Showing posts with label Wedding. Show all posts
Showing posts with label Wedding. Show all posts

Oct 9, 2014

Itulah Mengapa Allah Menikahkanmu Dengannya

Mungkin suamimu tak pandai berkata
Apalagi merayu dengan romantisme karya sastra
Tapi mungkin dengan cara itulah Allah menjaga lisannya
Menjauhkannya dari fitnah dunia yang tak halal baginya

Mungkin suamimu tak pandai berkata
Tapi heningnya menahan kita banyak bicara
Memutus rantai kalimat sanggahan yang lahirkan perkara
Sehingga keseimbangan suasana lebih terjaga

Andai saja Allah ciptakan sebaliknya
Mungkin rumahmu bagai arena tarung laga
Ah, itulah mengapa Allah menikahkanmu dengannya

Mungkin istrimu tak berparas mempesona
Apalagi secantik selebritis di warta berita
Tapi mungkin lisannya selalu berucap kata mutiara
Yang terpancar dari jiwa yang terjaga

Andai saja Allah menciptakan sebaliknya
Mungkin hatimu tak tenang saat jauh darinya
Ah, itulah mengapa Allah menikahkanmu dengannya

Mungkin suamimu bukanlah saudagar kaya
Yang membawa pulang limpahan laba hasil usaha
Namun meskipun besarannya begitu sederhana
Mungkin ia selalu menjaga kehalalan apa yang dibawa

Mungkin suamimu bukanlah pejabat yang bertahta
Yang dihormati dan dipuja bawahannya
Tapi mungkin dibalik kedudukannya yang biasa
Ia mampu menjadi imam bagi keluarga

Andai saja Allah menciptakan sebaliknya
Mungkin belum tentu ia miliki derajat takwa
Ah, itulah mengapa Allah menikahkanmu dengannya

Mungkin istrimu bukanlah koki istimewa
Yang masakannya selezat pujasera
Tapi mungkin ia pandai mendidik buah hatinya
Memahat pribadi yang berkarakter mulia

Mungkin istrimu bukanlah koki istimewa
Yang terkadang masakannya itu-itu saja
Tapi mungkin ia pandai mengatur alokasi harta
Sehingga pemberianmu tak terhambur percuma

Andai saja Allah menciptakan sebaliknya
Mungkin kecintaanmu akan terlalu berlebih padanya
Melebihi cintamu pada Allah sang pemberi karunia
Ah, itulah mengapa Allah menikahkanmu dengannya




shared at WhatsApp family ODOJ1550
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Aug 13, 2014

Prosesi Pernikahan Islami

Materi ini disampaikan oleh ibu Etty Sunanti, owner islamic wedding Afada selama 17 tahun. 

Indonesia merupakan negara dimana penduduknya mayoritas muslim. Sayangnya pernikahan yang benar-benar mengedepankan cara islami dan sunnah Rasul masih belum banyak. Untuk itu, penting sekali bagi kita calon pengantin atau pun orang tua memahami bagaimana proses pernikahan itu berlangsung.

Tata cara pernikahan dalam islam hanya ada 2 , yakni :

  • AKAD NIKAH
Adalah proses ijab kabul, pengikraran janji sehingga apa yang sebelumnya haram menjadi halal. Disini harus ada wali, saksi dan mahar
Prosesi yang biasanya ada di ijab kabul :

  1. Pembukaan
  2. Tilawah
  3. Khutbah nikah, yg merupakan rukun nikah
  4. Pengucapan ijab kabul oleh wali atau saudara daru garis keturunan ayah
  5. Penyerahan mahar
  6. Penandatanganan buku nikah
  7. Optional.. seperti makan2,dll

Aug 11, 2014

Mengenal Gaya Komunikasi dan Kebutuhan Emosional Pada Pria

Materi kopdar keempat dari komunitas to be wonderful wife pada tanggal 6 Juli 2014 yang lalu disampaikan oleh Adri Suyanto, seorang trainer dan ayah dari dua orang putri. Materi ini sbnrnya terinspirasi dari buku "Men Are From Mars, Women Are From Venus"

Mengapa materi ini sangat penting dan wajib diketahui oleh semua (calon) istri?

Yup, karena secara psikologis kebutuhan seorang laki-laki berbeda dengan wanita. Karena cara mereka berkomunikasi berbeda dengan cara wanita berkomunikasi.
Karena kita sebagai sosok kaum hawa seringkali justru bersikap dan menganggap sama apa yang mereka rasakan dengan apa yang kita rasakan, menganggap sama apa yang mereka butuhkan dengan apa yang kita butuhkan, menganggap sama bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah dengan bagaimana cara kita menyelesaikan masalah. Menganggap sama inilah yang justru akhirnya membangun jurang yang semakin lebar antara suami dan istri. Itulah mengapa penting bagi kita untuk memahami materi ini.

Ada beberapa hal yang tidak disebutkan dalam buku ini. Pada dasarnya tatacara komunikasi juga dipengaruhi oleh lingkungan dan karakter. Kalau dalam pelajaran biologi kita dulu ada istilah fenotif = genotif + lingkungan. Ini juga berlaku dalam hubungan dalam rumah tangga.
Misal secara psikologis tentu orang-orang dengan tipe sanguinis akan berbeda dengan mereka yang bertipe melankolis, koleris, dan plegmatis.
Orang sanguinis seperti saya adalah tipe yang hidup di masa kini, sedangkan istri saya bertipe melankolis yang bias hidup di masa yang akan datang. Sehingga lebih sering ketika berdiskusi saya bisa mengandalkan argumen-argumen beliau yang memang bisa berpikir jangka panjang dan analitis. Kalau seorang suami tidak menyadari perbedaan ini mungkin yang muncul adalah perasaan selalu dikalahkan oleh istri karena lebih sering berargumen dan beranalisis dalam diskusi. Padahal ini sebuah keuntungan tersendiri. Bisa menutupi kekurangan kita dengan kelebihannya. Begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu tak ada salahnya saat kita telah memiliki pendamping hidup nanti bisa melakukan tes personality ini. Agar kita tahu apa dan bagaimana sih tipe kepribadian kita dan suami kita. Agar kita faham apa sih kelemahan pada tipe kita dan suami kita. Mengetahui dan memahami inilah salah satu upaya untuk menghindari konflik yg berlebihan. Bisa searching kok tentang tes dan keterangan tipe-tipe personality ini.
Sebenarnya tes kepribadian jenis ini juga dipengaruhi lingkungan. Ada tes lain sebenarnya yang bisa kita pakai untuk melihat jenis kepribadian kita secara genetik dan ini ilmiah. Tes stifin. Kita akan tahu apakah kita masuk kategori orang sensing, thinking, intuiting, feeling, ataukah insting. Saat kita tahu maka kita bisa tepat cara mengarahkan dan memotivasi. Kebetulan saya tipe intuiting ekstrovert dan istri saya intuiting introvert.

Hal lain yang tidak disebutkan di buku ini dan perlu kita pahami adalah ternyata selain tipe kepribadian mempengaruhi karakter seseorang, lingkungan juga mengambil peran penting dalam hal ini.
Bagi seorang suami seperti saya yang lahir dan besar di kota kecil mungkin memiliki lingkungan yang tidak sama dengan istri yang lahir dan besar di kota besar. Jika kami terbiasa berbicara dengan volume tinggi, sebaliknya dengan istri. Jika di daerah saya cara "memuji" anak kecil dengan ungkapan misalnya : wah arek koq elek, irunge pesek.. (Wah anak koq jelek, hidungnya pesek). Tapi bagi istri saya yg mendengar ungkapan ini di awal tentu akan sangat kaget dan tersinggung. Yup, ternyata lingkungan juga berpengaruh dalam pola interaksi suami-istri. Dan saling bercerita, menyampaikan apa yg disuka dan tidak disuka dari kebiasaan pasangan hidup kita bisa membantu proses adaptasi semakin mudah.

Kembali pada buku "men are from mars, women are from venus". Ada beberapa bab yang coba mengupas tentang perbedaan umum pada seorang pria dan wanita. Apa saja dan bagaimana berkompromi dengan perbedaan itu?

A. Perbedaan Nilai (Value)
Perempuan : memberi  atau menawarkan petunjuk/nasehat tanpa diminta
Bagi kaum perempuan yang lebih sering menyenangi pola kedekatan hubungan. Sering ngobrol dengan teman-teman kita, kadang saling curhat dan menceritakan masalah atau kegalauan hati, lalu kawan kitapun memberikan nasihat meski tanpa kita minta. Dan kita fine-fine aja. Malah sebaliknya: senang. Betul??
Padahal, pola ini tidak berlaku bagi para laki-laki! Mereka akan merasa tidak dihargai saat perempuan melakukan hal itu. Karena secara naluri, fokus laki-laki ada pada proses keterampilan dan  penyelesaian masalah. Mereka tidak akan pernah bertanya dan minta solusi sampai ia merasa paling buntu. Karena tantangan sekaligus menjadi prestasi bagi mereka saat bisa menyelesaikan masalah. Mereka akan meminta masukan solusi saat mereka BUTUH dan mereka akan  bertanya/mengungkapkannya.
Laki-laki : menawarkan penyelesaian, tanpa menghiraukan perasaan.Karena tipe umum laki-laki yang tidak akan bertanya kecuali sudah buntu dan merasa perlu meminta bantuan, maka ketika ia dapati seorang istri sedang menyampaikan keluh kesahnya hampir dipastikan ia akan memberi solusi. Karena ia pikir kondisinya sama. Padahal biasanya perempuan menceritakan masalahnya lebih sering hanya untuk minta didengarkan, bukan untuk dikritik dengan masukan yang kadang kurang menghiraukan perasaan.

Aug 9, 2014

Fase Pernikahan

Hari ini Vee mau berbagi tentang serba serbi pernikahan yang pernah dibagikan di kopdar ketiga komunitas to be Wonderful Wife yang dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 2014 oleh dr. Hajar, Sp.Rad (K), Ibu dari lima orang putra/i dalam 26 tahun pernikahannya.
Let's read, whats the story about..
^^

Pasti kita sudah sangat familiar dengan salah satu ayat tentang pernikahan yang satu ini, ya, QS : Ar rum 21
" Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir "
Allah sudah menentukan takdir masing-masing hambaNya saat kita masih berusia 120 hari dalam kandungan ibu. Hidup, mati, rizki dan jodoh. Oleh karena itu tak ada alasan untuk khawatir masalah jodoh. Pasti bertemu. Jika tidak sekarang, berarti nanti. Jika tidak di dunia, berarti pasti bertemu di akhirat. Ini masalah keimanan.
Dan ternyata konsep jodoh ini pun bisa dianalisa dari sisi medis. Pernah ada penelittian terhadap pasangan-pasangan suami istri yang telah menikah. Ternyata bahkan sampai struktur kecil sel dan DNA pun ditakdirkan antara suami istri. Strukturnya saling melengkapi. Hal ini tidak terjadi pada pasangan yang meski tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan.

Aug 8, 2014

Menata Niat & Menjaga Proses

Hari ini Vee mau ngebagiin materi yang disampaikan oleh dr. Anna Purnamasari pada saat kopdar kedua Komunitas to be Wonderful wife yang lalu..
Let's read it slowly..
^^

Ada tiga hal yang membuat motivasi menikah semakin kuat. Apa sajakah itu?
  • Pertama, menikah adalah BAGIAN dari meraih CITA-CITA. Jadi, menikah itu BUKAN cita-cita.
  • Kedua, POTENSI. Baik potensi fisik, ruhiyah, maupun pemikiran.
  • Ketiga, adanya PELUANG.
Jika terdapat ketiga hal tersebut, tentunya motivasi menikah kita semakin tinggi.

Lalu, mengapa sih kita harus menikah?
Kita ingat, manusia diciptakan Allah di dunia memiliki 2 tugas utama :
  1. Untuk beribadah sebagaimana terdapat dalam QS. 51 : 56. Salah satu ibadah ialah dengan menikah.
  2. Manusia diciptakan menjadi khalifah di muka bumi. Kita diberi tugas untuk memanfaatkan dan merawat bumi ini.
Coba kita lihat fenomena saat ini. Banyak anak-anak yang terlahir autis, hiperaktif. 
Autis adalah anak yang sibuk dengan dunianya sendiri. Ia melakukan repetitive behaviour yang tidak bertujuan. Anak autis penyebabnya ialah terdapat banyak logam berat di dalam tubuh. Fenomena semacam ini merupakan akibat dari manusia kurang menjaga diri dan lingkungannya.

Dengan menikah, manusia bisa mengoptimalisasi tugasnya beribadah sekaligus menjadi khilafah. Menikah tidak hanya sekedar karena usia sudah cukup, ada kecenderungan hati dengan seseorang, dan memang karena harus menikah. Menikah tidak hanya sekedar I LOVE YOU dan YOU LOVE ME. Tidak sesederhana itu! Ada misi yang kita emban di sana.

Lalu, apa sebenarnya fungsi menikah? dr. Anna memaparkan 6 fungsi menikah, yaitu biologis, psikologis, reproduktif, sosial, mengokohkan dakwah dan peradaban, serta mendidik manusia agar lebih berkualitas. Mari kita bahas satu persatu.

Ringan Meminta Maaf

~ DI ANTARA SIFAT WANITA PENDUDUK SURGA : RINGAN MEMINTA MAAF KEPADA SUAMI MESKI MUNGKIN DIA YANG BENAR~
Tidak sedikit di antara wanita yang memiliki sifat angkuh atau merasa tinggi diri di hadapan suaminya. Mungkin karena merasa dirinya juga ikut bekerja dan mencari uang. Bisa juga karena latar belakang keluarga berada, strata pendidikan, status sosial dan lainnya.
Berbeda dengan sifat para wanita calon penghuni surga yang dikabarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Setinggi apapun background atau status duniawi yang dia sandang, tidak membuatnya angkuh dan bersuara lebih tinggi apalagi berkata kasar terhadap suaminya.
Karena di antara ciri dari wanita penduduk surga adalah bersegera minta maaf jika dia merasa melakukan kesalahan kepada suami meski mungkin hanya karena kesalahpahaman suami terhadapnya; dia tidak menunda-nunda meminta maaf atau malah menunggu suami yang agar terlebih dulu meminta maaf kepadanya. Padahal meminta maaf terkadang jauh lebih berat daripada memberi maaf terlebih ketika sebenarnya dialah yang benar dan suaminya lah yang salah paham.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ ....بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟
Maukah aku kabarkan kepada kalian….tentang wanita-wanita kalian penduduk surga?
الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا الَّتِي إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ :
Yaitu wanita yang penyayang (kepada suaminya), yang subur, yang selalu memberikan manfaat kepada suaminya, yang jika suaminya marah maka iapun mendatangi suaminya lantas meletakkan tangannya di tangan suaminya seraya berkata,
لاَ أَذُوْقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى
"Aku tidak bisa memejamkan mata (tidur tenang) hingga engkau ridho kepadaku"
(Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Sahihah no. 287)




shared at WhatsApp family 2b WOW chapter 22
re-shared at lovelyboutcrazy.blogspot.com by Vee

Aug 7, 2014

Persiapan Menuju Pernikahan Part 2

Postingan kali ini lanjutan dari materi sebelumnya yang disampaikan oleh mbak Euis Kurniawati pada kopdar #1 tanggal 25 Mei 2014.
Yuks mari menyimak lanjutannya..
^^

Sebelumnya kita sudah bahas sekilas tentang persiapan pernikahan yang pertama yaitu persiapan ruhiyah/mental (ada 4 point : ujian dan tanggung jawab. Sabar dan syukur. Mengubah espektasi menjadi obsesi. Menata ketundukan pada semua ketentuan-Nya)

Persiapan pernikahan yang selanjutnya :
2. Ilmiyah Tsaqafiyah / Ilmu pengetahuan.
Ada banyak hal ternyata yang HARUS kita pelajari dan pahami sebelum masuk gerbang pernikahan, bahkan bagi mereka yang telah menikah pun pasti akan merasakan hal yang tidak jauh berbeda, butuh selalu belajar, butuh selalu menimba ilmu. Karena dinamika rumah tangga begitu luas, begitu kompleks, dinamis. Akan lebih membantu jika sebelum menemui masalah kita sudah punya wacana tentang itu dan tahu bagaimana bertindak dengan tepat. Akan berbeda kalau sekedar trial-error. Ibarat kita akan beli sebuah peralatan elektronik misalnya, pasti ada buku petunjuk tentang penggunaannya dan antisipasi apa yang harus dilakukan agar tidak rusak. Begitu pula dengan pernikahan.
Mungkin saat kita berupaya menambah wawasaan kita, misal dengan baca buku / buka link-link artikel, akan ada bersitan pikiran, “Aduh.. Rasanya kok hampa ya, males, kayaknya belum terlalu urgent belajar ini.” Hmm.. Paksakan saja terus baca, yakinkan diri saja, mungkin ndak terasa manfaatnya saat ini, tapi suatu saat nanti info ini PASTI
akan sangat berguna.
Beberapa ilmu yang perlu kita pelajari sebelum menikah, antara lain:

  • Fiqh

Pernah ada cerita seorang kawan yang kebetulan habis ngisi taklim ibu-ibu paruh baya di sebuah kota, banyak dari mereka yang belum ngerti kalau ternyata ada kewajiban mandi junub setelah berhubungan suami istri. Kewajiban itu saja mereka belum paham, apalagi caranya. Padahal rata-rata sudah menikah bukan dalam hitungan bulan. Tapi sudah bertahun-tahun bahkan banyak yang usia pernikahannya diatas 10 tahun. Lalu bagaimana dengan sholatnya selama ini? Wallahu a’lam ..
Jika istri telah bersih dari haidh, apakah boleh berhubungan dengan suami meski ia belum bersuci (mandi besar)? Ini juga masuk bahasan fiqh. Termasuk juga tentang apakah beda status najis pada pipis bayi laki-laki dan bayi perempuan? Fiqh pula yang akan menjawabnya. Dan masih banyak contoh yang lainnya.
In sya Allah pada pertemuan-pertemuan berikutnya akan diundang ustadz yang kompeten untuk membahas masalah ini. 

Aug 6, 2014

Mendidik Anak Wanita

Read it slowly, there is 36 points ya...
  1. Berbahagialah orangtua yang dikaruniakan anak wanita sebab Rasulullah telah menjamin baginya surga jika sabar dan sukses mendidiknya
  2. Barangsiapa yang diuji dengan memiliki anak wanita, lalu ia asuh mereka dengan baik, maka anak itu akan menjadi penghalangnya dari api neraka (HR.Bukhari)
  3. Sebagian orangtua menganggap remeh mendidik anak wanita, bahkan lebih mengunggulkan anak laki. Padahal wanita adalah tiang peradaban dunia
  4. Itulah kenapa, jika gagal mendidik anak wanita berarti kita telah memutus kebaikan untuk generasi masa depan
  5. Gagal mendidik anak wanita berarti kelak kita akan kekurangan ‪ibu baik‬ di masa depan. Dan ujung-ujungnya rusaklah masyarakat
  6. Ajarilah anak wanita kita akan keutamaan menjaga kesucian diri bukan sekedar menjaga keperawanan. Suci dan perawan itu beda!
  7. Perawan terkait dengan faktor fisik, dimana selaput dara tidak robek. Sementara suci terkait dengan faktor akhlak dan sikap
  8. Banyak wanita yang bisa jadi masih perawan tapi tidak suci. Ia membiarkan badannya disentuh, bibirnya dikecup lelaki lain, asal tidak bersetubuh
  9. Sementara banyak juga wanita yang tidak perawan atas sebab kecelakaan, terjatuh, tapi masih suci. Sebab ia tak biarkan lelaki lain menyentuhnya
  10. Quran memberikan gelar wanita terbaik kepada Maryam tersebab ia selalu menjaga kesucian dirinya dalam kata, sikap dan tingkah laku
  11. Maryam tak sembarang gaul dengan lelaki asing. Maka, saat ia dinyatakan hamil, ia tetap suci di mata Allah

Aug 5, 2014

Persiapan Menuju Pernikahan Part 1

Baru-baru ini Vee ada ikutan komunitas baru, namanya To Be Wonderful Wife. Taunya dari temen sih, tentang komunitas dimana saling berbagi tentang menjadi seorang istri yang baik untuk keluarga tercinta. 
Pada 'pertemuan' pertama, kemaren dikasi cerita materi yang disampaikan oleh mbak Euis Kurniawati (Ibu dari dua orang puteri dan merupakan ketua komunitas 2b WOW) pada kopdar#1 tanggal 25 Mei 2014 lalu.
Yukslah kita simak perlahan materi yang sudah diberikan, semoga bermanfaat..
^^

Dalam perbincangan seputar pernikahan, sering kali kita mendengar istilah “menyegerakan atau tergesa-gesa".
Sebenarnya apa yang membedakan 2 kalimat ini? 
Apakah soal berapa lama kita ada dalam masa penantian? 
Ataukah tentang seberapa cepat dan pada usia berapa kita bertemu sang pangeran dan bersanding di pelaminan?

Ternyata tak sepenuhnya demikian.
Menyegerakan dan tergesa-gesa lebih pas jika dimaknai dalam konteksnya seberapa lama persiapan yang kita lakukan untuk menuju gerbang pernikahan. Ia berbicara masalah waktu dan seberapa matang persiapan.

Ustad Salim A. Fillah misalnya, beliau menikah di usia 20 tahun. Tapi sejak usia 15 tahun beliau telah mempersiapkan diri. 5 tahun persiapan. Ini namanya menyegerakan.
Berbeda dengan seseorang yang menikah di usia 30 tahun misalnya, tapi baru melakukan persiapan dengan penuh kesadaran 6 bulan sebelum menikah. Ini masuk kategori tergesa-gesa.

Beberapa tahun lalu, saat saya masih bujang, saya sedang dalam perjalanan ke rumah nenek di kota Batu. Saat itu hampir tengah malam, kami berhenti sejenak dan saya turun dari mobil untuk pesan nasi goreng di seberang alun-alun kota apel ini. Ternyata di sana sudah ada beberapa anak punk yang ngumpul dan ngobrol heboh. Secara fisik penampilan mereka tidak jauh beda dengan anak-anak punk kebanyakan. Rambut di cat warna warni, pakai tindik di beberapa titik, pakaian dominan hitam dan bertampang “sangar”. Bukan berniat mencuri dengar pembicaraan mereka, tapi karena volumenya tidak kecil, mau ndak mau saya juga bisa ikutan dengar.
Ada yang menarik, saat salah satu dari mereka bercerita dengan sangat antusias tentang pacar barunya. Tentang keindahan fisiknya, tentang kemolekan tubuhnya, tentang kelincahan sikapnya. Wow banget deh menurutnya. Tapi tiba-tiba ada salah seorang diantara meraka yang tanya: "emang kamu mau jadikan istri?" Spontan dijawab oleh sang pacar : "ya enggak lah.. Yang bener ajaaa. Aku kalau cari istri ya yang sholehah, minimal jilbaban, biar bisa ndidik anak-anakku ntar!
Mak jlebbbbb..
Saya terkejut dengan jawaban spontannya.
Anak-anak punk yang dalam bayangan saya agak “ngeri dan sesuatu” ternyata mereka juga mendambakan sosok istri yang baik sebagai pendamping hidupnya dan ibu dari anak-anaknya kelak. Masya Allah. Apalagi kita, insya Allah. Pasti juga mendambakan sosok suami yang baik, yang shalih dan bisa menjadi imam bagi kita dan anak-anak kita kelak.

Tapi pertanyaannya adalah :
"Apakah kita sudah mempersiapkannya??? Lalu apa saja yang perlu dipersiapkan?"