Showing posts with label Romance. Show all posts
Showing posts with label Romance. Show all posts

Nov 16, 2014

Romantika Udzur

Pagi itu saya sedang mengabsen anggota lingkaran yang tidak hadir. Ketika sampai pada sebuah nama, dijawab "sakit" oleh yang lainnya. Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba saja nama yang barusan disebut muncul dengan wajah sedikit pucat.
"Lho mbak, katanya sakit? Tanya saya.
"Iya bu. Tapi rugi kalau ketinggalan ilmu." Jawabnya dengan tersipu.
Subhanallah. Sesungguhnya dia sedang berbagi ilmu, bagaimana bernegosiasi dengan udzur. Hari itu dia bertahan duduk melingkar hingga seluruh agenda usai. 

Tak mudah bernegosiasi dengan udzur ini. Bagaimana kita memenej kendala agar tidak jadi penghalang bagi kita untuk melakukan sebuah kebaikan. Kata Syaikh Hasan Al Banna, 
"udzur itu terlalu banyak jika dituruti."
Sakit itu udzur syar'i. Tapi kita bisa menakar separah apa sakitnya kita. Saya teringat seorang ustadzah, tetap berangkat liqo saat beliau sakit. Hingga sakitnya benar-benar tak tertahankan, beliau izin ke rumah sakit dan ternyata harus diopname. Atau seorang ustadz yang dalam perjalanannya ke tempat liqo mengalami kecelakaan. Kendaraannya ditinggalkan dan beliau sendiri melanjutkan perjalanan ke tempat liqo. 
Udzur syar'i, tapi tak diambil. Sungguh patut untuk diteladani.
Sementara kita, lelah sedikit dijadikan udzur, pusing sedikit meminta izin, galau meminta izin. Bahkan terkadang tak datang tanpa keterangan. Astaghfirullah. Ampuni hamba ya Rabbi.

Saya pernah dinasihati seseorang.
  • Ketika kita berada di posisi yang memiliki udzur, minimalisir lah. Jangan terlalu mudah meminta izin. Seringnya, memaksa diri hadir pada agenda dakwah yang di dalamnya banyak menyebut nama Allah bisa menjadi sebab pertolongan Allah (misalnya yang sakit menjadi sehat, yang galau menjadi tenang, yang lapar jadi kenyang. Hehehe.) Ingat, udzur itu terlalu banyak jika dituruti.
  • Ketika orang lain yang memiliki udzur maka kita harus memiliki 1999 alasan untuk berprasangka baik. Kadang kita tidak memiliki udzur yang sama karena belum terjebak pada kondisi yang sama. Seorang ibu rumah tangga yang tidak pernah menjadi guru tidak tahu bagaimana rasanya hectic mengejar deadline mengisi rapor atau tak nyaman meninggalkan rapat. Seorang karyawati yang belum memiliki anak tidak tahu bagaimana ribetnya ketika hendak pergi dan sudah berpakaian rapi tiba-tiba anak balitanya 'pup'. 

Belum lagi fakta bahwa setiap orang memiliki kekuatan yang berbeda. Ada orang yang hamil muda tidak pakai mabuk, ada yang mabuk pake banget. Ada yang anaknya 1 tapi kalang kabut menghadapi tingkah polah si anak, ada yang beranak 4 tapi easy going. Maka semua membutuhkan permakluman. Akan tetapi, bagi kita yang ber-udzur, jangan terlalu banyak memaklumi diri sendiri. Tertinggal kita nanti. 

Satu lagi yang penting.
Ini kata suami saya, jangan menikmati udzur. Jangan bersuka cita karena sakit yang diderita, hingga bisa izin tidak hadiri agenda dakwah. Hanya satu alasan yang boleh membuat kita mensyukuri sakit, yaitu diampuninya dosa ketika kita sakit. Jangan disyukuri musibah. Karena rumah kebanjiran jadi ada alasan untuk meminta izin. Astaghfirullahal adziim.
-Ambasador F3 22-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Aug 16, 2014

Romantisku, Romantismu!

Romantis itu…
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. “Sayang… bangun… saatnya shalat.” Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu’ shalat dan munajat.

Romantis itu…
Ketika seorang istri mengatakan, “Sebentar lagi adzan, Sayang…” Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang; lebih baik dari dunia seisinya.

Romantis itu…
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil membisik mesra, “Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang… kami lebih siap menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal.”

Romantis itu…
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha: “Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”

Romantis itu…
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan WA dan SMS cinta. “Apapun makanan di kantin kantorku, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu.” Lalu sang istri pun membalasnya, “Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku.”

Romantis itu…
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya tiba.

Romantis itu…
Ketika suami mengucap salam, sang istri menjawabnya disertai senyuman. Bertemu saling mendoakan. Tangan dicium, pipi dikecup bergantian.

Romantis itu…
Ketika suami tiba di rumah, istri menyambutnya dengan wajah cerah dan bibir merekah. Maka hilanglah segala penat dan lelah. Beban kerja di pundak mendadak menghilang, terbang.

Romantis itu…
Ketika syukur selalu menghiasi makan bersama. Meski menu sederhana, nikmat begitu terasa, keberkahan pun memenuhi seluruh keluarga.

Romantis itu…
Ketika suami istri kompak mengajar anak mengaji. Meski telah ada TPQ, sang ayah dan sang ibu tidak berlepas diri dari tanggungjawab mencetak generasi Rabbani. Kelak, merekalah yang mendoakan sang orang tua, saat perpisahan selamanya telah tiba masanya.

Romantis itu…
Ketika sang istri tidak berat melepas suami. Keluar rumah di malam hari. Untuk mengaji, atau aktifitas dakwah dan tarbiyah. Sebab sang istri ingin suaminya menjadi imam baginya, juga bermanfaat bagi Islam dan umatnya..




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee