Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts

Dec 25, 2016

TAFSIR INSPIRASI : AT-TAUBAH AYAT 62 - 65

📢 SURAT CINTA ALLAH HARI KE- 395

📖 JUZ 10 AT-TAUBAH  (PENGAMPUNAN)
Surah ke- 9 : 129 ayat

♒ Tuduhan-tuduhan orang Munafik Terhadap Nabi

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَحَقُّ أَن يُرْضُوهُ إِن كَانُوا۟ مُؤْمِنِينَ 

62. Mereka bersumpah kepadamu dengan (nama) Allah untuk menyenangkan kamu, padahal Allah dan Rasul-Nya lebih pantas mereka mencari keridhaan-Nya jika mereka mukmin 

💡INSPIRASI
MENCARI RIDHA ALLAH dan Rasul-Nya dengan cara beriman, bukan dengan kemunafikan

أَلَمْ يَعْلَمُوٓا۟ أَنَّهُۥ مَن يُحَادِدِ اللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَأَنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدًا فِيهَا ۚ ذٰلِكَ الْخِزْىُ الْعَظِيمُ 

63. Tidaklah mereka (orang munafik) mengetahui bahwa barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahanamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itulah kehinaan yang besar

💡INSPIRASI
Kehinaan yang besar, saat manusia menderita kekal di neraka, akibat dari MENENTANG ALLAH dan RASULULLAH

يَحْذَرُ الْمُنٰفِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُم بِمَا فِى قُلُوبِهِمْ ۚ قُلِ اسْتَهْزِءُوٓا۟ إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَّا تَحْذَرُونَ 

64. Orang-orang munafik itu takut jika diturunkan suatu surah yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah (kepada mereka), "Teruskanlah berolok-olok (terhadap Allah dan Rasul-Nya)". Sesungguhnya Allah akan mengungkapkan apa yang kamu takuti itu

💡INSPIRASI
Liku-liku niat jahat kaum MUNAFIK menggelisahkan mereka sendiri

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَءَايٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ 

65. Jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah, "Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" 

💡INSPIRASI
Ada hal yang serius dan ada hal di mana manusia bermain dan bercanda. Untuk Allah, ayat-ayat dan rasul-Nya bukan lahan untuk bercanda. Di sini manusia menggantungkan harapan dengan MENCARI RIDHA-NYA

📚 Tafsir Inspirasi
✒ Dr. Zainal Arifin Zakaria, MA


shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

TAFSIR INSPIRASI : AT-TAUBAH AYAT 69 - 70

📢 SURAT CINTA ALLAH HARI KE- 397

📖 JUZ 10 AT-TAUBAH  (PENGAMPUNAN)
Surah ke- 9 : 129 ayat

كَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ كَانُوٓا۟ أَشَدَّ مِنكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوٰلًا وَأَوْلٰدًا فَاسْتَمْتَعُوا۟ بِخَلٰقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُم بِخَلٰقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِن قَبْلِكُم بِخَلٰقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِى خَاضُوٓا۟ ۚ أُو۟لٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمٰلُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۖ وَأُو۟لٰئِكَ هُمُ الْخٰسِرُونَ 

69. (Keadaan kamu kaum munafik dan musyrikin) seperti orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya. Maka mereka telah menikmati bagiannya, dan kamu telah menikmati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal-hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat. Mereka itulah orang-orang yang rugi

💡INSPIRASI
KERUGIAN yang hakiki saat semua usaha dan kerja dinilai nol besar. Penentang Allah tidak layak diberi nilai

أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرٰهِيمَ وَأَصْحٰبِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكٰتِ ۚ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنٰتِ ۖ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ 

70. Apakah tidak sampai kepada mereka berita (tentang) orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata; Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri

💡INSPIRASI
Allah tidak pernah menganiaya hamba-Nya, hamba-Nya yang gemar menganiaya diri mereka sendiri, dengan memilih KEKAFIRAN plus melawan Allah dan para utusan-Nya

📚 Tafsir Inspirasi
✒ Dr. Zainal Arifin Zakaria, MA

shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Al Imam An Nawawi

*🌾Bulir Ibrah dan Hikmah🌾*

Bismillah, alhamdulillah washolatu wasallam ‘ala rasulillah amma ba’ad.

Siapa yang tidak kenal dengan kitab Riyadhus Shalihin? Ya, penulisnya adalah Al Imam An Nawawi rahimahullahu ta’ala, ulama abad 7 Hijriyah yang berasal dari Suriah. Kitab ini, kitab yang diberkahi oleh Allah subhana wa ta’ala. Rasanya tidak ada masjid di muka bumi ini yang tidak kenal kitab ini. Bahkan berapa banyak di rumah-rumah muslimin memiliki kitab yang luar biasa ini.

Padahal kitab Riyadhus Shalihin, terhitung salah satu kitab yang tipis dibandingkan dengan karya-karya An Nawawi yang lainnya. An Nawawi rahimahullahu ta’ala memiliki tulisan di berbagai bidang ilmu; fikih, hadist, menjelaskan kitab-kitab hadist, mustholah hadist, bahasa, tauhid, berbicara juga tentang geografi dan seterusnya. Beliau menulis di dalam banyak ilmu.

Tentu kitab Arba’in yang tipis hanya 42 hadits kita juga tahu, tapi isinya luar biasa sehingga banyak dikenal saat hari ini. Dan bahkan menjadi standar awal bagi mereka yang ingin menghafal hadits.

Ada Raudhotholibin, ada Al Minhaj yang merupakan penjelasan Shahih Muslim yang terbaik. Kemudian ada kitab fikih yang sangat terkenal Al Majmu Syarhu Muhadzab, Tadzhibul Asma’ wa Lughot, Al Adzkar An Nawawi, dan seterusnya. Sangat banyak karyanya.

Kalau dibandingkan dengan usianya Imam Nawawi, ternyata sangat singkat dibandingkan karyanya. Maka dalam satu hari dibagi usianya, An Nawawi menulis beberapa bab. Dalam satu buku, kita tahu ada berapa bab. Itu kalau dibagi dengan usianya, padahal kita tahu tidak mungkin orang ketika lahir langsung menulis buku. Perlu berilmu dulu, menjadi ahli ilmu kemudian baru menulis buku.

Mari kita pikirkan, berapa sekarang usia kita dan apa yang sudah kita lakukan? Mari kita lihat bagaimana kesibukan An Nawawi rahimahullahu ta’ala yang ternyata Allah panggil di usia yang masih cukup muda yaitu 45 tahun.

An Nawawi berkata, “Setiap hari saya belajar 12 pelajaran.” Subhanallah, satu hari 12 pelajaran. Dan dia belajar baik syarhan wa thoshihan, baik penjelasannya atau untuk membenarkannya kalau ada yang salah.

Ada Al Washit kemudian kitab Al Muhadzab, Al Jama’ Baina Shahihain, ada Shahih Muslim, kitab Al Luma’ ibnu Jinni dalam masalah Nahwu, ada Ishlahu Mantiq Ibnu Siqit dalam masalah bahasa, kemudian ada dalam Ushul Fikih ada At Tashrif, Al Luma’ Abu Ishaq, Al Munatqhof Fakhrudin Arrazi.

Luar biasanya, kitab-kitab ini dipelajari dalam satu hari. Dia mempelajari bahkan kemudian dia mengatakan: Saya mencatatnya, saya memberikan penjelasannya, kemudian saya menjelaskan apa yang sulit, menjelaskan kata-katanya, kemudian melihat secara bahasa, dan seterusnya.

Maka dari itu, usianya hanya 45 tahun tetapi karyanya lebih panjang dari usianya, bahkan menjadi karya yang hidup setelah dia tiada.

An Nawawi berkata, “Wabarokallahuli fi wakti wasytigholi wa a’nani ‘alaih.” (Allah memberkahi waktuku, kesibukanku, dan Allah membantuku dalam hal itu).

Ini penting. Jangan sekadar sibuk dan jangan sekadar usia panjang. Apalah artinya kesibukan melimpah, usia panjang, kesempatan banyak, tetapi tidak diberkahi dan tidak ditolong Allah.

Karena itulah, maka mari kita berdo’a dan melakukan hal yang membuat Allah ridho. Agar berapa pun usia kita yang Allah berikan itu diberkahi. Agar semua kesibukan kita adalah kesibukan yang diberkahi juga dan ditolong oleh Allah subhana wa ta’ala.

Semoga usia kita adalah usia yang diberkahi Allah. Berapa pun yang Allah berikan, kesibukan kita adalah kesibukan yang menghasilkan hal-hal yang terus hidup, bahkan setelah kita tiada nanti.

Wallahu ta’ala ‘alam  bishowab.

Dinukil dan diselia dari *"Allah Memberkahi Usiaku"*
Budi Ashari, 20 Desember 2016


shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Jan 1, 2016

Kemusyrikan [Tafsir QS. Al-Kafirun]

📚 Tafsir Qur'an Surat Al-Kafirun 📚

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

1. Katakanlah, "Hai orang-orang yang kafir,
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.
3. Dan kalian bukan penyembah Sesembahan yang aku sembah.
4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah,
5. Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Sesembahan yang aku sembah.
6. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.”

📌 Surat ini merupakan surat yang menyatakan pembebasan diri dari perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, dan perintah untuk untuk ikhlas (mensucikan diri) dari segala kemusyrikan.

📗 Allah berfirman,

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
“Katakanlah, "Hai orang-orang yang kafir””
➡ Mencakup seluruh orang kafir di muka bumi, walau dalam surat tertuju pada kaum kafir Quraisy.
📘 Ada yang berpendapat, diantara kebodohan mereka adalah mengajak Rasulullah untuk beribadah kepada berhala selama satu tahun, dan mereka pun akan menyembah Allah selama satu tahun. Maka Allah menurunkan surat ini dan memerintahkan Rasul-Nya agar sepenuhnya berlepas diri dari agama mereka.
🔸🔹🔸🔹

لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُون
“Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.”
➡ Yakni, sesembahan mereka berupa berhala dan sekutu-sekutu selain Allah SWT.
🔸🔹🔸🔹

وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُد
“Dan kalian bukan penyembah Sesembahan yang aku sembah.”
➡ Yakni, Allah SWT yang mana tidak ada sekutu bagi-Nya.
🔸🔹🔸🔹

وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5)
“Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah, Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Sesembahan yang aku sembah.”
➡ Maksudnya, aku tidak menyembah layaknya ibadah kalian. Dengan kata lain bisa diartikan, aku tidak akan menempuh cara ibadah dan tidak percaya dengan cara ibadah kalian. Namun Aku hanya menyembah Allah dengan bentuk yang Dia cintai dan ridhai.

📗 Oleh karenanya Allah berfirman, “Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Sesembahan yang aku sembah."
➡ Yakni maksudnya, mereka tidak akan tunduk dengan perintah dan syariat Allah dalam beribadah. Bahkan mereka menciptakan sesuatu hal yang baru sekehendak mereka sendiri.

📗 Sebagaimana firman Allah menjelaskan, “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka. (Qs. An-Najm: 23)
🔸🔹🔸🔹

📎 Sungguh seorang hamba mesti memiliki Sesembahan yang dia sembah dan ibadah merupakan jalan menuju kepada-Nya. Rasulullah SAW dan pengikutnya hanya menyembah Allah SWT sebagaimana yang diperintahkan-Nya.
➡ Karenanya kalimat Islam “laa ilaaha illa Allah” memiliki makna, tiada sesembahan kecuali Allah dan tiada ada jalan menuju-Nya kecuali dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Sedangkan orang-orang musyrik menyembah selain Allah dengan ibadah yang Allah tidak mengizinkannya.

📗 Allah berfirman, “Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah, ‘Bagiku pekerjaanku dan bagi kalian pekerjaan kalian. Kalian berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kalian kerjakan.'” (Qs. Yunus: 41)

📗 Allah juga berfirman, “Bagi kami amalan kami dan bagi kalian amalan kalian." (Qs. Al-Qashash: 55)

📙 Imam Bukhari meriwayatkan, bahwa ada pendapat yang mengatakan,

لَكُمْ دِينُكُم
“Untuk kalianlah agama kalian” maknanya adalah kekafiran dan,

وَلِيَ دِينِ
“dan untukkulah agamaku” maknanya adalah Islam.

📘 Ibnu Jarir menukilkan dari ahli bahasa, bahwa ungkapan seperti dalam surat ini merupakan bagian dari bab taukid (penekanan/pengukuhan makna), sebagaimana juga terdapat dalam firman Allah, ”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs. Al-Insyirah : 5-6)

✒ Terdapat beberapa pendapat,
1⃣📖 Yang pertama sebagaimana yang telah kita sebutkan sebelumnya.

2⃣📖 Yang kedua pendapat Imam Bukhari dan yang lainnya dari para mufassirin bahwa maksud firman Allah,

لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3)
➡ berkaitan dengan masa yang lampau dan firman Allah berikutnya,

وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5)
➡ terkait dengan masa yang akan datang.

3⃣📖 Pendapat yang ketiga mengatakan ini merupakan taukid secara mutlak.

4⃣📖 Kemudian pendapat yang keempat, yang mana pendapat ini didukung oleh Abu Abbas Ibnu Taimiyah dalam sebagian kitab-kitabnya, bahwa maksud firman Allah,

لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2)
➡ adalah menafikan perbuatan demikian karena ayat ini berbentuk kalimat fi’liyah.

Sedangkan firman Allah,

وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4)
➡ maksudnya adalah menafikan penerimaan perbuatan demikan secara mutlak.

🔚🔚🔚🔚🔚

📚 Maraji': Tafsir Ibnu Katsir

shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 30, 2015

Indahnya Bertasbih

"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha penerima taubat."
(QS. An Nasr)
Bila HARAPAN tak seindah kenyataan, bersabarlah.
Bila UJIAN tak mampu terlewatkan, bertawakallah.
Bila KESULITAN tak segera terselesaikan, berdoalah.
Bila COBAAN tak mampu terelakkan, berpasrahlah.
Bila KEMUDAHAN senantiasa kita dapatkan, bersyukurlah.
Dan bila KEBAHAGIAAN selalu ada, tersenyumlah.
Semoga kita menjadi hamba-hamba yang selalu ISTIQAMAH.

Hati kita tak mudah terasa SAKIT lantaran kita masih punya TAHMID.
Hati kita tak mudah terasa PERIH lantaran kita masih punya TASBIH.
Hati kita tak kan merasa TERKUCIL lantaran kita masih punya TAHLIL.
Dan saat hati terasa GETIR masih ada TAKBIR.
 
Bila ada BASMALAH semua masalah akan terasa MUDAH.
Bila ada AL FATIHAH mengapa hati harus RESAH.
Dan dengan AL QURAN adalah jalan keluar semua urusan .
 
Tak ada UJIAN yang tak bisa terselesaikan bila semua kembali pada jalan KEBENARAN.
Tetaplah tersenyum dalam menapaki kehidupan.
Tetaplah Istiqamah hingga akhir perjalanan.
Semoga kita semua berada dalam kebaikan hingga berjumpa dengan kematian.

Selamat berjuang sahabat surgaku.
Semoga surga jadi tempat bersua bagi kita.
Aamiin Ya mujibassailin.
~Rochma Yulika~




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 29, 2015

Patutkah Seorang Muslim Berkata "R.I.P."?

Istilah RIP (Requiescat In Pace) merupakan bagian dari aqidah Katholik, biasa terdapat pada epitaf dan disenandungkan saat Misa Requiem. Keyakinan ini juga terdapat pada agama Yahudi. Epitaf RIP ditemukan pada nisan Bet Shearim, Yahudi, meninggal 1 Abad Sebelum Masehi.

Variasi lain Requiescat in pace atau Rest In Peace dalam bahasa Inggris adalah penambahan kata "may (semoga)". Ini terkait keyakinan dosa ditebus. Ungkapan RIP dalam bentuk ringkas maupun panjang digunakan pada upacara pemakaman tradisional Yahudi. Pijakannya adalah Talmud kuno. RIP dalam bahasa Inggris, yakni rest in peace, tidak ditemukan pada kuburan sebelum abad VIII Masehi. Meluas penggunaannya setelah abad XVIII.

Ungkapan RIP pada agama Katholik terdapat dalam Misa Requiem (Missa pro Defunctis) yang merupakan bagian dari ritus Tridente. Paus (Emeritus) Benediktus XVI menyatakan Ritus Tridente (Tridentin) merupakan bentuk misa yang luar biasa. Ia keluarkan surat edaran tahun 2007. Ini merupakan surat pribadi (motu proprio) kepada seluruh gereja untuk menggunakan Misa Tridentin. Surat ini bermakna penegasan bahwa ungkapan RIP merupakan bagian tak terpisahkan.

Motu proprio (surat pribadi dengan tanda-tangan pribadi) Paus Benediktus XVI (sekarang emeritus) menegaskan kedudukan misa yang melembaga sejak 1570 tersebut. RIP merupakan bagian penting sebagai semacam "pembersihan dosa secara keseluruhan". Dalam hal ini kedudukan RIP saat misa serupa dengan ungkapan "Allahummaghfirlahu...". Jadi, ini merupakan bagian dari prosesi ibadah.
~Mohammad Fauzil Adhim~






shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 28, 2015

Sirah Nabawiyah : Paham Keberhalaan Yang Menyelimuti Peradaban Kuno

Sebelum Nabi Muhammad Saw lahir, paham yang merajalela dan merusak peradaban dunia adalah "Paganisme". Paham ini muncul dari dalam jiwa manusia itu sendiri, bukan dari luar kehidupannya. Yaitu orang dungu yang memaksakan kedunguannya kepada lingkungan sekitarnya, dan akhirnya dia mengkeramatkan apa saja, baik benda mati atau benda hidup.

Bencana terbesar yang menimpa agama akibat "paganisme" adalah perubahan drastis pada agama Isa putra Maryam menjadi mitos dan legenda yang menyesatkan. 

Agama Majusi di Persia merupakan pelopor kepercayaan syirik di Cina, India dan belahan dunia lainnya. Agama Nasrani yang menentang penyembahan api, justru menggunakan mitos India dan Mesir kuno yaitu memasukkan unsur 'wanita' dan 'anak' dalam konsep keTuhanan. Adalagi kepercayaan "politheisme" yang katanya percaya dengan Tuhan tapi dipulas dengan kepercayaan dengan syirik untuk memerangi kepercayaan syirik yang tulen.

Ketika itu bumi tak ubahnya seperti sarang kejahatan dan kebejatan dimana-mana. 
Di zaman itu masih ada sisa-sisa ahlul kitab yaitu mereka yang teguh untuk menentang syirik. 

SIFAT RISALAH TERAKHIR
Kerasulan Nabi Muhammad Saw memiliki sifat yang istimewa yaitu umum dan permanen. Risalah beliau mengandung kaidah-kaidah yang akan membuka pintu hati manusia yang berakal. Al-Qur'an yang diwahyukan kepada beliau merupakan kitabullah yang ditujukan kepada semua umat manusia sebagai petunjuk menuju kebenaran dan kebaikan.

Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا*فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang pada kalian bukti kebenaran dari Tuhan kalian (yakni Muhammad Saw dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepada kalian cahaya terang benderang (yakni Al-Qur'an). Adapun orang - orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh pada agama-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka kedalam rahmat-Nya yang besar (surga) dan limpahan karunia-Nya, serta membimbing mereka ke jalan yang lurus (untuk dapat sampai kepada-Nya)."
(QS. An-Nisa : 174-175)

BANGSA ARAB PADA SAAT DATANGNYA ISLAM
Kala itu penduduk Makkah lemah pemikirannya, tetapi rangsangan nafsunya begitu besar. Tidaklah benar bahwa Makkah ketika itu merupakan perkampungan yang belum berperadaban, terisolir di tengah gurun , atau tidak memiliki selera duniawi selain dari mengisi perut. Sebaliknya, wilayah ini memiliki kehidupan kompleks yang dipenuhi oleh manusia-manusia congkak dan mengingkari keberadaban Tuhan.

Di tengah-tengah kebodohan dan kesesatan, Islam memancarkan cahayanya, sedikit demi sedikit sehingga membebaskan seluruh jazirah arab dari kegelapan.

Penasaran siapa pembawa cahaya itu??
Simak sirah nabawiyah seri ke-2 selanjutnya.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 27, 2015

Renungan : Rezeki

Syaikh Ali Mustafa Thanthawi -rahimahullah-mengatakan:

Falsafah rezeki itu sangat sulit untuk dimengerti, juga terlalu jauh untuk bisa diraih.
Tengoklah kehidupan manusia. Diantara mereka ada para penyelam yang Allah jadikan roti (kehidupan) mereka dan segenap keluarga tersimpan jauh di dasar lautan. Mereka takkan bisa menggapainya hingga mereka menyelam ke dasar lautan yang dalam.

Ada juga para pilot yang Allah jadikan roti (kehidupan) mereka berada di atas awan, sehingga mereka tidak mungkin mendapatkannya sampai mereka terbang tinggi ke angkasa.

Ada juga yang roti (kehidupannya) tersembunyi di dalam bebatuan yang sangat keras, sehingga mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan memecah batu-batu itu.

Ada pula orang-orang yang rezeki mereka berada di bawah gorong-gorong air yang kotor, atau di tempat-tempat penambangan yang dalam, dimana wajah mentari dan cahaya siang tak dapat dilihat.

Ada orang yang mendapatkan bagian rezekinya dengan tangan, kaki, lisan dan otaknya. Ada juga yang tidak bisa meraihnya kecuali dengan mempertaruhkan nyawa dan menghadapkan diri kepada kematian, seperti halnya para pemain sirkus yang selalu saja diburu kematian. Kalau ia tidak mendapati rezekinya dengan cara jatuh bertumpuh di atas kepala, ia mendapatinya ketika berada di antara taring-taring singa atau di bawah kaki-kaki gajah.

Maka bersyukurlah kepada Allah, karena Dia telah menjadikan rezekimu berada di atas meja kerjamu. Kau bisa meraihnya sambil duduk di atas kursi. Dia tidak menjadikannya berada di puncak-puncak gunung yang tinggi, atau di dasar lautan yang dalam, juga tidak harus berhadapan dengan singa ataupun macan.
-Syekh Ali Musthafa Thanthawi dalam risalah Ma'a An-Naas-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Kehidupan dan Kematian yang Diberikan Allah kepada Manusia [Tafsir QS Al-Baqarah : 28 - 29]

 قوله تعالى: كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ
"Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu Kembali. 
(QS Al-Baqarah : 28)
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ  وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم
Dia lah (Allah) yang menciptakan segala apa  yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia mengetahui segala sesuatu 
(QS Al-Baqarah : 29)

✒Dalam ayat sebelumnya, Allah menerangkan sifat-sifat golongan yang kafir.
Kekufuran kepada Allah diperlihatkan dengan bukti bukti dan nikmat-nikmat, ini merupakan kekufuran yang amat buruk. Allah memperlihatkan  satu kejadian yang pasti manusia lihat. Mereka dahulu mati lalu dihidupkan oleh Allah. Mereka dahulu dalam keadaan mati lalu dihidupkan kembali oleh Allah,  dan tidak ada tempat untuk berlari dari kenyataan yang tidak dapat ditafsirkan kecuali dengan kuasa-Nya.
  • Jalan  kehidupan pasti berbeda dengan Jalan kematian.

Pasti ada diantara kita yang bertanya, "dari mana datangnya kehidupan?" Kehidupan itu datangnya dari Allah. Inilah jawabannya. Sebab jika tidak begitu, hendaklah orang yang tidak mau menerima mengatakan, "bagaimana jawabnya? "

Inilah hakikat ayat ini.
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ
Bagaimana kamu menjadi kufur (mengingkari) Allah padahal kamu dahulunya mati (belum lahir), kemudian Dia menghidupkan kamu
✒Dulu kamu itu mati, di antara benda-benda mati di sekelilingmu di bumi. Lalu Allah menciptakan kehidupan untukmu. ( فَأَحْيَاكُمْ )

Lantas bagaimana orang yang telah menerima kehidupan dari Allah ini bersikap kafir kepadaNya?
ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ
setelah itu Dia mematikan kamu
✒Hal ini tidak perlu dibantah lagi. Inilah hakikat yang dihadapi oleh setiap makhluk hidup.

  ثُمَّ يُحْيِيكُمْ
kemudian Dia menghidupkan kamu kembali (di akhirat)
✒Dan, inilah yang selalu mereka bantah.

ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Kemudian kepada-Nya lah kamu kembali...
✒Kamu akan kembali seperti semula.

  • Dalam tafsir Ibnu Katsir :

Ayat tersebut sama dengan firman-Nya: 
“Ya Rabb kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula).” 
(QS. Al-Mu’min: 11).
Mengenai firman Allah dengan bersumber dari Ibnu Abbas, ad-Dhahhak mengatakan, 
“Dulu, sebelum Dia menciptakan kamu, kamu adalah tanah, dan inilah kematian. Kemudian Dia menghidupkan kamu sehingga terciptalah kamu, dan inilah kehidupan. Setelah itu Dia mematikan kamu kembali, sehingga kamu kembali ke alam kubur, dan itulah kematian yang kedua. Selanjutnya Dia akan membangkitkan kamu pada hari kiamat kelak, dan inilah kehidupan yang kedua.”
✏Kemudian disusullah ayat ini dengan pantulan sinar yang lain untuk melengkapi pancaran cahaya yang pertama.
قوله تعالى:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Dia lah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju kelangit, lalu Dia menyempurnakan menjadi tujuh langit. Dan Dia maha mengetahui segala sesuatu."
✏Perkataan "untuk kamu" memiliki makna yang mendalam serta kesan yang dalam pula. Ini sangat menunjukkan kata yang pasti bahwa penciptaan manusia adalah untuk urusan yang besar.

Manusia diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi, menguasainya dan mengelolanya. Walaahu'alaam bishshowwab.
-Tafsir Fi Zhilal Al Qur'an-





shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 26, 2015

Walau Kami...

Walau tak dikayakan seberlimpah Sulaiman;
karuniai kami syukur dan tawadhu'nya, yang hormati semut serta burung hud-hud

Walau usia tak sepanjang Nuh;
tegarkan kami dengan kegigihan da'wah dan tekad bajanya untuk terus sampaikan kebenaran

Walau tak setampan Yusuf;
kuatkan diri kami menahan semua goda dan derita

Walau tak perlu ditelan ikan di gelap lautan;
hiasi jiwa kami dengan kepasrahan Yunus yang rintih doanya terdengar

Walau ujian cinta tak seberat Ibrahim, Hajar dan Sarah;
limpahi keluarga kami sakinah, mawaddah, dan rahmah dengan keturunan sholih-sholihah

Walau tak harus lari dan sembunyi sebagaimana Ashabul Kahfi;
beri kami keberanian dan perlindungan saat tegas mengatakan Al Haqq di depan tirani

Walau ilmu tak seutuh Luqman Al Hakim;
tajamkan pikir dan rasa kami 'tuk mengambil ibrah di setiap kejadian.
~Ust. Salim A. Fillah~





shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Aku Takut

Ya Allah, hidupku penuh ketakutan
Aku takut jika saat bertemu dengan-Mu, aku termasuk golongan orang yang lalai
Aku jauh dari cinta dan kasih sayang-Mu, aku jauh dari ridho-Mu
Kemudian Engkau berpaling dariku disebabkan dosa yang begitu besar

Aku Takut
Jika malam ini aku terlelap, lalu esok hari aku tak bangun lagi
Ternyata malaikat maut datang menjemputku dalam keadaan jauh dari ridhoMu
Bukankah kematian itu pasti dan tak tahu kapan datangnya? (QS Al-Jumu’ah : 8)

Aku Takut
Jika dalam sholatku, aku lalai dari mengingat-Mu dan tidak merasakan kehadiran-Mu
Jika amalanku tersisipkan riya', beribadah bukan untuk-Mu
Karena celakalah orang yang lalai dari sholat dan berbuat riya' (QS Al Maa'un : 4- 6)

Aku Takut
Jika aku lalai mengingatkan anak-anakku untuk taat pada-Mu
Juga lalai membimbing Istriku untuk selalu menjaga diri dan mencari keridhoan-Mu
Karena aku punya kewajiban memelihara keluargaku dari api neraka (QS At Tahrim : 6)

Aku Takut
Jika apa yang aku dan keluargaku makan, terselip harta riba, hak fakir miskin dan anak yatim
Atau karena hartaku dan semua yang aku usahakan belum aku keluarkan haknya
Karena Kau telah mengharamkan riba untuk kami (QS Al Baqarah : 275)
Dan Engkau membenci perbuatan memakan harta anak yatim (QS An Nisaa : 2)

Namun, aku rindu
Rindu kasih sayang-Mu, rindu syurga-Mu, rindu Keridhoan-Mu
Jadikanlah ketakutan ini tetap ada, jika bisa membuatku dekat dengan-Mu
Hiasilah rasa takut ini dengan ketaatan pada-Mu
Agar kelak rasa takut ini menjadikan kami sebagai hamba-Mu yang bertaqwa
~Rudianto Surbakti~




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 25, 2015

Inikah Jadwal Kita Sehari-Hari?

4:00 pagi kita bangun sholat subuh, kemudian kita bersiap-siap untuk ke tempat kerja, sampai kantor pukul 7:00 pagi, hari masih gelap. Mungkin kita anggap hari ini akan hujan, jadi abaikan. Masuk kantor, bekerja dan kita lihat pukul 12:00 siang, sudah waktunya makan siang, tapi keadaan masih tetap gelap. 

Keluar pintu kantor, suasana masih gelap, hitam pekat seperti malam, mungkin masih bisa dianggap hari ini akan hujan lagi. Jadi abaikan saja. Tapi kalo jam 14:00 siang pun hari masih gelap, pertanda apa itu? 

Keesokkan pun sama, nonton tv semua orang kalang kabut menceritakan bahwa dunia ini sudah tidak ada lagi siangnya dan begitu juga dengan lusa, masih tidak ada lagi matahari.

Tetapi pada hari keempat kita bangun pagi, kita dapat melihat matahari, tetapi jangan terkejut karena matahari telah terbit dari sebelah barat. Kehebatan ahli dunia akan mengatakan itu fenomena alam, tapi sadarkah, itulah pertanda besar yang paling awal sebelum tibanya hari kiamat!! Maka telah tertutuplah pintu taubat.

Saat itu, kita akan lihat satu fenomena luar biasa di mana golongan kaya akan keluarkan semua harta untuk diinfakkan; golongan yang tidak pernah baca Al Quran, 24 jam baca quran; golongan yang tak pernah sholat jamaah akan berlari-lari menunaikan sholat secara  berjamaah, tapi sayangnya semuanya sudah tidak berguna lagi.

Kenapa kita tidur saat Allah memanggil? 
Tapi kita sanggup menahan kantuk saat menonton film selama 3 jam?

Kenapa kita bosan saat baca Al Qur'an? 
Melainkan kita lebih rela membaca timeline twitter, wall facebook, novel atau buku lain?

Kenapa kita senang sekali mengabaikan pesan dari Allah? 
Tapi kita sanggup memforward pesan yang aneh-aneh?

Kenapa masjid semakin kecil? 
Tapi bar dan club semakin besar?

Kenapa kita lebih sangat senang menyembah artis? 
Tapi sangat susah untuk menemui ALLAH? 

Pikirkan itu!!

Mar 16, 2015

Isak Tangis Sang Kakek Dalam Tilawah

Dalam kesehariannya menjual balon mainan anak-anak, ditengah kecepeannya dia berhenti. Usianya yang renta, 85 tahunan bukanlah usia yang lagi pas untuk bekerja. Tetapi dia menjaga kemuliaan dirinya untuk tetap bekerja tanpa berharap uluran belas kasih dari siapapun. Bahkan dari anaknya.

Ditengah dia melepas lelah, kerasnya kehidupan yang tak mengampuni siapapun yang salah, dunia yang semakin hari semakin parah. Sang Kakek mengeluarkan Al Qur'an sakunya dan terdengarlah suaranya yang merintih melafalkan ayat demi ayat Al Qur'an yang mulia ini. Sang Kakek tak perlu kacamata walaupun mungkin dia membutuhkannya karena faktor usia. Dia membaca dengan fasih bahkan sangat fasih.

Sang kakek mengusap matanya, dia menangis, dia menangis bukan karena perihnya hidup. Bukan karena masa muda yang dibuang sia-sia. Tapi sang kakek membaca Al Qur'an sekaligus membaca terjemahannya yang berbunyi
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا} [الكهف : 110
"Katakanlah : Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Rabb kamu itu adalah Tuhan yang esa. "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya."
Bagian ayat inilah yang membuat sang kakek penjual mainan anak ini menangis. Apakah jasad yang hina ini bisa bertemu dengan Allah, berkumpul dengan para Nabi dan Rasul di satu syurga yang sama. Masya Allah.

Wahai Anak Muda...
Tidakkah Kalian Malu pada sang kakek ini?
Tidakkah usia mudamu melakukan sesuatu dengan berharap kehidupan akhirat dan berjumpaan dengan Allah ta'ala semata? 
ALLAHU AKBAR  Walillahilhamd




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Bacalah Al Qur'an...!!!

ﺍﻟﺒﻴﺖ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻘﺮﺃ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺗﺤﻀﺮﻩ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜة ﻭﺗﺨﺮﺝ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻭﻳﺘﺴﻊ ﺑﺄﻫﻠﻪ ﻭﻳﻜﺜﺮ ﺧﻴﺮﻩ ،
"Rumah yang dibacakan Al Quran di dalamnya akan didatangi oleh para malaikat, ditinggalkan oleh syaithan, penghuninya akan merasa luas dan banyak kebaikan dan keberkahan di dalamnya".
Allahu Akbar...
Pernahkan engkau melihat suasana bahagia seperti ini di dalam rumah kita? 

Irilah kepada keluarga yang mampu menjadikan rumahnya sebagai miniatur dari Jannah, di dalamnya hanya ada kedamaian, para penghuninya saling nasehat menasehati di dalam kebaikan, sangat jauh dari cekcok serta kata-kata yang tak menyesakkan. Di dalamnya turut hadir para malaikat yang senantiasa mendoakan pada kebaikan, serta menaungi para penghuninya dengan berbagai ketenangan.

Rumah yang di dalamnya senantiasa dibacakan Al Quran, akan pergi segala keburukan darinya, kesempitan akan digantikan dengan kelapangan, kesedihan tidak akan betah lama di dalamnya karena tercurahnya kebahagiaan, dan kebahagiaan terbesar yang dimilikinya adalah manakala keberkahan Allah turun dan dilimpahkan di dalam rumah tersebut.

Aduhai, tidakkah pemilik telinga mendengarkan berita gembira ini?
Tidakkah pemilik mata mampu melihat kebahagiaan ini?
Belumkah pemilik hati merasa iri dengan segala kehidupan ini?
~Satria~




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Perumpamaan [Tafsir QS Al-Baqarah : 26]

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ
"Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik."
Tafsiran ayat 26
Berkata Saddi dalam tafsirnya, dari Ibnu Mas'ud, dari sejumlah sahabat : ketika Allah menjadikan dua perumpamaan ini bagi orang munafik (lihat QS.Al-Baqarah : 17-19), berkatalah orang munafik, "Allah-lah yang maha tinggi dan maha besar dengan perumpamaan ini." Maka Allah menurunkan ayat ini hingga akhir ayat (هُمُ الْخَاسِرُون) ~maksudnya QS Al-Baqarah : 26 - 27~

Dari Ma'mar, dari Qotadah : ketika Allah menyebutkan laba-laba dan lalat sebagai perumpamaan, berkatalah orang-orang musyrik, "Apa hubungannya antara laba-laba dan lalat?" Maka Allah menurunkan ayat (إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا)

Dari Said, dari Qotadah : sesungguhnya Allah tidak segan menyebutkan sesuatu demi kebenaran, baik itu kecil maupun besar. Dan ketika Allah menyebutkan lalat dan laba-laba dalam kitab-Nya, berkatalah orang sesat, "Apa maksud Allah menyebutkan hal ini?!" Maka Allah menurunkan ayat (إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا)

Dari Rabi' bin Anas : ini perumpamaan yang Allah jadikan untuk menggambarkan dunia. Karena nyamuk akan tetap hidup ketika lapar dan apa bila telah kenyang maka dia akan mati. 
Begitu juga halnya bagi orang-orang yang Allah tujukan perumpamaan ini untuk mereka, apabila jiwa mereka telah dipenuhi kesenangan dunia, maka disitu Allah akan mencabut segalanya dan mengazab mereka. Allah berfirman, 
"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa"
(QS. Al-An'am : 44)
Ada perbedaan mengenai asbabunnuzul, dan Ibnu Jarir lebih memilih apa yang telah diriwayatkan Saddi karena lebih menyentuh dengan isi surat. 


Makna ayat
Maksud dari (إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي) >>> (Sesungguhnya Allah tiada segan) 
adalah tidak enggan dan takut membuat perumpamaan apapun itu, baik kecil maupun besar.

Sedangkan makna (فَمَا فَوْقَهَا) >>> (atau yang lebih rendah dari itu)
ada dua pendapat disini, 
  1. Sesuatu yang lebih rendah dan lebih tercela (dari nyamuk). Ini pendapat Al-Kisai dan Abu Ubaid.
  2. Menunjukkan sesuatu yang lebih besar (dari nyamuk). Qotadah dan Ibnu Jarir lebih memilih pendapat ini, atas dasar tidak ada yang lebih hina dan rendah dari nyamuk.

(إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا) >>> (Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu)
Mujahid berkata terkait firman Allah diatas, baik perumpamaan itu kecil maupun besar, orang mukmin akan mengimaninya dan menyakini bahwasanya itu adalah kebenaran dari Allah dan Allah akan memberi hidayah dengannya.

(فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ) >>> (Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka)
Menurut Qotadah, mereka adalah orang-orang yang mengetahui bahwasanya perumpamaan itu merupakan Kalamullah.

(وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا) >>> (tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?)
Abu Aliyah berkata : Allah berfirman dalam QS Muddasir : 31.
"....supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya...."
Dari Ibnu Mas'ud dari banyak sahabat: maksud (يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا) >>> (dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah)
yakni orang munafik, maka Allah menambah kesesatan mereka disamping kesesatan mereka yang telah ada. Sebab kedustaan mereka dengan apa yang mereka ketahui dari perkara yang haq dari Allah.

Sedangkan maksud (وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا) >>> (Dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk)
yakni orang mukmin yang dengan perumpamaan itu dapat menambah hidayah dan keimanan mereka disamping keimanan yang telah ada di hati mereka.

Abu Aliyah berkata maksud ayat (وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ) >>> (Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik) adalah ahli nifaq. 
Sedangkan menurut Mujahid dari Ibnu Abbas adalah orang kafir yang mengetahui adanya Allah tetapi mereka kufur.
Menurut Qotadah mereka adalah orang fasik, maka Allah menyesetkan mereka karena kefasikan mereka.
Menurut Mus'ab bin Sad dari sad, yang dimaksud ayat adalah khawarij.

Allah tidak pernah mengganggap remeh susuatu hal untuk dijadikan perumpamaan, walaupun dari sesuatu yang hina dan rendah seperti nyamuk. Sebagaimana Allah tidak enggan menciptakannya maka Allah tidakkan enggan menjadikannya sebuah perumpamaan.

Dalam Al-qur'an terdapat banyak sekali ayat yang berisikan perumpamaan, diantaranya, [QS Al-hajj : 73] [QS Al-Ankabut : 41] [QS Ibrahim : 24-27] [QS An-Nahl : 75-76] [Qs Ar-Rum : 29] [QS Az-Zumar : 29] dan banyak lagi.

Kaum salaf berkata: "jika kami mendengar perumpamaan dalam Al-Qur'an dan kami tidak dapat memahaminya maka kami akan menangis, Karena Allah telah berfirman 
"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu."
(QS. Al-ankabut : 43)
-Tafsir al-qur'an al-azhim-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 15, 2015

Renungan : Tidakkah Kamu Malu?

Jangan pernah berhenti untuk merayu diri agar segera bangkit. 
Tanyakanlah pada diri kita:
  1. Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang membaca suratnya bahkan berulang-ulang?  Mengapa kamu begitu berat dan enggan untuk hidup dengan wahyu Allah Swt? Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al Qur’an, dengan apa lagi?
  2. Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah Saw menjamin bahwa Allah Swt akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al Qur’an, mulai dari sakaratul maut hingga saat melewati shirat.
  3. Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Dengan nikmat-Nya yang demikian banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah kamu bersyukur kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak membaca Al Qur’an?
  4. Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah Swt dan Rasulnya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak membaca Al Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak. Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.
  5. Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa Al Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al Qur’an selalu menjauh dari dirimu.
  6. Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang tentang dirimu? 


Ungkapan di atas adalah perenungan terhadap diri sendiri dalam urusan dunia dan akhirat, hal yang dianjurkan oleh Allah Swt agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna. 
Semoga kita selalu bersemangat untuk berinteraksi dengan Al Qur'an satu juz per hari. Moga Allah mudahkan urusan kita semua. Aamiin.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Wasiat Abu Bakar yang Meledakkan Tangis Umar

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai sosok yang gagah, kuat, dan tangguh. Namun, hari itu tangisnya meledak saat utusan Aisyah radhiyallahu ‘anha mengantarkan seorang hamba sahaya dan seekor unta.

Bukan hamba sahaya dan unta itu yang membuat Umar menangis. Tetapi wasiat di baliknya.

Aisyah menceritakan, sebelum Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu wafat, ia menyampaikan wasiat kepadanya. “Aisyah… tolong periksa seluruh hartaku. Jika ada yang bertambah setelah aku menjabat sebagai khalifah, kembalikanlah kepada negara melalui khalifah yang terpilih setelahku,” kata Abu Bakar menjelang detik-detik wafatnya.

Tentu saja Aisyah sedih mendengar wasiat itu. Bukan karena apa-apa, tetapi karena ia merasa akan ditinggal oleh sang ayah. Belum tiga tahun Rasulullah meninggalkannya, kini ia akan ditinggal oleh Abu Bakar. Dan benar. Abu Bakar wafat tak lama setelah itu. Kemudian Aisyah pun memeriksa seluruh harta ayahnya.

“Kami memeriksa seluruh harta Abu Bakar,” kata Aisyah, “tidak ada yang bertambah dari hartanya kecuali unta yang biasa dipergunakan untuk menyirami kebun dan seorang hamba sahaya pengasuh yang menggendong bayinya.”

“Allah merahmati Abu Bakar,” kata Umar sambil sesenggukan, “ia telah menyusahkan orang-orang setelahnya.”

Maksud menyusahkan orang-orang setelahnya adalah membuat khalifah sesudahnya tidak mampu mengungguli Abu Bakar, bahkan sulit mencontoh kualitasnya.

Seperti diketahui, Umar sangat terpacu dengan amal-amal Abu Bakar. Sahabat bergelar Ash Shidiq itu selalu mengunggulinya dalam berbagai amal. Ketika dimutaba’ahi Rasulullah sehabis shalat Subuh, misalnya. Rasulullah bertanya kepada jamaah siapa yang tadi malam qiyamul lail, siapa yang tadi malam khatam Al Qur’an, siapa yang pagi ini sudah berinfaq dan siapa yang sudah menjenguk orang sakit, ternyata hanya Abu Bakar yang mengacungkan tangan terus-menerus. Sahabat lain ada yang mengacungkan tangan sesekali, lalu menurunkan tangannya sesekali. Sedangkan Abu Bakar, ia telah melakukan seluruh amal yang disebutkan Rasulullah itu.

Pernah pula Umar ingin mengungguli Abu Bakar dalam hal infaq. Maka saat menjelang perang Tabuk, ia menginfakkan separuh hartanya. Baru saja Umar selesai, Abu Bakar datang dengan menginfakkan seluruh hartanya. Umar hanya bisa berkomentar, “Sungguh, aku tak pernah bisa mengungguli Abu Bakar.”

Dan kini… Abu Bakar mencontohkan kebijakan yang luar biasa. Benar-benar anti-korupsi dan zuhud tingkat tinggi. Ia tidak mau mendapatkan kelebihan harta apapun selama menjabat sebagai khalifah. Padahal Abu Bakar adalah juga seorang saudagar yang sangat wajar jika hartanya bertambah. Ia tak mungkin korupsi. Di kemudian hari, Umar berhasil mencontoh langkah zuhud Abu Bakar ini.

Adakah pemimpin zaman ini yang bisa mencontoh Abu Bakar dan Umar? 
-Muchlisin BK / bersamadakwah-




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Renungan : Nafkah Suami Untuk Istri

Harta istri adalah harta milik istri, baik yang dimiliki sejak sebelum menikah, atau pun setelah menikah. Harta istri setelah menikah yang terutama adalah dari suami dalam bentuk nafaqah (nafkah), selain juga mungkin bila istri itu bekerja atau melakukan usaha yang bersifat bisnis.

Khusus masalah nafkah, sebenarnya nafkah sendiri merupakan kewajiban suami dalam bentuk harta benda untuk diberikan kepada istri. Segala kebutuhan hidup istri mulai dari makanan, pakaian dan tempat tinggal, menjadi tanggungan suami. Dengan adanya nafkah inilah kemudian seorang suami memiliki posisi qawam (pemimpin) bagi istrinya, sebagaimana firman Allah SWT:
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka."
(QS. An-Nisa': 34)
Namun yang seringkali terjadi, sebagian kalangan beranggapan bahwa nafkah suami kepada istri adalah biaya kehidupan rumah tangga atau uang belanja saja. Pemandangan sehari-harinya adalah suami pulang membawa amplop gaji, lalu semua diserahkan kepada istrinya.

Cukup atau tidak cukup, pokoknya ya harus cukup. TInggallah si istri pusing tujuh keliling, bagaimana mengatur dan menyusun anggaran belanja rumah tangga. Kalau istri adalah orang yang hemat dan pandai mengatur pemasukan dan pengeluaran, suami tentu senang.

Yang celaka, kalau istri justru kacau balau dalam mengatur keuangan. Alih-alih mengatur keuangan, yang terjadi justru besar pasak dari pada tiang. Ujung-ujungnya, suami yang pusing tujuh keliling mendapati istrinya pandai membelanjakan uang, plus hobi mengambil kredit, aktif di arisan dan berbagai pemborosan lainnnya.

Padahal kalau kita kembalikan kepada aturan asalnya, yang namanya nafkah itu lebih merupakan ‘gaji’ atau honor dari seorang suami kepada istrinya. Sebagaimana ‘uang jajan’ yang diberikan oleh seorang ayah kepada anaknya.

Adapun kebutuhan rumah tangga, baik untuk makan, pakaian, rumah, listrik, air, sampah dan semuanya, sebenarnya di luar dari nafkah suami kepada istri. Kewajiban mengeluarkan semua biaya itu bukan kewajiban istri, melainkan kewajiban suami.

Kalau suami menitipkan amanah kepada istrinya untuk membayarkan semua biaya itu, boleh-boleh saja. Tetapi tetap saja semua biaya itu belum bisa dikatakan sebagai nafkah buat istri. Sebab yang namanya nafkah buat istri adalah harta yang sepenuhnya menjadi milik istri.

Kira-kira persis dengan nafkah di awal sebelum terjadinya akad nikah, yaitu mahar atau maskawin. Kita tahu bahwa sebuah pernikahan diawali dengan pemberian mahar atau maskawin. Dan kita tahu bahwa mahar itu setelah diserahkan akan menjadi sepenuhnya milik istri.

Suami sudah tidak boleh lagi meminta mahar itu, karena mahar itu statusnya sudah jadi milik istri. Kalau seandainya istri dengan murah hati lalu memberi sebagian atau seluruhnya harta mahar yang sudah 100% menjadi miliknya kepada suaminya, itu terserah kepada dirinya. Tapi yang harus dipastikan adalah bahwa mahar itu milik istri.

Sekarang bagaimana dengan nafkah buat istri?
Kalau kita mau sedikit cermat, sebenarnya dan pada hakikatnya, yang disebut dengan nafkah buat istri adalah harta yang sepenuhnya diberikan buat istri. Dan kalau sudah menjadi harta milik istri, maka istri tidak punya kewajiban untuk membiayai penyelenggaraan rumah tangga. Nafkah itu ‘bersih’ menjadi hak istri, di luar biaya makan, pakaian, bayar kontrakan rumah dan semua kebutuhan sebuah rumah tangga.

Mungkin Anda heran, kok segitunya ya? Kok matre’ banget sih konsep seorang istri dalam Islam?
Jangan heran dulu, kalau kita selama ini melihat para istri tidak menuntut nafkah ‘eksklusif’ yang menjadi haknya, jawabnya adalah karena para istri di negeri kita ini umumnya telah dididik secara baik dan ditekankan untuk punya sifat qana’ah. Saking mantabnya penanaman sifat qana’ah itu dalam pola pendidikan rumah tangga kita, sampai-sampai mereka, para istri itu, justru tidak tahu hak-haknya. Sehingga mereka sama sekali tidak mengotak-atik hak-haknya.

Memandang fenomena ini, salah seorang murid di pengajian nyeletuk, “Wah, ustadz, kalau begitu hal ini perlu tetap kita rahasiakan. Jangan sampai istri-istri kita sampai tahu kalau mereka punya hak nafkah seperti itu.”

Yang lain menimpali, “Setuju ustadz, kalau sampai istri-istri kita tahu bahwa mereka punya hak seperti itu, kita juga ntar yang repot nih ustadz. Jangan-jangan nanti mereka tidak mau masak, ngepel, nyapu, ngurus rumah dan lainnya, sebab mereka bilang bahwa itu kan tugas dan kewajiban suami. Wah bisa rusak nih kita-kita, ustadz.”

Yang lain lagi menambahi, “Benar ustadz, bini ane malahan sudah tahu tuh masalah ini. Itu semua kesalahan ane juga sih awalnya. Sebab bini ane tuh, ane suruh kuliah di Ma’had A-Hikmah di Jalan Bangka. Rupanya materi pelajarannya memang sama ame nyang ustadz bilang sekarang ini. Cuman bini ane emang nggak tiap hari sih begitu, kalo lagi angot doang.”

“Tapi kalo lagi angot, ustadz, bah, ane jadi repot sendiri. Tuh bini kagak mao masak, ane juga nyang musti masak. Juga kagak mau nyuci baju, ya udah terpaksa ane yang nyuciin baju semua anggota keluarga. Wii, pokoknya ane jadi pusing sendiri karena punya bini ngarti syariah.”

Menjawab ‘keluhan’ para suami yang selama ini sudah terlanjur menikmati ketidak-tahuan para istri atas hak-haknya, kami hanya mengatakan bahwa sebenarnya kita sebagai suami tidak perlu takut. Sebab aturan ini datangnya dari Allah juga. Tidak mungkin Allah berlaku berat sebelah. Sebab Allah SWT selain menyebutkan tentang hak-hak seorang istri atas nafkah ‘eksklusif’, juga menyebutkan tentang kewajiban seorang istri kepada suami. Kewajiban untuk mentaati suami yang boleh dibilang bisa melebihi kewajibannya kepada orang tuanya sendiri.

Padahal kalau dipikir-pikir, seorang anak perempuan yang kita nikahi itu sejak kecil telah dibiayai oleh kedua orang tuanya. Pastilah orang tua itu sudah keluar biaya besar sampai anak perawannya siap dinikahi. Lalu tiba-tiba kita datang melamar si anak perawan itu begitu saja, bahkan kadang maskawinnya cuma seperangkat alat sholat tidak lebih dari nilai seratus ribu perak.

Sudah begitu, dia diwajibkan mengerjakan semua pekerjaan kasar layaknya seorang pembantu rumah tangga, mulai dari subuh sudah bangun dan memulai semua kegiatan, urusan anak-anak kita serahkan kepada mereka semua, sampai urusan genteng bocor. Sudah capek kerja seharian, eh malamnya masih pula ‘dipakai’ oleh para suaminya.

Jadi sebenarnya wajar dan masuk akal kalau untuk para istri ada nafkah ‘eksklusif’ di mana mereka dapat hak atas ‘honor’ atau gaji dari semua jasa yang sudah mereka lakukan sehari-hari, di mana uang itu memang sepenuhnya milik istri. Suami tidak bisa meminta dari uang itu untuk bayar listrik, kontrakan, uang sekolah anak, atau keperluan lainnya.

Dan kalau istri itu pandai menabung, anggaplah tiap bulan istri menerima ‘gaji’ sebesar Rp 1 juta yang utuh tidak diotak-atik, maka pada usia 20 tahun perkawinan, istri sudah punya harta yang lumayan 20 x 12 = 240 juta rupiah. Lumayan kan?

Nah harta itu milik istri 100%, karena itu adalah nafkah dari suami. Kalau suami meninggal dunia dan ada pembagian harta warisan, harta itu tidak boleh ikut dibagi waris. Karena harta itu bukan harta milik suami, tapi harta milik istri sepenuhnya. Bahkan istri malah mendapat bagian harta dari milik almarhum suaminya lewat pembagian waris.

Semoga Bermanfaat.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 13, 2015

Delapan Keutamaan Membaca Al-Qur'an

Lembaga Qiroati Pusat - Siapa pun yang berinteraksi dengan Al-Qur'an dengan baik pasti akan mendapatkan pahala yang besar dan balasan yang berlipat-lipat. Orang yang membaca, memahami, menghafalkan, dan mengamalkan isinya akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT.

Berikut ini beberapa keutamaan membaca Alquran. 
  • Pertama, menjadi perniagaan yang tidak akan merugi. Allah berfirman: "Sesungguhnya orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi." (QS al-Fathir: 29).
  • Kedua, merupakan amal yang terbaik. Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." ( HR Bukhari).
  • Ketiga, mendapat derajat atau kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah bersabda: "Orang yang membaca Al-Qur'an dengan mahir akan bersama-sama malaikat yang mulia lagi taat. (HR Bukhari dan Muslim).
  • Keempat, mendapat sakinah (ketenangan jiwa) dan rahmat (kasih sayang). Rasulullah bersabda: "Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam satu rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Al-Qur'an kecuali turun atas mereka sakinah dan rahmat serta diliputi oleh malaikat serta Allah sebut di hadapan malaikat (sisi-Nya)." (HR Muslim).
  • Kelima, mendapat sebaik-baik anugerah Allah SWT. Rasulullah bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman: "Barang siapa yang sibuk dengan Al-Qur'an dan dzikir dari meminta-Ku, aku akan memberikan kepadanya sebaik-baik anugerah-Ku. Keutamaan kalamullah (Al-Qur'an) atas kalam-kalam selainnya seperti keutamaan Allah atas semua makhluk-Nya." (HR Tirmidzi)
  • Keenam, seperti buah utrujah yang wangi dan lezat. Rasulullah bersabda: "Perumpamaan orang beriman yang membaca Al-Qur'an seperti buah utrujah; aromanya wangi dan rasanya lezat, perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Al-Qur'an itu seperti kurma; tidak beraroma tapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur'an itu seperti buah raihanah, aromanya wangi tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur'an seperti buah handhalah (semacam labu) ; tidak beraroma dan rasanya pahit." (HR Bukhari dan Muslim).
  • Ketujuh, mendapat kebaikan berlipat ganda. Rasulullah bersabda: "Barang siapa membaca satu huruf dari kitabullah baginya satu kebaikan. Satu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR Tirmidzi).
  • Kedelapan, memberikan syafaat ketika hari kiamat kelak. Rasulullah bersabda: " Bacalah Al-Qur'an, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan memberikan syafaat kepada pembacanya." (HR Muslim).
Dengan memahami beberapa keutamaan membaca Al-Qur'an di atas, semoga kita terinspirasi dan bersemangat dalam menjaga rutinitas kita dalam membaca Alquran. Semoga Allah merahmati kita semua dengan wasilah Al-Qur'an yang kita baca.




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Mar 12, 2015

Bersama Dalam Dakwah

Dalam dakwah tak mengenal kata lelah
Dalam dakwah tak ada kata menyerah
Dalam dakwah jauhi sikap amarah
Dan dalam dakwah berharap kan istiqamah

Hidup bagaikan petualangan
Manfaatkan setiap kesempatan yang dihadirkan
Jangan terperdaya akan pesona keindahan
Agar tak lalai lakukan kewajiban

Setiap episode yang berlalu tak mesti sama
Terkadang ada warna yang berbeda hadir di depan mata
Bersiap siaga menjadi tugas kita
Meski kadang tak nyaman hadir dirasa

Belajar mengerti dan memahami
Saling mengisi dan memotivasi
Beginilah tabiat jalan dakwah ini
Meneladani kisah hidup para Nabi

Sudahkah kita banyak berbuat untuk diin yang mulia ini ?
Sudahkah kita relakan diri untuk mengabdi pada Ilahi ?

Atau...
Tersibukkan oleh angan semata
Bercitakan untuk kejar dunia
Hingga lupa pada akhirat

Kita berjalan berbekalkan iman
Kita melangkah untuk mengukir peradaban
Kita beramal untuk kehidupan yang berkekalan

Di jalan dakwah kita citakan syahadah
Di jalan dakwah kita harapkan berkah
Di jalan dakwah semoga menggapai Jannah
“Jika kau telah berada di jalan Allah, melesatlah dengan kencang. Jika sulit, maka tetaplah berlari meski kecil langkahmu. Bila engkau lelah, berjalanlah menghela lapang. Dan bila semua itu tak mampu kau lakukan, tetaplah maju meski terus merangkak nyalang, dan jangan pernah sekalipun berbalik ke belakang.”
(Asy Syafi’i)
~Rochma Yulika~




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee