capek kerja seharian, eh malamnya masih pula ‘dipakai’ oleh para suaminya.

Jadi sebenarnya wajar dan masuk akal kalau untuk para istri ada nafkah ‘eksklusif’ di mana mereka dapat hak atas ‘honor’ atau gaji dari semua jasa yang sudah mereka lakukan sehari-hari, di mana uang itu memang sepenuhnya milik istri. Suami tidak bisa meminta dari uang itu untuk bayar listrik, kontrakan, uang sekolah anak, atau keperluan lainnya.

Dan kalau istri itu pandai menabung, anggaplah tiap bulan istri menerima ‘gaji’ sebesar Rp 1 juta yang utuh tidak diotak-atik, maka pada usia 20 tahun perkawinan, istri sudah punya harta yang lumayan 20 x 12 = 240 juta rupiah. Lumayan kan?

Nah harta itu milik istri 100%, karena itu adalah nafkah dari suami. Kalau suami meninggal dunia dan ada pembagian harta warisan, harta itu tidak boleh ikut dibagi waris. Karena harta itu bukan harta milik suami, tapi harta milik istri sepenuhnya. Bahkan istri malah mendapat bagian harta dari milik almarhum suaminya lewat pembagian waris.

Semoga Bermanfaat.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 12, 2015

Hikmah Cerita : Rasa Sakit

Pada acara reality show Oprah Winfrey ditampilkan seorang gadis mungil, usia 5 tahun, asal Amerika Serikat, memakai kacamata plastik (seperti untuk berenang), lucu, manis, secara fisik terlihat normal dan berperilaku seperti anak-anak seusianya. Hanya saja, si gadis kecil ini mengidap suatu penyakit bawaan yang langka, yaitu tidak memiliki rasa sakit (tidak memiliki syaraf rasa sakit) di sekujur tubuhnya.

Sejak bayi, si kecil jarang rewel dan  menangis. Hanya terkadang suhu badannya yang menghangat. Penyakit bawaan yang diderita si kecil itupun baru diketahui (kalau tidak salah) ketika sang bocah mencolok-colok matanya karena gatal dan tidak menangis kesakitan padahal darah mengalir keluar. Akibat kejadian tersebut, satu matanya menjadi buta. Setelah itu dia diberi kacamata khusus untuk melindunginya.

Pernah suatu ketika, ketika gigi si kecil sudah tumbuh, saat kedua orangtuanya agak lengah, si kecil sedang asyik menggigit-gigit jari tangannya sendiri hingga hancur. Tentu saja si kecil tetap tenang karena sama sekali tidak merasakan sakit. Sebagai pencegahan, akhirnya diputuskan untuk mencabut semua giginya agar dia tidak sampai mengunyah lidahnya sendiri.

Karena kejadian-kejadian itulah, si kecil mendapat perhatian dan pengawasan ekstra dari seluruh keluarganya. Dengan kehilangan sensitifitas dikhawatirkan akan adanya bahaya-bahaya yang bisa menimpanya.

Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Agar kita kembali merenungi dan mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita dan meyakini bahwa segala ciptaan dan pemberian Allah adalah tidak sia-sia, termasuk rasa sakit yang seringkali kita tidak sabar untuk menghadapinya.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 10, 2015

Kebaikan dan Kejahatan Tidak Sesederhana Yang Terlihat

Sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan di laut dan akan segera tenggelam. Sepasang suami istri berlari menuju ke skoci untuk menyelamatkan diri. Sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci menjauh dan kapal itu benar-benar menenggelamkannya.

Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya, 
“Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?”
Sebagian besar murid-murid itu menjawab, 
“Aku benci kamu!”
“Kamu tau aku buta!!”
“Kamu egois!”
“Nggak tau malu!”
Tapi guru itu kemudian menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid yang diam saja itu menjawab.  Kata si murid, 
“Guru, saya yakin si istri pasti berteriak, ‘Tolong jaga anak kita baik-baik’”.
Guru itu terkejut dan bertanya, 
“Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?”
Murid itu menggeleng. 
“Belum. Tapi itu yang dikatakan oleh mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”
Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, 
“Jawaban ini benar.”
Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian. 

Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orangtuanya  naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal. Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup.  Dia menulis di buku harian itu, 
“Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”
Cerita itu selesai. Dan seluruh kelas pun terdiam.

Guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang mengerti moral dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita sering pikirkan. Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti.

Karena itulah kita seharusnya jangan pernah melihat hanya di luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.

Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep tanggung jawab.

Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar, mungkin bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai persahabatan.

Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menganggap kamu adalah sahabat.

Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 9, 2015

Abdullah bin Ummi Maktum

Lelaki renta itu, dengan kehalusan hatinya ingin ber-Islam menjadi sebab turunnya ayat ‘Abasa watawalla', Rasul pun ditegur Allah karenanya. Seorang miskin lagi buta, bukan berarti tak lebih utama dari para pemuka negara.

Lelaki renta itu, pernah minta keringanan untuk tidak ikut sholat berjamaah di masjid karena dia buta, karena dia sebatang kara, karena masjid jauh sekali dari rumahnya, tapi tanya Rasul, “Apakah engkau masih mendengar adzan?” saat dijawabnya masih, maka kata Rasul, “Kalau begitu, berangkatlah.” 

Lalu, tunduk patuh ia pada perintah sekali pun tak pernah ia sanggah tiap sholat lima waktu sholat berjamaah. Meski fajar masih pekat dan jarak masjid tak dekat, ia meraba-raba dalam gelap. Hingga suatu saat, kakinya tersandung bongkahan batu badannya terjerembab jatuh,
mukanya tersungkur di runcingnya batu berdarah-darah.

Setelahnya, selalu datang seorang lelaki menuntunnya dengan ramah pergi dan pulang sholat berjamaah setiap hari, setiap lima waktu. Hingga suatu saat lelaki tua ingin sekali tahu siapa gerangan lelaki penolongnya itu karena ingin ia doakan atas kebajikannya selama ini. Tapi kata lelaki muda, “Jangan sekali-kali kau doakan aku dan jangan sekali-kali kau ingin tahu namaku karena aku adalah iblis”

Sontak lelaki renta itu terkejut, “Bagaimana mungkin engkau menuntunku ke masjid, sedangkan dirimu menghalangi manusia untuk mengerjakan sholat?”

Iblis menjawab, “Ingatkah dulu saat kau hendak sholat subuh berjamaah, kau tersandung batu, lalu bongkahannya melukai wajahmu? Pada saat itu aku mendengar ucapan Malaikat, bahwa Allah telah mengampuni setengah dosamu. Aku takut kalau engkau tersandung lagi, lalu Allah menghapuskan setengah dosamu yang lain. Maka aku selalu menuntunmu ke masjid dan mengantarkanmu pulang.”

Lalu, saat tubuh itu merenta makin menua dimakan usia datang seruan perang Qaddisiyah. Sang khalifah Umar mengumpulkan segenap lelaki dari seluruh penjuru negeri  terselip ia, berbaris bersama ingin sekali ikut berperang di medan laga demi cita-cita mulia. Khalifah Umar melarangnya, bagaimana seorang buta lagi renta, akan ikut berperang? Bagaimana jika dia langsung celaka terkena tombak? Atau justru mencelakai temannya karena tak mampu mengenali siapa.

Tapi, lelaki tua itu bersikukuh, “Tempatkan aku di  antara dua pasukan yang berperang. Aku akan membawa panji kemenangan. Aku akan memegangnya erat-erat untuk kalian. Aku buta, karena itu aku pasti tak akan lari”. Khalifah, tak lagi mampu menghalangi.

Lalu semuanya, berangkatlah lekaki tua itu ingin menepati janjinya dengan baju besi yang dikenakannya dan bendera besar yang dibawanya, dia berjanji akan mengibarkannya senantiasa, atau mati terkapar di sampingnya. Lewat pertempuran Qaddisiyah, Persia yang congak pun kalah tapi kemengangan itu tak murah dibayar dengan nyawa ratusan syuhada, terselip di antara mereka
jenazah lelaki tua terkapar berlumuran darah sambil memeluk erat sebuah bendera sungguh, dia telah menepati janjinya.

Wahai lelaki mulia, sesak dadaku membaca kisah hidupmu, menyungai sudut mataku mengenangmu. Engkau buta, sebatangkara dan renta tapi itu tak membuatmu pasrah dan diam meski udzur telah membolehkanmu untuk tak kemana-mana, di rumah saja. 

Lalu, bagaimana dengan diriku ini? Aku masih muda, aku bukan fuqara, akuu tak buta jua tak sebatangkara. Tapi kenapa, sering sekali ada alasan mendera untuk tak bersegera?

Lelaki sepertimu, dengan segala keterbatasan terus mencari-cari alasan agar mampu mengambil peran. Sedang aku, kita dengan segala kemudahan sering mencari-cari alasan agar boleh tak ikut berperan. Lalu, dengan apa akan kita buktikan bahwa kita ini beriman?

Mari belajar darinya, Abdullah bin Ummi Maktum.
-Ustadz Sani bin Husein, S.Si.-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 7, 2015

OM Naik Onta

Alkisah OM yang sedang umroh ikut tour di tanah Arab, seperti orang Indonesia yang lain ia juga naik onta.  Tidak seperti onta di Indonesia ketika OM bilang : "Duduk" onta langsung duduk. Onta di Arab walaupun OM sudah bilang : "Duduk, Sit Sit, Jongkok, Diuk" onta tetap berdiri dan OM bingung  gak bisa naik. 

Pawang Onta : "Bilang 'Assalammualaikum', baru onta akan duduk.." 
OM : "Assalammualaikum" (onta duduk. OM lantas naik, onta langsung berdiri lagi)

OM : "Jalan. jalan.." (onta tetap diam. Dipukul pukul punggungnya, onta tetap ga mau jalan)

Pawang Onta : "Bilang Bismillah." 
OM : "Bismillah" (onta jalan. OM senang jalan naik onta dg PO jalan disampingnya.)

Tak lama kemudian...
OM : "Pawang Onta, gimana cara nyuruh ontanya lari ya?" 
Pawang Onta : "Bilang saja Alhamdulilah.".  
OM : "Alhamdulilah.." (dan onta berlari. OM senang sekali, saking senangnya OM bilang lagi: "Alhamdulilah." si onta berlari tambah kencang. Pawang Onta makin ketinggalan.)

Ketika sudah jauh Pawang Onta ingat, belum memberi tahu caranya onta berhenti. Dari jauh Pawang Onta berteriak: "Kalo mau berhenti bilang Innalillahi." Karena sudah jauh OM tidak mendengar.

Onta berlari terus dengan kencang. Akhirnya di kejauhan OM melihat didepan ada jurang yang dalam. OM ketakutan, mencoba menghentikan onta : "Stop, stop, stoooop, stooop, oop, oop..!! Onta tetap berlari, jurang terpampang didepan mata. "Mate sayya..!" kata OM tahu dia akan jatuh kejurang dan mati. 

Saking paniknya OM berteriak: "Innalillahi..!!" sambil memejamkan mata pasrah... Ciuuuuut onta berhenti... dan ketika OM membuka mata.... dia melihat persis ditepi jurang... hatinya lega...
Saking senangnya ga jadi mati OM berteriak : "Alhamdullilah..!" akhirnya, Plung-OM masuk jurang-.





shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Sepenggal Cerita Indah Bersama Syaikh Abdurrozaq al Badr

Tadi malam, Syaikh Abdurrozaq memanggil ana.
"Badrusalam kemari."
"Iya syaikh", jawabku.
"Ana mau cerita padamu agar kamu tertawa tapi berfaidah."
"Cerita apa syaikh?" jawabku.
Syaikh berkata, 
"tadi sore ana merenung sendirian di apartemen ini. Ana berada di tingkat 35 setinggi ini..kira kira ada semut tidak ya?"

Aku melihat ke lantai. Ternyata ada semut. hehehe akupun tertawa.

Syaikh berkata,
"Di sini ada faidah yang bermanfaat. Lihatlah semut ini naik ke tingkat setinggi ini untuk mencari makanan. Iya semangat dalam hidupnya untuk sesuatu yang bermanfaat. Sementara banyak orang bermalas-malasan di rumahnya. Dahulu ada seseorang ditanya dari mana kamu belajar kesabaran? Ia menjawab dari semut. Aku melihat semut yang membawa roti ke atas berkali kali ia jatuh namun tak pernah berputus asa, akhirnya berhasil juga."

Itulah kawan sepenggal cerita indah disaat bersantai dengan beliau dalam bercanda pun beliau tetap memberi faidah. Subhanallah. Walhamdulillah.
~Ustadz Badru Salam, Lc~




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 6, 2015

Merelakan Sesuatu Yang Disayangi

Di suatu malam seorang ayah membacakan cerita untuk anak perempuannya. Setelah membacakan cerita, si ayah bertanya kepada anaknya,
"Nak, apa kamu sayang Ayah?"
Si anak menjawab, 
"Tentu saja aku sayang Ayah"
Ayahnya tersenyum lalu bertanya, 
"Kalau begitu, boleh Ayah minta kalungmu?"
Lalu si anak menjawab, 
"Ayah, aku sayang Ayah, tapi aku juga sayang sama kalung ini"
Lalu Ayahnya berkata, 
"Ya sudah tidak apa-apa, Ayah hanya bertanya saja"
Si ayah lalu pergi.

Di malam berikutnya selama 3 hari berturut-turut, ayahnya menanyakan hal yang sama dan si anak pun menjawab dengan kata-kata yang sama. Si anak berpikir sambil memegang kalung imitasi kesayangannya itu, 
"Kenapa tiba-tiba Ayah mau kalung ini? Ini kalung yang paling aku sayangi, kalung ini pun pemberian Ayah juga"
Malam berikutnya, sang Ayah menanyakan hal yang sama, lalu si anak berkata, 
"Ayah, Ayah tahu aku sayang sama Ayah dan juga kalung ini. Tapi kalau Ayah mau kalung ini, ya sudah aku berikan ke Ayah"
Si anak memberikan kalungnya dan Ayahnya mengambilnya dengan tangan kiri, lalu Ayahnya memasukkan tangan kanannya ke saku kanan dan mengambil kalung berbentuk sama namun emasnya asli. Ayahnya mengenakannya pada leher anaknya, 
"Anakku, sebetulnya kalung ini sudah ada di saku Ayah sejak pertama kali Ayah meminta kalungmu, tapi Ayah menunggu kamu memberikan sendiri kalungmu itu dan Ayah gantikan dengan yang lebih baik dan indah"
Si anak menangis terharu.

Seringkali kita merasa Tuhan tidak adil. Dia yang memberikan tapi kenapa Dia juga yang mengambilnya, kadang kita selalu sakit hati, sedih dan kecewa, tapi tidakkah kita tahu, di saat Tuhan mengambil sesuatu yang berharga dari kita, ternyata Tuhan punya rencana lain. Dia mau menggantikannya dengan yang LEBIH BAIK lagi dari apa yang sudah kita miliki sekarang.
Jadi,
  • Terimalah apapun yang kita alami (bersabar),
  • Berilah apa yang harus kita berikan (beramal),
  • Kembalikanlah apa yang diminta oleh Tuhan (ikhlas), dan
  • Tetaplah bersyukur, maka rejekimu akan dilipat gandakan





shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 1, 2015

Balon

Pada suatu acara seminar yang dihadiri oleh sekitar 50 peserta. Tiba-tiba sang Motivator berhenti berkata-kata dan mulai memberikan balon kepada masing-masing peserta. Dan kepada mereka masing-masing diminta untuk menulis namanya di balon-balon tersebut dengan menggunakan spidol. Kemudian semua balon dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam ruangan lain.

Sekarang semua peserta disuruh masuk ke ruangan itu dan diminta untuk menemukan balon yang telah tertulis nama mereka dengan diberi waktu hanya 5 menit. 

Semua orang panik mencari nama mereka, bertabrakan satu sama lain, mendorong dan berebut dengan orang lain di sekitarnya sehingga terjadi kekacauan. Waktu 5 menit sudah usai, tidak ada seorangpun yang bisa menemukan balon mereka sendiri. 

Lalu di waktu berikutnya Sang Motivator meminta kepada Peserta untuk secara acak mengambil
sembarang balon dan memberikannya kepada orang yang namanya tertulis di atasnya. Dalam beberapa menit semua orang punya balon dengan nama mereka sendiri.

Akhirnya sang Motivator berkata :
"Kejadian yang baru terjadi ini mirip dan sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua orang sibuk mencari kebahagiaan untuk diri sendiri, mirip dengan mencari balon mereka sendiri, dan banyak yang gagal. Mereka baru berhasil mendapatkannya ketika mereka memberikan kebahagiaan kepada orang lain, mirip dengan memberikan balon tadi kepada pemiliknya."

Kebahagiaan kita terletak pada kebahagiaan orang lain. Beri kebahagiaan kepada orang lain, maka anda akan mendapatkan kebahagiaan anda sendiri. 

Penutup
Manusia terbaik pernah memberikan nasehat,
"Barangsiapa yang membantu seorang mu'min terlepas dari kesusahan didunia, niscaya Allah akan membantunya terlepas dari kesusahan dunia dan akhirat"
(HR.Muslim)




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Feb 25, 2015

Kisah Inspiratif

Pada suatu waktu, seorang anak yang bernama Hamid hidup dan sekolah di sebuah desa terpencil di pedalaman Maroko. Semua teman sekelas membencinya karena kebodohannya, terlebih lagi guru si Hamid yang selalu berteriak kepadanya "kamu membuat saya gila Hamid!"
Suatu hari ibunya datang ke sekolah untuk melihat apa yang Hamid lakukan, si guru menceritakan apa adanya kepada sang ibu bahwa anaknya adalah sebuah bencana bagi sekolah, selalu dapat nilai jelek dan dia tidak pernah melihat anak sebodoh itu sepanjang karirnya. Ibu si Hamid tidak terima mendapatkan laporan seperti itu, Hamid dikeluarkan dari sekolah itu dan pindah ke kota lain.
25 tahun kemudian...
Sang guru terkena serangan jantung, dokter menyarankan agar dia melakukan operasi ke dokter spesialis bedah jantung. Karena tak ada jalan lain, akhirnya operasi pun dilakukan dan sukses. Sesaat setelah operasi, sang guru membuka matanya, dia melihat seorang dokter yang tampan dan tersenyum padanya, dia mau mengucapkan sesuatu pada si dokter tapi tak mampu bicara karena masih terpengaruh obat bius. Sejurus kemudian sang guru kelihatan panik dan menggerak-gerakan kepalanya, wajahnya mulai kelihatan membiru, dia mengangkat tangannya untuk memberitahu sang dokter tentang sesuatu tapi terlambat, si guru akhirnya mati.
Dokter sangat terkejut dan berusaha memahami apa yang barusan terjadi, dia membalikan badannya dan melihat si Hamid yang bekerja di rumah sakit itu sebagai cleaning service mencabut
colokan listrik alat bantu pernapasan untuk diganti dengan colokan listrik vakum cleanernya.
Jika anda berpikir bahwa Hamid adalah si dokter, berarti anda terlalu banyak nonton sinetron dan
film India atau terlalu sering menghadiri seminar motivasi. Semangat untuk menjadi terbaik dalam menilai orang melalui prasangka baik. Jangan men-judge sesuatu karena kesalahan. Anggaplah sebaga ibroh/pelajaran untuk diri kita atas segala nikmat-Nya.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Feb 23, 2015

Koin Penyok

Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu. Ia membungkuk dan menggerutu kecewa.
"Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok." 
Meskipun begitu, ia mengambil dan membawa koin itu ke bank.
"Sebaiknya koin ini anda bawa ke kolektor uang kuno", kata teller itu memberi saran. 
Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 ribu. Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 ribu untuk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. 
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 ribu untuk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu. 
Dalam perjalanan dia melewati perumahan. Seorang wanita melihat lemari yang indah itu dan menawarnya 2 juta. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi 2.5 juta. Lelaki itupun setuju. 
Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 2.5 juta. Tiba-tiba seorang perampok datang, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya dan bertanya, 
"Apa yang terjadi? Engkau baik-baik saja kan? Apa yang diambil perampok tadi?" 
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi". 
Sahabat yang baik.
Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala yang telah kita miliki, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa. Ingat !
Menderita karena melekat
Bahagia karena melepas
Karena demikianlah hakikat sejatinya kehidupan, apa yang sebenarnya yang kita punya dalam hidup ini? Tidak ada, karena bahkan napas kita saja bukan kepunyaan kita dan tidak bisa kita genggam selamanya.

Hidup itu perubahan dan pasti akan berubah. Saat kehilangan sesuatu  ingatlah kembali, bahwa sesungguhnya kita tidak punya apa-apa. Jadi "kehilangan" itu tidaklah nyata dan tidak akan pernah menyakitkan. KEHILANGAN hanya sebuah TIPUAN PIKIRAN yang penuh dengan ke"aku"an.  Ke"aku"an lah yang membuat kita menderita.

Lahir tidak membawa apa-apa, meninggal pun sendiri, tidak mengajak apa-apa dan siapa-siapa. 

Pada waktunya "let it go", siapapun yang bisa melepas, tidak melekat, tidak menggenggam erat maka dia akan bahagia.

Semoga bermanfaat.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mengapa Bayi Pengemis Selalu Tertidur?

Dekat stasiun di sebuah kota besar duduk seorang wanita dengan usia yang tak diketahui. Rambutnya kotor, kepalanya tertunduk dalam kesedihan. Wanita itu duduk di lantai kotor dan di sampingnya terletak sebuah tas. Dalam tas itu orang melempar uang. Di tangan wanita, tidur seorang bayi berusia dua tahun. Bayi itu berpakaian kotor. Banyak orang yang lewat akan memberikan uang. Kami selalu merasa kasihan pada orang kurang beruntung. Kami siap untuk memberikan orang-orang malang itu kemeja terakhir kami, uang terakhir kami di dalam kantong tanpa ragu ragu.

Aku berjalan melewati seorang pengemis selama satu bulan . Tidak memberikan uang, karena saya tahu bahwa ini adalah geng yang dioperasikan dan uang yang dikumpulkan oleh pengemis akan diberikan kepada siapapun yang mengontrol pengemis di daerah tersebut, orang-orang yang memiliki banyak properti mewah dan mobil.

Sebulan kemudian, saya berjalan melewati pengemis, seketika saya merasa terkejut. Saya di persimpangan yang sibuk, menatap bayi, berpakaian seperti biasa yang sangat kotor. Saya menyadari bahwa itu tampak aneh, menemukan seorang anak kecil di sebuah stasiun  kotor dari pagi hingga sore. Bayinya tidur. Tidak pernah menangis atau menjerit , selalu tertidur, mengubur wajahnya di lutut seorang wanita yang disebut ibunya.

Apakah salah satu dari Anda memiliki anak-anak antara usia 1 sampai 3? Apakah Anda ingat bagaimana mereka tidak dapat tidur lebih dari 2 jam pada suatu waktu? Namun, anak-anak ini selalu tertidur. Selalu! Oleh karena itu kecurigaan saya tumbuh.

"Kenapa dia tidur sepanjang waktu?" Aku bertanya (kepada pengemis), menatap bayi.

Pengemis pura-pura tidak mendengar saya. Dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya di kerah jaket lusuhnya. Saya mengulangi pertanyaan itu. Wanita itu mendongak , melhat saya, seakan kesal dengan pertanyaan saya. "B*ngs*t" , bibirnya bergumam.

Di belakangku seseorang menaruh tangannya di bahuku. Aku menoleh ke belakang . Seorang pria tua itu menatapku tidak setuju: "Apa yang Anda inginkan darinya? kamu tidak melihat seberapa keras kehidupannya?." Dia mengambil beberapa koin dari sakunya dan melemparkannya ke kantong pengemis tersebut. Pengemis itu menunjukkan raut wajah-wajah berterima kasih dan kesedihan pada umumnya. Orang itu melepaskan tangannya dari bahuku dan berjalan keluar dari stasiun.

Hari berikutnya aku menelepon teman. Dari teman saya, saya berhasil menemukan bahwa pengemis itu adalah bisnis, meskipun terlihat spontanitas, jelas terorganisir dan diawasi oleh lingkaran organisasi kejahatan. Anak-anak yang digunakan adalah anak hasil "menyewa" dari keluarga pecandu alkohol, atau hasil penculikan. 

Saya membutuhkan jawaban atas pertanyaan -mengapa bayi tidur?- Dan saya mendapatkannya. Teman saya mengatakan kepada saya dengan suara tenang, "Mereka diberikan heroin, atau vodka"
Aku tercengang . "Siapa yang diberikan heroin atau vodka?!"
Dia menjawab, "Anak itu, sehingga ia tidak berteriak. Wanita itu akan duduk sepanjang hari dengan dia, bayangkan bagaimana anak itu mungkin bosan?"

Dalam rangka untuk membuat bayi tidur sepanjang hari, ia dicekokin dengan vodka atau obat-obatan. Tentu saja, tubuh anak-anak tidak mampu mengatasi bahan-bahan keras tersebut. Dan anak-anak seringkali tewas. Hal yang paling mengerikan kadang-kadang anak-anak meninggal selama "hari kerja" . Seorang "ibu" harus memegang mayat anak kecil di tangannya sampai malam. Ini adalah aturan. Dan oleh orang yang lewat akan diberikan beberapa uang ke kantong pengemis, dan percaya bahwa mereka melakukan perbuatan baik. Membantu ibu tunggal.

Hari berikutnya saya sedang berjalan di dekat stasiun yang sama. Aku membawa identitas jurnalistik, dan sudah siap untuk pembicaraan serius. Sayangnya pembicaraan tidak berhasil. Namun, terjadi hal ini:
Seorang wanita sedang duduk di lantai dan di tangannya seorang anak kecil. Aku bertanya pertanyaan tentang akte kelairan anak, dan yang paling penting, di mana anak kecil kemarin yang ia diabaikan. Kelakuan saya diprotes oleh orang yang lewat. Saya diberitahu bahwa saya sudah gila karena berteriak pada pengemis miskin dengan seorang anak. Pada akhirnya, saya dikawal keluar dari stasiun dalam kehinaan. Satu hal yang tersisa adalah untuk memanggil polisi. Ketika polisi tiba, pengemis dengan bayi menghilang. 

Bila Anda melihat seorang wanita dengan seorang anak, mengemis, berpikir sebelum Anda menyumbangkan. Pikirkan tentang hal itu, jika bukan karena ratusan ribu pemberi sedekah, bisnis seperti ini sudah mati. Bisnis akan mati dan bukan anak-anak. Jangan melihat anak yang sedang tidur dengan kasih sayang. Lihat horor. Karena Anda membaca artikel ini , Anda tahu sekarang mengapa anak tersebut tidur di tangan pengemis.

Silakan berbagi. Dan ketika Anda memutuskan lagi untuk menyumbang ke pengemis, ingat bahwa amal yang anda lakukan bisa jadi kematian bagi si anak.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Feb 20, 2015

Empat Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Al-Qur'an

-Baru saja selesai menghadiri sebuah undangan halal bihalal. Pada sesi tausiyah menghadirkan seseorang yang sukses berkarier di biro iklan di Jakarta. Kisah hidupnya inspiratif. Saya akan tulis disini sebagai pengingat bagi saya sendiri.-
#######
Ketika masih muda, beliau (namanya Pa Ndang) sudah menjadi Creative Director di sebuah advertising agent ternama di Indonesia. 

Ndang muda mendapat ujian berupa penyakit syaraf. Empat tahun menjalani pengobatan di Jakarta namun tak kunjung mendatangkan kesembuhan. Suatu waktu saat ia sedang mengikuti sebuah seminar di Singapura, ia kepikiran "kenapa aku gak sekalian aja berobat ke Mount Elizabeth". Maka ia pun mendatangi rumah sakit yang kerap dikunjungi para artis dan pejabat di Indonesia itu. Ternyata penyakit yang selama empat tahun diobati tak kunjung sembuh, di RS Mount Elizabeth bisa sembuh hanya dalam waktu 2 hari bisa sembuh! Hari pertama pemeriksaan dan diagnosa, hari kedua pengobatan.

Untuk urusan jodoh, ketika masih bujangan, Pa Ndang selalu berdoa diberikan istri sholehah. Padahal beliau mengaku saat itu masih belum terlalu faham agama, hanya ada sedikit bekal dari masa kecilnya ketika sekolah di Madrasah Diniyyah. Allah mengabulkan doanya. Ia diberi seorang istri sholehah, seorang wanita yang akhlaknya baik dan faqih agamanya. Namun kebahagiaan tak berlangsung lama. Dua minggu setelah menikah, istrinya divonis jantungnya bolong dengan diameter 3 cm. Berobat di rumah sakit jantung dalam negeri, dokter mendiagnosa bahwa penyakit istrinya itu tak bisa disembuhkan. Akhirnya ia bawa istrinya ke Singapura. Ternyata uang yang ia bawa hanya separuh dari biaya operasi istrinya. Itupun setelah ia menggadaikan rumah dan mobil. Biaya operasi istrinya itu senilai 20 Corolla baru waktu itu (tahun 1997). 

Pada tahun 2000 mereka dikaruniai seorang putri. Namun lahir dalam keadaan tidak mempunyai pusar alias perutnya bolong. Walhasil, harus dioperasi 2 kali, pertama untuk menyelamatkan hidupnya, yang kedua untuk merapikan hasil operasi yang pertama. Ujian tak cukup sampai disana. Pada tahun 2003, puteri mereka itu mengalami lumpuh total, hanya matanya yang bisa bergerak. Lalu Pa Ndang membawa anaknya itu ke Singapura dan harus menjalani pengobatan selama 2 bulan dengan cara disuntik setiap jam 8 pagi dan jam 4 sore.

Setelah ujian bertubi-tubi itu, ia sempat "marah". Kenapa ini terjadi padanya? Lalu ia bertemu dengan suatu ayat yang isinya menyatakan bahwa apakah engkau merasa beriman padahal engkau belum diuji? Ia pun merenung, apakah ini ujian baginya? Apakah ia selama ini sudah benar-benar beriman? Sedangkan ia menemukan pada awal surat Al-Baqarah bahwa salah satu syarat iman adalah mengimani Al-Qur'an. Sedangkan ia selama ini hampir tidak pernah mengkaji Al-Qur'an, kecuali hanya membaca surat Yasin pada malam jum'at. Padahal buku-buku periklanan yang tebalnya hampir dua kali lipat Al-Qur'an sudah biasa ia lahap.

Maka mulai saat itu ia pun berkomitmen untuk mengkaji Al-Qur'an. Awalnya dari membaca terjemahannya dulu. Dari sanalah ia menemukan bahwa ada 4 kewajiban seorang muslim terhadap Al-Qur'an :
  1. Membacanya dengan tartil
  2. Menghafalnya
  3. Memahami maknanya
  4. Mengamalkannya

Kini ia adalah seorang penghafal Qur'an. Disela kesibukannya yang luar biasa ia masih sempat menghafal setiap hari. Dan 3 kali seminggu ia memanggil Ustadz ke rumahnya untuk mengadakan kajian.
Majalengka, 31 Juli 2014
Ditulis untuk menjadi pengingat bagi diri.
@KangFerdiansyah
-IHQ_Menyampaikan Dengan Hati-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Jan 2, 2015

Belajar Konsep Rezeki Dari Penjual Rujak

Hari ini hujan mulai jam 9 pagi, seorang tukang rujak numpang berteduh di teras ruko. Beliau saya pinjamkan tempat duduk dari dalam toko. Masih penuh gerobaknya dengan buah-buah tertata rapi. Kulihat dari dalam toko beliau membuka buku kecil. Rupanya sebuah Al-Qur'an. Beliau begitu tekun dengan Al-Qurannya. Sampai jam setengah 11 hujan tak kunjung berhenti. Saya mulai risau karena sepi pembeli. Saya keluar sekadar memberikan air minum kemasan dan beberapa butir kurma. Tidak ada sedikitpun raut gelisah terlihat di wajahnya.
“Kalau musim hujan jualannya repot juga ya, Pak. ” Kataku sambil menatap gerobaknya. “Masih banyak banget.”
Beliau tersenyum, “Iya bu. Mudah-mudahan ada rejekinya.” jawabnya.
“Aamiin,” kataku.
“Kalau gak abis gimana, Pak?” tanyaku penuh iba.
“Ya... Kalau gak abis ya risiko, Bu. Kalau yang gak bisa sampai besok kayak semangka, melon yang udah kebuka ya kasih ke tetangga juga seneng dari pada kebuang. Kalau kayak bengkoang, jambu, mangga yang masih bagus bisa disimpan. Mudah-mudahan aja dapet nilai sedekah,” katanya tersenyum.
“Kalau hujan terus sampai sore gimana, Pak?” tanyaku lagi.
“Ya Alhamdulillah bu. Berarti rejeki saya hari ini diizinkan banyak berdoa dan meminta sesuatu sama Allah. Kan kalau hujan waktu mustajab buat berdoa bu.” Katanya sambil tersenyum. “Dikasih kesempatan berdoa juga kan rejeki, Bu.”
“Terus kalau gak dapet uang gimana, Pak?” tanyaku lagi.
“Berarti rejeki saya bersabar, Bu. Allah yang ngatur rejeki, Bu. Saya bergantung sama Allah. Apa aja bentuk rezeki yang Allah kasih ya saya syukuri aja. Tapi Alhamdulillah, bertahun-tahun saya jualan rujak belum pernah sampai kelaparan." “Pernah gak dapat uang sama sekali, tau tau tetangga ngirimin makanan. Kita hidup cari apa Bu, yang penting bisa makan biar ada tenaga buat ibadah dan usaha,” katanya lagi sambil memasukan Al-Qur'annya ke kotak di gerobak.
“Mumpung hujannya rintik, Bu. Saya bisa jalan. Makasih yaa ,Bu.” katanya sambil menutup badannya dengan plastik dan membuka payung yang menempel di gerobaknya.
Saya terpana. Betapa malunya saya, dipenuhi rasa gelisah ketika hujan datang, begitu khawatirnya rezeki materi tak didapat sampai mengabaikan nikmat yang ada di depan mata. Tiba-tiba hati yang tadinya gundah menjadi ceria, mumpung masih hujan. Masih ada kesempatan dapat berdoa di waktu mustajab. 




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Dec 16, 2014

Cerita Membingungkan Untuk Orang Bingung

George (50 th) tinggal bersama istri, dan dua orang anaknya (Tony & Julia) di Washington. Menjelang datangnya bulan Dzul Hijjah, George dan istri serta anak-anaknya mengikuti berita-
berita seputar penentuan tanggal 1 Dzul Hijjah.

George aktif menyimak berita di radio. Istrinya menyimak lewat televisi. Sedangkan Tony rajin
searching di internet. Ketika pengumuman tanggal 1 Dzul Hijjah diumumkan, George sekeluarga bersiap-siap untuk menyambut Iedul Adha yang bertepatan dengan tanggal 10 Dzul Hijjah, setelah acara wukuf di Arafah tanggal 9-nya.

Keesokannya, mereka sekeluarga pergi ke desa untuk membeli domba sesuai kriteria syari untuk dijadikan hewan kurban (udhiyyah), yaitu: tidak boleh buta sebelah, pincang, atau terlalu kurus. Mereka berniat menyembelihnya begitu hari raya tiba. Domba pun mereka bawa dengan pick-up sambil terus mengembik di perjalanan.

Adapun Julia yang baru berusia 5 tahun, asyik berceloteh dan mengatakan, “Ayah, alangkah indahnya hari raya Iedul Adha! Aku akan pakai gaun baru, dapat THR, dan bisa membeli boneka baru, aku akan pergi bersama teman-temanku ke TOY CITY untuk bermain sepuasnya di sana. Duh, alangkah indahnya saat-saat hari raya”, katanya. “Andai aja semua hari adalah hari raya.” lanjutnya.

Begitu mobil tiba di rumah, istri George berbisik, “Wahai suamiku tercinta. Kamu tahu kan, bahwa disunnahkan membagi daging korban menjadi tiga: sepertiga kita makan sendiri untuk beberapa hari ke depan, sepertiga kita sedekahkan ke fakir miskin, dan sepertiga lagi kita hadiahkan ke tetangga kita David, Elizabeth, dan Monica”.

Begitu Iedul Adha tiba, George dan istrinya bingung di manakah arah kiblat, karena mereka hendak menghadapkan domba kurban ke kiblat. Setelah menebak-nebak, mereka memutuskan menghadapkan kurban ke arah Saudi Arabia, dan ini sudah cukup. Setelah mengasah pisau, George menghadapkan dombanya ke kiblat lalu menyembelihnya. Ia kemudian menguliti dan memotong-motong dagingnya. Adapun istrinya membaginya menjadi tiga bagian sesuai sunnah.

Namun tiba-tiba George berteriak mengatakan, “Waduh, kita terlambat ke gereja sebab ini hari Minggu dan kita akan terlambat menghadiri misa!”. George konon tidak pernah ketinggalan misa di Gereja setiap hari Minggu. Ia bahkan rajin membawa istri dan anak-anaknya ke gereja. Sampai di sini, pengisah mengakhiri kisahnya tentang George.

Salah satu yang hadir bertanya: “Waduh, kamu membingungkan kami dengan kisah ini!! George ini seorang muslim ataukah Kristen??”.

Pengisah menjawab: “George dan keluarganya adalah penganut Kristen. Mereka tidak meyakini kemahaesaan Allah, namun menganggapnya salah satu dari Tuhan yang tiga (trinitas). Mereka juga tidak percaya bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul” jelasnya.

Majelispun geger mendengar penjelasan tersebut. lalu salah satu yang di majelis berseru, “Hai Ahmad, kamu jangan membohongi kami. Siapa yang percaya kalau George dan keluarganya melakukan itu semua? Mana mungkin seorang Nasrani menerapkan syiar-syiar Islam, mana mungkin mereka membuang-buang waktu untuk menyimak radio, televisi, dan internet sekedar untuk mengetahui kapan hari raya Iedul Adha tiba?? Mana mungkin mereka rela merogoh koceknya untuk membeli hewan kurban, lalu menyembelih dan membagi-baginya… dst!!!” kata si penanya.

Ahmad pun menjawab dengan senyum dan sedikit heran, “Wahai saudara-saudaraku tercinta, tentu kalian tidak mempercayai ceritaku. Kalian tidak akan membenarkan jika ada sebuah keluarga Kristen yang melakukan hal tersebut. Akan tetapi, kita yang berada di negeri-negeri muslim: Abdullah, Muhammad, Khalid, Khadijah, Fatimah, dan nama-nama muslim lainnya dengan santai turut merayakan hari raya kaum Nasrani dan Yahudi. Kita turut merayakan tahun baru Masehi (Masehi nisbat kepada Isa Al Masih/Yesus), mengucapkan selamat Natal, merayakan
Valentine’s Day, April Mop, Paskah, ulang tahun, hari raya ini dan itu?”.

“Mestinya, kita tidak perlu mengingkari bila George melakukan hal itu. Namun kita harus mengingkari diri dan keluarga kita sendiri”. kemudian dengan nada serius Ahmad melanjutkan, “Aku pernah tinggal di Amerika lebih dari 10 tahun, namun demi Allah, aku tak pernah sekalipun melihat seorang Kristen maupun Yahudi yang merayakan salah satu hari raya kita kaum muslimin. Aku juga tidak pernah mendapati seseorang dari mereka menanyakan tentang acara atau pesta yang kita rayakan. Sampai-sampai ketika aku berhari-raya di apartemenku, tidak ada seorang pun yang memenuhi undanganku setelah mereka tahu bahwa yang kurayakan adalah hari raya Islam. Aku menyaksikan itu semua selama aku tinggal di Barat, namun sekembaliku ke negeri muslim, ternyata kita merayakan hari raya mereka. falaa haulaa walaa quwwata illa billaahil azhiem. Ujian bagi kita, sebntar lagi tahun baru Masehi, yang sudah jelas-jelas hari raya mereka.

Kisah ini ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Al Qasim dengan judul ( ﺟﻮﺭﺝ ﻭﺍﻟﻌﻴﺪ ).
https://gizanherbal.wordpress.com/2014/10/21/cerita-membingungkan-untuk-orang-bingung/




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Dec 14, 2014

Ayah Bisu

Sebuah tulisan karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri yang ditulis untuk meraih gelar magister di Universitas Umm al-Quro, Mekah, Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan, mungkin bisa menyemangati para ayah untuk rajin berdialog dengan anak-anaknya.

Judul tulisan ilmiah tersebut adalah:
“Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya”
Dari judulnya saja, sudah luar biasa. Dan memang luar biasa isinya. Menurut tulisan ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat.

Ke-17 dialog tersebut dengan rincian sebagai berikut :
• Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
• Dialog antara ibu dan anaknya (2 kali)
• Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali)

Lihatlah ayah, subhanallah…
Ternyata al-Qur’an ingin memberikan pelajaran. Bahwa untuk melahirkan generasi istimewa seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi seperti di atas. Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya. Jauh lebih banyak. Lebih sering. 14 banding 2!

Kalau hari ini banyak muncul ayah ‘bisu’ dalam rumah, inilah salah satu yang menyebabkan munculnya banyak masalah dalam pendidikan generasi. Sebagian ayah seringkali kehabisan tema pembicaraan dengan anak-anaknya. Sebagian lagi hanya mampu bicara dengan tarik urat alias marah. Ada lagi yang diam saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sedang sariawan atau memang tidak bisa bicara. Sementara sebagian lagi, irit energi; bicara seperlunya. Ada juga seorang ayah yang saat dia belum selesai bicara sang anak bisa menyela, “Cukup yah, saya bisa lanjutkan pembicaraan ayah.” Saking rutinitas pembicaraannya yang hanya basa basi dan itu-itu saja.

Jika begitu keadaan para ayah, maka pantas hasil generasi ini jauh dari yang diharapkan oleh peradaban Islam yang akan datang.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Dec 8, 2014

Malik bin Dinar

Siapa Malik bin Dinar? Beliau adalah seorang Tabi'in, dan dikenali karena selalu menangis sepanjang malam sambil berkata,
"Ya Rabbku, Kau sendirilah yang tahu penghuni syurga dari penghuni neraka, lalu aku termasuk yang mana? Ya Allah, jadikanlah aku dari penghuni syurga, dan jangan Kau jadikan aku dari penghuni neraka."
Perhatikanlah ibadahnya! Inilah Malik bin Dinar. Tapi, di awal hidupnya beliau tidak memiliki ketaqwaan seperti ini. Beliau berkata,
"Aku memulai hidupku dengan sia-sia, banyak minum dan banyak berbuat maksiat. Aku berbuat zalim pada manusia, aku melakukan kezaliman. Tiada maksiat yang tidak kulakukan. Aku sangat jahat, sehingga manusia menjauhiku."
Apakah Malik bin Dinar seperti itu? Ya, dulu beliau seperi itu. Lalu beliau berkata lagi,
"Tapi di suatu hari, aku ingin menikah dan memiliki anak. Maka aku pun menikah dan isteriku melahirkan anak yang kuberi nama Fatimah. Aku sangat mencintainya. Setiap kali Fatimah bertambah besar, imanku pun bertambah dan maksiatku berkurang. Mungkin Fatimah tahu kalau aku memegang botol khamr, lalu ia mendekat padaku, aku menjauhkan botol itu darinya, sedang ia baru berusia 2 tahun. Seakan Allah menjadikan ia melakukan itu. Setiap kali Fatimah bertambah besar, imanku pun bertambah. Dan semakin aku selangkah lebih dekat dengan Allah, maka aku sedikit demi sedikit jauh dari maksiat, hingga usia Fatimah genap 3 tahun."

Dec 7, 2014

Sepenggal Kisah Dari Al-Azhar Cairo

Seorang Syekh yang alim lagi berjalan-jalan santai bersama salah seorang di antara murid-muridnya di sebuah taman. Di tengah-tengah asyik berjalan sambil bercerita, keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang lagi lusuh. Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang bertugas di sana, yang sebentar lagi akan segera menyelesaikan pekerjaannya. Sang murid melihat kepada syekhnya sambil berujar,
“Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di belakang pohon-pohon? Nanti ketika dia datang untuk memakai sepatunya kembali, ia akan kehilangannya. Kita lihat bagaimana dia kaget dan cemas!”
Syekh yang alim dan bijak itu menjawab,
“Ananda, tidak pantas kita menghibur diri dengan mengorbankan orang miskin. Kamu kan seorang yang kaya, dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya. Sekarang kamu coba memasukkan beberapa lembar uang kertas ke dalam sepatunya, kemudian kamu saksikan bagaimana respon dari tukang kebun miskin itu”.
Sang murid sangat takjub dengan usulan gurunya. Dia langsung saja berjalan dan memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu. Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama gurunya sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun

Tidak beberapa lama datanglah pekerja miskin itu sambil mengibas-ngibaskan kotoran dari pakaiannya. Dia menuju tempat sepatunya ia tinggalkan sebelum bekerja. Ketika ia mulai memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu di dalamnya. Saat ia keluarkan ternyata uang. Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi
uang. Dia memandangi uang itu berulang-ulang, seolah-olah ia tidak percaya dengan penglihatannya. Setelah ia memutar pandangannya ke segala penjuru ia tidak melihat seorangpun.
Selanjutnya ia memasukkan uang itu ke dalam sakunya, lalu ia berlutut sambil melihat ke langit dan menangis. Dia berteriak dengan suara tinggi, seolah-olah ia bicara kepada Allah ar rozzaq,
“Aku bersyukur kepada-Mu wahai Robbku. Wahai Yang Maha Tahu bahwa istriku lagi sakit dan anak-anakku lagi kelaparan. Mereka belum mendapatkan makanan hari ini. Engkau telah menyelamatkanku, anak-anak dan istriku dari celaka”.
Dia terus menangis dalam waktu cukup lama sambil memandangi langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Allah Yang Maha Pemurah. Sang murid sangat terharu dengan pemandangan yang ia lihat di balik persembunyiannya. Air matanya meleleh tanpa dapat ia bendung. Ketika itu Syekh yang bijak tersebut memasukkan pelajaran kepada muridnya,
“Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yang lebih dari pada kamu melakukan usulan pertama dengan menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”
Sang murid menjawab,
“Aku sudah mendapatkan pelajaran yang tidak akan mungkin aku lupakan seumur hidupku. Sekarang aku baru paham makna kalimat yang dulu belum aku pahami sepanjang hidupku: 'Ketika kamu memberi kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih banyak dari pada kamu mengambil'.”
Sang guru melanjutkan pelajarannya,

  1. Dan sekarang ketahuilah bahwa pemberian itu bermacam-macam : 
  2. Memaafkan kesalahan orang di saat mampu melakukan balas dendam adalah suatu pemberian.
  3. Mendo’akan temanmu di belakangnya (tanpa sepengatahuannya) itu adalah suatu pemberian.
  4. Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk darinya juga suatu pemberian.
  5. Menahan diri dari membicarakan aib saudaramu di belakangnya adalah pemberian lagi.
  6. Ini semua adalah pemberian, supaya kesempatan memberi tidak dimonopoli oleh orang-orang kaya saja.

Jadikanlah semua ini pelajaran, wahai.. ananda!
Semoga bermanfa'at..
-IHQ "Menyampaikan Dengan Hati"-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee